Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kitab Pelarian (Karya Zen Hae)

Puisi “Kitab Pelarian” menantang pembaca untuk merenungkan batas bahasa, keganjilan penghakiman kolektif, dan makna penulisan sebagai pengakuan ...
Kitab Pelarian

tidurku masih disesaki kemarahan langit
sebelas malaikat menghardik-meludah di angkasa
: sawan bayi di kandungan, mendidih air di bendungan

empat puluh hari sehabis mimpiku, tuan hakim
kota tanpa pengiman itu akan luluh-lantak
bumi diremas langit diayak – awan serupa dedak

dan aku mencium maut dan aku menuju laut

di dasar laut – di perut seekor ikan besar
aku beriman dalam kegelapan pijar.
menulis selarik ayat
seirama degup perih jantungku. mengukir ketakutanku
pada dinding-dinding karang merah tua
kelak para penyelam, para pemburu hikayat
akan membaca pengakuanku:

"kenapa ia memilih si lemah hati sepertiku?
kenapa ia menitipkan kota tua padaku?"

sepuluh jari tanganku
tak cukup untuk sebuah kota
pun untuk seorang sahaya atau seekor ulat
aku hanya ingin menyendiri di pondokku – di timur kota
akan kutanam pohon paling rindang
dan kupiara beberapa ekor ternak

tapi mereka menangkapku pada suatu pagi
tapi apa gunanya kalian memintaku kembali?

"yunus, tuan layak marah sampai mati
sebab kota besar itu urung dihancurkan"

1993

Analisis Puisi:

Puisi “Kitab Pelarian” menampilkan nada apokaliptik yang sekaligus sangat personal: seorang narator yang dihantui kemarahan langit, dihakimi, melarikan diri ke laut, lalu terperangkap dalam tubuh ikan besar—ruang gelap untuk pengakuan dan penulisan. Langgamnya padat dengan citra religius-biblis (nuansa Yunus/Yunus yang ditelan ikan), sekaligus memuat konflik etis tentang tanggung jawab kolektif dan beban individu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pelarian dan tanggung jawab—pelarian dari hukuman, pelarian batin, serta beban menerima atau menolak kota/komunitas yang dipercayakan kepadanya. Di samping itu muncul tema-tema pendukung: penghakiman ilahi, kesendirian, pengakuan dosa, dan perjumpaan dengan maut.

Secara naratif, puisi ini bercerita tentang:
  • narator yang tercekik oleh “kemarahan langit” dan penghardikan malaikat;
  • ancaman kehancuran kota (“kota tanpa pengiman itu akan luluh-lantak”);
  • pelarian menuju laut dan pengalaman ekstatis/gelap di dalam perut ikan;
  • tulisan sebagai pengakuan yang ditorehkan di karang merah untuk pembaca masa depan;
  • motif penangkapan—narator yang pada akhirnya ditangkap dan dikembalikan, sementara tuduhan moral tetap menggelayut: mengapa ia, yang “lemah hati”, dipilih memikul kota tua.
Narasi ringkas ini bergeser antara visio­ner, doa, pengakuan, dan sindiran terhadap tuntutan publik atau hukuman kolektif.

Makna tersirat

Beberapa lapis makna tersirat yang dapat ditarik:
  • Beban yang dipilihkan: narator dipertanyakan mengapa ia—yang lemah—dititipi kota tua. Ada rasa tidak layak dan survivor’s guilt; tanggung jawab kadang dipaksakan pada yang tak siap.
  • Ketidakberdayaan bahasa: menulis menjadi upaya terakhir untuk memberi kesaksian, tetapi juga pengakuan akan keterbatasan (“sepuluh jari tanganku tak cukup untuk sebuah kota”). Puisi mengajukan problematika: dengan apa dan sejauh mana kata bisa menanggung sejarah dan dosa?
  • Kritik atas penghakiman kolektif: urutan otoritas dalam teks (kepada tuan hakim, kepada yang lebih tinggi) menyingkap sirkulasi kekuasaan yang membuat individu menjadi kambing hitam.
  • Dimensi penebusan dan penjara: ruang perut ikan berfungsi ganda—sebagai kuburan, sel pengasingan, sekaligus tempat beriman/beribadah dan menulis pengakuan—menjadi ruang transformasi spiritual sekaligus penahanan.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi padat, gelap, dan intens: campuran antara apokaliptik, klaustrofobik, dan konfesional. Awal puisi diselimuti kemarahan langit dan pembacaan tanda-tanda (malaikat, sawan bayi, mendidih bendungan) yang menciptakan tegangannya; bagian di dalam ikan menghadirkan kesunyian, kegelapan bercahaya, dan nada pengakuan. Keseluruhan suasana mengarah pada kegelisahan moral sekaligus mufakat religius.

Amanat / pesan yang disampaikan

Beberapa pesan yang tersirat:
  • Menulis dan pengakuan bisa menjadi upaya tertinggi untuk menanggung sejarah—meskipun itu terasa tak memadai.
  • Pelarian bukan solusi definitif; penghindaran dari tanggung jawab akan dihantui, diberi penghakiman, dan bisa berakhir pada penangkapan/pertanggungjawaban.
  • Kekuasaan kolektif dan struktur hierarkis seringkali menyandarkan beban pada individu, sehingga perlu refleksi etis tentang siapa yang diberi mandat dan mengapa.

Imaji

Puisi ini kaya imaji yang kuat dan sering kontras:
  • Langit yang marah dan sebelas malaikat menghardik-meludah (visual dan auditori yang mengancam).
  • Sawan bayi / mendidih air di bendungan (imaji alam yang kacau, tanda bencana).
  • Perut ikan / dinding karang merah tua (imaji klaustrofobik, material, puitik—tempat menulis pengakuan).
  • Laut, maut, pondok di timur kota, pohon rindang (kontras antara kehancuran dan cita-cita ketenangan/pulih).
Imaji-imaji ini membangun pengalaman sensorik sekaligus simbolik: alam yang menghakimi, laut sebagai ruang penebusan/asing, karang sebagai arsip.

Majas

Majas dominan yang dipakai antara lain:
  • Alusi religius: rujukan kuat ke kisah Yunus (ditelan ikan), dan bahasa apokaliptik yang mengingatkan teks-teks kitab suci.
  • Personifikasi: langit “mencemar” dan “menginjak”, malaikat “menghardik-meludah”; bumi dan awan berperan aktif.
  • Metafora: perut ikan sebagai “kegelapan pijar” tempat iman dan penulisan berpadu.
  • Hiperbola & simbolisme: “sepuluh jari tak cukup untuk sebuah kota” sebagai pembesaran yang menegaskan keterbatasan manusia menghadapi tanggung jawab besar.
  • Apostrof / pengakuan langsung: nada pengakuan (“kedapan para penyelam… akan membaca pengakuanku”) memberi efek intim dan retoris.
Puisi “Kitab Pelarian” adalah puisi yang bekerja di persimpangan mitos, pengakuan, dan kritik sosial. Zen Hae meminjam struktur naratif Yunus untuk mengangkat problem modern: bagaimana seorang individu menanggung kota—sejarah, dosa, kehancuran—yang dipasrahkan padanya, sementara ia sendiri merasa lemah dan tak cukup? Puisi ini menantang pembaca untuk merenungkan batas bahasa, keganjilan penghakiman kolektif, dan makna penulisan sebagai pengakuan sekaligus bukti tanggung jawab.

Zen Hae
Puisi: Kitab Pelarian
Karya: Zen Hae

Biodata Zen Hae:
  • Zen Hae lahir pada tanggal 12 April 1970 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.