Puisi: Gumam Sehari-hari (Karya Wiji Thukul)

Puisi "Gumam Sehari-hari" karya Wiji Thukul menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat yang tinggal di pinggir kota atau daerah industri.
Gumam Sehari-hari

di ujung sana ada pabrik roti
kami beli yang remah-remah
karena murah
di ujung sana ada tempat
penyembelihan sapi
dan kami kebagian bau
kotoran air selokan dan tai
di ujung sana ada perusahaan
daging abon
setiap pagi kami beli kuahnya
dimasak campur sayur

di pinggir jalan
berdiri toko-toko baru
dan macam-macam bangunan
kampung kami di belakangnya
riuh dan berjubel
seperti kutu kere kumal
terus berbiak!

membengkak tak tercegah!

Jagalan, Kalangan-Solo, 29 Januari 1989

Sumber: Aku Ingin Jadi Peluru (2000)

Analisis Puisi:

Puisi "Gumam Sehari-hari" karya Wiji Thukul adalah karya sastra yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat yang tinggal di pinggir kota atau daerah industri.

Gambaran Lingkungan Kota dan Industri: Puisi ini menggambarkan lingkungan sekitar kota yang penuh dengan pabrik roti, tempat penyembelihan sapi, dan perusahaan daging abon. Ini menciptakan gambaran tentang daerah industri yang mungkin kotor dan bau, serta dampak ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat.

Kritik terhadap Kondisi Hidup: Penyair menciptakan gambaran bahwa masyarakat di daerah ini harus membeli makanan murah seperti remah-remah roti, meskipun barangkali kualitasnya rendah. Hal ini menciptakan gambaran tentang ekonomi yang sulit dihadapi oleh masyarakat tersebut. Selain itu, bau kotoran air selokan dan tai yang dirasakan oleh masyarakat menciptakan gambaran tentang keadaan sanitasi yang mungkin kurang baik di lingkungan tersebut.

Perubahan dalam Kota: Puisi ini juga menciptakan gambaran perubahan dalam kota, dengan toko-toko baru dan bangunan-bangunan modern yang berdiri di pinggir jalan. Ini menciptakan gambaran tentang pertumbuhan kota yang pesat dan perubahan dalam tata ruang yang mungkin mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat.

Kritik terhadap Ketidaksetaraan Sosial: Penyair menggunakan istilah "seperti kutu kere kumal" untuk menggambarkan masyarakat di belakang kota atau daerah industri. Istilah ini menciptakan gambaran tentang ketidaksetaraan sosial dan perlakuan yang mungkin tidak adil terhadap masyarakat yang kurang beruntung ekonominya.

Pengembangan Populasi yang Tidak Terkendali: Puisi ini berakhir dengan kata-kata "membengkak tak tercegah!" yang menciptakan gambaran tentang populasi yang berkembang tanpa kendali di daerah tersebut. Hal ini bisa diartikan sebagai peringatan tentang masalah pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dan dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Puisi "Gumam Sehari-hari" adalah sebuah karya sastra yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat di daerah industri atau pinggir kota. Thukul menggunakan gambaran ini untuk menggambarkan kondisi ekonomi, lingkungan, dan ketidaksetaraan sosial yang dihadapi oleh masyarakat tersebut. Puisi ini juga menciptakan gambaran tentang perubahan dalam kota dan pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.

Puisi: Gumam Sehari-hari
Puisi: Gumam Sehari-hari
Karya: Wiji Thukul

Biodata Wiji Thukul:
  • Wiji Thukul lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 26 Agustus 1963.
  • Nama asli Wiji Thukul adalah Wiji Widodo.
  • Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).
© Sepenuhnya. All rights reserved.