Puisi: Kepada Penyair Tanoh Gayo (Karya Syarifuddin Aliza)

Puisi "Kepada Penyair Tanoh Gayo" karya Syarifuddin Aliza bercerita tentang kerinduan yang digantungkan dan dikenang kembali dalam suasana yang ...
Kepada Penyair Tanoh Gayo

Rindu yang aku gantungkan
Di ambang pintu kemarin petang
Telahkah terhidang dalam cawan tembikar
Di atas meja makan hari ini
Hingga aku datang lagi membasuh muka
Di gericik Lut Tawar membilang benih depik
Sisa kematian musim berlalu.

Meulaboh, 4 September 2016

Analisis Puisi:

Tema utama puisi "Kepada Penyair Tanoh Gayo" adalah kerinduan yang berpadu dengan kenangan dan kekayaan budaya Tanoh Gayo. Puisi ini memotret perasaan mendalam seorang penyair yang terikat dengan tanah kelahirannya, terutama melalui simbol-simbol lokal seperti Lut Tawar dan depik (ikan khas Danau Lut Tawar).

Puisi ini bercerita tentang kerinduan yang digantungkan dan dikenang kembali dalam suasana yang khas Tanoh Gayo. Ada gambaran seseorang yang datang, menatap, membasuh muka di gericik air Lut Tawar, sekaligus menghitung benih depik sebagai tanda kehidupan yang berulang setelah musim berlalu. Puisi ini seakan menghadirkan dialog emosional antara penyair dengan tanah kelahirannya yang penuh kenangan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kerinduan pada kampung halaman, tradisi, dan alam yang menyimpan memori kolektif orang Gayo. Rindu tidak sekadar hadir sebagai perasaan personal, melainkan juga sebagai penghubung identitas kultural. Dengan membasuh muka di gericik Lut Tawar, penyair ingin kembali menyatu dengan alam dan tradisi leluhurnya, seolah mencari kesejukan dan ketenangan di tengah perjalanan hidup.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah melankolis sekaligus hangat. Ada kerinduan yang terasa lembut, diwarnai nuansa nostalgia dan penghormatan pada Tanoh Gayo. Penyair tidak hanya menghadirkan suasana sendu, tetapi juga rasa damai ketika menyatu kembali dengan alam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah pentingnya menjaga hubungan dengan tanah kelahiran dan tradisi budaya. Puisi ini mengajarkan bahwa di tengah perjalanan hidup dan perubahan zaman, identitas kultural dan kenangan masa lalu tetap memiliki nilai yang tak tergantikan. Ia juga menyiratkan ajakan untuk merawat alam dan menghargai warisan leluhur.

Imaji

Imaji yang muncul dalam puisi ini cukup kuat, terutama pada bagian:
  • “Rindu yang aku gantungkan di ambang pintu kemarin petang” menghadirkan imaji visual yang melukiskan kerinduan sebagai sesuatu yang tergantung dan menunggu.
  • “Membasuh muka di gericik Lut Tawar” menghadirkan imaji indrawi (sentuhan dan pendengaran), seolah kita merasakan kesejukan air dan mendengar suara alirannya.
  • “Membilang benih depik sisa kematian musim berlalu” menghadirkan imaji visual sekaligus reflektif, seakan kehidupan yang terus bergulir meski musim telah berganti.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “Rindu yang aku gantungkan di ambang pintu” seolah-olah rindu adalah benda yang bisa digantung.
  • Metafora: “Cawan tembikar di atas meja makan” sebagai lambang sederhana kehidupan sehari-hari, namun penuh makna kultural.
  • Simbolisme: Lut Tawar dan depik menjadi simbol identitas Gayo, yang mewakili kampung halaman dan keberlangsungan hidup.
Puisi "Kepada Penyair Tanoh Gayo" karya Syarifuddin Aliza adalah karya yang sarat dengan nuansa kerinduan, kenangan, dan penghormatan pada budaya Gayo. Dengan tema kerinduan terhadap tanah kelahiran, puisi ini bercerita tentang bagaimana alam dan tradisi tetap hidup dalam ingatan seorang penyair. Makna tersiratnya adalah ajakan untuk menjaga identitas dan hubungan spiritual dengan asal-usul. Imaji dan majas yang dipakai memperkuat suasana melankolis, hangat, dan penuh penghormatan terhadap alam serta tradisi.

Muhammad Subhan dan Syarifuddin Aliza
Puisi: Kepada Penyair Tanoh Gayo
Karya: Syarifuddin Aliza

Biodata Penulis:

Syarifuddin Aliza lahir pada tanggal 23 Agustus 1967 di Cot Seumeureung, Aceh Barat.

© Sepenuhnya. All rights reserved.