Analisis Puisi:
Diah Hadaning dikenal sebagai penyair yang kerap menulis dengan bahasa lugas sekaligus penuh daya simbolik. Puisinya sering memotret perasaan terdalam manusia, termasuk luka batin akibat ketidakadilan atau penindasan. Salah satu puisinya, "Kepada Keangkuhan," merupakan ungkapan getir terhadap kekuasaan atau sosok yang pongah, yang melukai batin hingga menyisakan luka terdalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perlawanan batin terhadap keangkuhan yang menindas. Penyair menyoroti bagaimana kesombongan dapat merantai, melukai, bahkan merampas harapan orang lain, meninggalkan penderitaan yang begitu mendalam.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menjadi korban dari sikap angkuh—entah dari individu, kekuasaan, atau keadaan—yang merenggut kebebasan, harapan, dan getar kehidupan. Penyair digambarkan terpuruk, seakan menjadi “tumbal” dari kesewenang-wenangan pihak lain. Repetisi kata “sudah” mempertegas bahwa luka itu sudah berlangsung lama dan meninggalkan bekas yang sukar dipulihkan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kesombongan dan keangkuhan hanya akan melahirkan luka bagi orang lain dan kehancuran batin bagi korban. Ada kritik sosial yang halus, seolah penyair ingin menegur perilaku manusia yang gemar merendahkan sesamanya. Selain itu, puisi ini juga menyuarakan perasaan putus asa sekaligus bentuk perlawanan melalui kata-kata, karena meski penyair merasa tertindas, ia masih mampu mengungkapkan luka itu.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini adalah muram, getir, dan penuh keputusasaan. Repetisi “sudah” menunjukkan kondisi jenuh dan terluka, sementara ungkapan seperti “aku bayang-bayang yang terpuruk” memberi kesan suram, seakan hidup kehilangan cahaya.
Amanat / Pesan yang disampaikan puisi
Pesan yang dapat ditarik dari puisi ini adalah bahwa keangkuhan hanya membawa penderitaan, bukan kejayaan. Penyair mengingatkan agar manusia tidak berlaku pongah, sebab kesombongan bisa melukai jiwa orang lain dan menghancurkan harapan mereka. Dalam kehidupan, dibutuhkan empati dan kerendahan hati, bukan keangkuhan.
Imaji
Puisi ini mengandung imaji yang kuat, misalnya:
- Imaji pendengaran: “tak kau dengar, sudah / tak kau sapa, sudah” yang menggambarkan ketulian emosional akibat keangkuhan.
- Imaji perasaan: “kau bantai getar sukmaku” menghadirkan kesan sakit batin yang dalam.
- Imaji visual: “aku bayang-bayang yang terpuruk” memperlihatkan sosok yang kehilangan cahaya dan terjerembap dalam bayangan.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Repetisi: kata “sudah” yang diulang-ulang menegaskan kepasrahan sekaligus intensitas penderitaan.
- Metafora: “kau rantai lidah jiwaku” menggambarkan pembungkaman ekspresi.
- Hiperbola: “kau bantai getar sukmaku” sebagai penguatan penderitaan batin.
- Simbolik: “aku sosok tumbal sakethi” yang melambangkan korban keangkuhan yang tak berdaya.
Puisi "Kepada Keangkuhan" karya Diah Hadaning adalah karya yang menyingkap luka batin akibat kesombongan dan kesewenang-wenangan. Dengan tema getir, suasana muram, dan majas yang kuat, puisi ini mengajak pembaca merenungkan betapa bahayanya keangkuhan dalam relasi manusia. Keangkuhan hanya meninggalkan kehancuran, sementara kerendahan hati membuka jalan menuju kemanusiaan yang lebih utuh.

Puisi: Kepada Keangkuhan
Karya: Diah Hadaning