Puisi: Jendela (Karya Hartojo Andangdjaja)

Puisi "Jendela" karya Hartojo Andangdjaja bercerita tentang pengalaman seorang anak yang memandang dunia melalui jendela, dan ayah yang menemaninya ..

Jendela


Sebuah bingkai teramat sederhana
yang merangkum beragam tamasya
dan mengangkat, jadi hidup dan bicara
lebih kekal dalam kenangan kita

kadang menjenguk di ambangnya
sekuntum bunga: mekar dalam warna dan nyala
sementara kau padaku bertanya:
apakah bunga mereguk cahaya surya?

kadang seraut wajah jelita
yang putih bernama mega
menjenguk di sana, menyapa kau dengan manis:
apa kabar, Haris?

dan kadang gemerlapan sayap burung-burung
        di udara
melintas di seberangnya, berkelepak menyibak senja
sementara kau menengadah dan bertanya:
pa, burung-burung di mana rumahnya?

dan malam yang berjaga di luar dalam kelam
kadang menjenguk di sana
mengantarkan padamu seayun dendang:
ayo bobo, sayang, tidur dengan tenteram
sementara di langit kupasang bagi lelapmu
        bintang demi bintang

1976

Sumber: Kumpulan Puisi (2019)

Analisis Puisi:

Puisi "Jendela" karya Hartojo Andangdjaja adalah salah satu karya yang sederhana dalam pilihan kata, namun kaya akan makna dan nuansa. Melalui jendela, penyair menghadirkan berbagai potongan kehidupan yang menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari, namun dibalut dengan keindahan bahasa yang menyentuh.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keindahan hidup yang sederhana sebagaimana tampak dari sebuah jendela, sekaligus keintiman hubungan orang tua dan anak. Jendela bukan sekadar benda, tetapi menjadi ruang penghubung antara dunia luar dan kehidupan batin penyair.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seorang anak yang memandang dunia melalui jendela, dan ayah yang menemaninya sambil memberi jawaban atau sekadar mendengarkan pertanyaan polos sang anak. Dari jendela, anak melihat bunga, wajah mega, burung-burung, hingga malam yang membawa bintang. Semua itu diabadikan oleh penyair sebagai kenangan indah dalam kehidupan keluarga.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa hidup yang sederhana dapat menjadi indah jika dilihat dengan mata penuh kasih dan rasa syukur. Jendela melambangkan cara pandang terhadap dunia: ia membingkai kehidupan dalam potongan-potongan kecil yang tetap berarti besar. Selain itu, puisi ini juga menyiratkan betapa berharganya momen kebersamaan orang tua dengan anak, di mana dunia luar yang kompleks bisa dijelaskan dengan sederhana melalui percakapan penuh cinta.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hangat, teduh, dan penuh kasih sayang. Ada keintiman dalam dialog antara orang tua dan anak, ada kekaguman pada keindahan alam, serta ada kedamaian yang ditutup dengan nasihat lembut untuk beristirahat dalam tidur ditemani bintang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu terletak pada hal besar, melainkan bisa hadir dari momen sederhana sehari-hari yang dibagikan bersama orang tercinta. Melalui jendela, kita belajar melihat keindahan alam, memahami pertanyaan anak-anak dengan kasih, dan menjaga kenangan itu agar tetap hidup dalam ingatan.

Imaji

Puisi ini sarat dengan imaji visual yang kuat:
  • “sekuntum bunga: mekar dalam warna dan nyala” menghadirkan keindahan warna bunga.
  • “seraut wajah jelita yang putih bernama mega” melukiskan awan sebagai sosok yang menyapa dengan lembut.
  • “gemerlapan sayap burung-burung di udara” menciptakan gambaran gerak yang hidup.
  • “bintang demi bintang” memberi bayangan langit malam yang tenteram.
Selain itu, ada juga imaji auditori, seperti “seayun dendang” yang membangkitkan nuansa suara lembut meninabobokan.

Majas

Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “wajah jelita yang putih bernama mega” dan “malam yang berjaga di luar dalam kelam” memberi sifat manusia pada alam.
  • Metafora: jendela sebagai bingkai sederhana yang “merangkum beragam tamasya” menggambarkan bagaimana ia menjadi pintu kecil menuju dunia luas.
  • Repetisi: penggunaan kata “kadang” yang diulang memberi ritme dan menegaskan keragaman peristiwa yang terlihat dari jendela.
Puisi "Jendela" karya Hartojo Andangdjaja menunjukkan bahwa hal-hal kecil dalam kehidupan dapat menjadi sumber makna dan keindahan yang besar. Dengan menghadirkan tema kesederhanaan hidup dan cinta keluarga, puisi ini menyampaikan makna tersirat tentang pentingnya melihat dunia dengan penuh rasa syukur, menumbuhkan suasana hangat dan tenteram, menghadirkan imaji visual serta auditori yang indah, serta diperkaya dengan majas personifikasi dan metafora. Ini adalah puisi yang sederhana namun menyentuh, karena mengingatkan kita akan nilai berharga dari kebersamaan yang tulus.

Hartojo Andangdjaja
Puisi: Jendela
KaryaHartojo Andangdjaja

Biodata Hartojo Andangdjaja:
  • Hartojo Andangdjaja (Ejaan yang Disempurnakan: Hartoyo Andangjaya) lahir pada tanggal 4 Juli 1930 di Solo, Jawa Tengah.
  • Hartojo Andangdjaja meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 1990 (pada umur 60 tahun) di Solo, Jawa Tengah.
  • Hartojo Andangdjaja adalah salah satu Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.