Puisi: Kata (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Kata" karya Gunoto Saparie mengajak pembaca untuk merenungkan makna bahasa dan keterbatasannya dalam menyampaikan perasaan manusia.
Kata

benarkah ini hanya mimpi
ketika kupeluk hangat tubuhmu?
kau taktahu, takpernah tahu
kata, kata, dan kata, tanpa arti

sekian tahun kita terikat
prosa yang samar, penuh misteri
sekian lama kita memuliakan fiksi
ingin menjadi pengarang berbakat

benarkah ini sepenuhnya kenyataan
ketika kucium ranum bibirmu?
kau tahu, sesungguhnya tahu
kata, kata, dan kata, cuma permainan

2020

Analisis Puisi:

Puisi "Kata" karya Gunoto Saparie merupakan sebuah refleksi puitis tentang makna bahasa, cinta, dan permainan ilusi dalam kehidupan manusia. Dengan gaya sederhana namun penuh simbol, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan sejauh mana kata-kata dapat mewakili perasaan, dan kapan kata hanya menjadi permainan tanpa arti.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ambiguitas kata-kata dalam cinta dan kehidupan. Kata bisa menjadi penghubung antara manusia, namun sekaligus bisa kehilangan makna ketika hanya menjadi permainan belaka.

Puisi ini bercerita tentang sebuah hubungan yang terikat oleh kata-kata, prosa, dan fiksi, namun tidak selalu mampu menampung perasaan sejati. Penyair menggambarkan pelukan dan ciuman, simbol kedekatan emosional, tetapi mengontraskannya dengan kesadaran bahwa kata-kata sering kali kosong, hanya rangkaian bunyi tanpa makna yang benar-benar mengikat.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah keraguan terhadap kejujuran kata-kata. Meski manusia memuliakan bahasa, menulis prosa, dan mengarang cerita, tidak semuanya benar-benar merefleksikan kenyataan. Kata dalam puisi ini menjadi simbol dari ilusi, retorika, bahkan kepalsuan yang terkadang menyelimuti relasi manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa melankolis, reflektif, sekaligus ironis. Ada kehangatan dalam pelukan dan ciuman, tetapi juga rasa getir saat menyadari bahwa kata hanya permainan yang tidak selalu sejajar dengan kenyataan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kata-kata harus disertai kejujuran, bukan sekadar permainan. Hubungan atau perasaan tidak cukup hanya diikat oleh retorika indah, melainkan membutuhkan ketulusan. Dengan kata lain, penyair mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam ilusi bahasa yang menipu.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat, terutama imaji perasaan dan indera:
  • Imaji rabaan: “kupeluk hangat tubuhmu” memberikan kesan kedekatan fisik.
  • Imaji penciuman: “kucium ranum bibirmu” menghadirkan nuansa sensual yang nyata.
  • Imaji intelektual: prosa, fiksi, pengarang berbakat – menghadirkan dunia kata-kata dan imajinasi.

Majas

Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:
  • Repetisi: “kata, kata, dan kata” untuk menekankan kekosongan makna.
  • Metafora: kata sebagai permainan, prosa samar sebagai simbol hubungan yang tidak pasti.
  • Ironi: pelukan dan ciuman yang hangat justru berlawanan dengan kesadaran bahwa semuanya mungkin hanya fiksi atau permainan kata.
Puisi "Kata" karya Gunoto Saparie mengajak pembaca untuk merenungkan makna bahasa dan keterbatasannya dalam menyampaikan perasaan manusia. Dengan tema kata sebagai simbol cinta dan ilusi, puisi ini menunjukkan betapa rapuhnya ikatan yang hanya dibangun atas kata-kata tanpa ketulusan. Imaji sensual berpadu dengan ironi, menciptakan suasana melankolis dan reflektif, sekaligus mengajarkan bahwa kata hanya berarti jika ia lahir dari hati yang jujur.

Gunoto Saparie
Puisi: Kata
Karya: Gunoto Saparie

BIODATA GUNOTO SAPARIE

Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.

Beliau bisa dihubungi melalui email gunotosaparie@ymail.com.
© Sepenuhnya. All rights reserved.