Analisis Puisi:
Puisi "Jalan Ini Bertaruh Hidup atau Mati" karya Mawie Ananta Jonie merupakan sebuah narasi puitis yang merekam semangat perjuangan, ketabahan, sekaligus pertaruhan hidup seorang anak muda yang terlibat dalam barisan perlawanan. Dengan bahasa yang lugas namun penuh daya makna, puisi ini menghadirkan wajah lain dari sejarah: suara kaum kecil yang bangkit menentang ketidakadilan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjuangan dan pengorbanan demi tanah air serta keadilan. Kehidupan partisan dan perlawanan terhadap penindasan menjadi latar sentral yang membentuk isi puisi.
Puisi ini bercerita tentang seorang pemuda desa, anak seorang petani buta huruf, yang ikut dalam barisan partisan pada tahun 1970. Selama dua tahun, ia ditempa oleh kerasnya perjuangan, menyaksikan sungai, gunung, dan hutan menjadi saksi bisu perlawanan. Ia kemudian tumbuh menjadi wakil kepala regu, menemukan dalam perjuangan itu arti hidup: sebuah jalan yang memang bertaruh hidup atau mati.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah perjuangan melawan penindasan tidak hanya soal politik, melainkan juga soal harga diri, martabat, dan hak untuk hidup layak di tanah sendiri. Sosok pemuda petani buta huruf yang menjadi pejuang adalah simbol kekuatan rakyat kecil. Puisi ini menyiratkan bahwa keadilan lahir dari keberanian, dan keberanian itu lahir dari kesadaran akan penindasan.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang tercipta dalam puisi ini adalah heroik, tegang, namun penuh keteguhan. Ada nuansa getir perjuangan, tetapi juga harapan dan semangat juang yang menyala. Gambaran sungai, gunung, dan hutan menambah atmosfer perjuangan yang keras sekaligus sakral.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang bisa ditangkap dari puisi ini adalah bahwa perjuangan menuntut keberanian dan pengorbanan, bahkan sampai mempertaruhkan hidup atau mati. Penyair ingin menunjukkan bahwa jalan menuju keadilan dan kebebasan tidak mudah, tetapi di situlah seseorang menemukan pijakan hidup yang sejati.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji konkret yang menghidupkan suasana:
- Imaji visual: “Gunung dan hutannya jadi saksi perlawanan” — menghadirkan gambaran alam yang menyaksikan sejarah.
- Imaji gerak: “Dara muda itu merangkak naik jadi wakil kepala regu” — menggambarkan proses pertumbuhan dan perjuangan tokoh.
- Imaji perasaan: “Mimpi kehidupan datang dan pergi bersama suka dan duka” — memperlihatkan pasang surut harapan dan penderitaan.
Majas
Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: “Gunung dan hutannya jadi saksi perlawanan” — alam digambarkan seolah ikut menyaksikan perjuangan.
- Metafora: “Jalan ini bertaruh hidup atau mati” — melambangkan perjuangan sebagai pertaruhan paling besar dalam hidup.
- Simbolisme: Sosok anak petani buta huruf menjadi simbol kekuatan rakyat kecil yang melawan penindasan.
Puisi "Jalan Ini Bertaruh Hidup atau Mati" karya Mawie Ananta Jonie adalah potret perjuangan rakyat kecil yang melawan ketidakadilan dengan keberanian dan pengorbanan. Dengan tema perjuangan, cerita tentang seorang pemuda desa yang bangkit, makna tersirat tentang keberanian melawan penindasan, suasana heroik yang tegang, serta kekuatan imaji dan majas yang menghidupkan teks, puisi ini menghadirkan pesan mendalam bahwa perjuangan adalah jalan penuh risiko, tetapi juga tempat di mana seseorang menemukan pijakan hidup yang sejati.
Karya: Mawie Ananta Jonie