Analisis Puisi:
Puisi "Kuala Meurisi" karya Hasbi Burman menghadirkan karya yang sarat dengan refleksi sosial dan sejarah, mengangkat persoalan kehidupan, identitas, dan harga diri masyarakat yang terdampak kolonialisme atau penindasan. Melalui bahasa yang simbolik dan imajinatif, puisi ini menyampaikan pengalaman kolektif sekaligus menggugah kesadaran pembaca terhadap nilai budaya dan kedaulatan diri.
Tema
Tema utama puisi ini adalah penindasan, identitas, dan harga diri masyarakat. Puisi ini menyinggung bagaimana kehidupan masyarakat bisa terjajah oleh kekuatan luar yang menekan, sekaligus memperlihatkan perjuangan mempertahankan martabat dan warisan budaya.
Puisi ini bercerita tentang realitas sosial dan sejarah masyarakat Meurisi, yang digambarkan melalui simbol-simbol alam dan kehidupan sehari-hari. Sang penyair menyoroti bagaimana masyarakat terperangkap dalam dinamika penjajahan ekonomi dan budaya—dengan “harga diri yang diinjak” demi kebutuhan material, seperti beras, serta bagaimana legenda dan budaya tetap hidup sebagai bentuk perlawanan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kegelisahan terhadap kemerosotan nilai budaya dan harga diri masyarakat akibat tekanan eksternal. Selain itu, puisi ini menekankan pentingnya mempertahankan identitas, kebanggaan, dan warisan budaya meski menghadapi perubahan atau dominasi pihak lain.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini penuh dengan kesedihan, kepedihan, dan perlawanan yang tersembunyi. Ada rasa getir terhadap kondisi masyarakat yang dijajah, sekaligus nuansa heroik dan simbolik dalam upaya mempertahankan legenda dan harga diri mereka.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan puisi ini adalah pentingnya mempertahankan harga diri, identitas, dan warisan budaya meski berada dalam tekanan atau penjajahan. Pembaca diajak merenungkan bagaimana sejarah dan identitas kolektif bisa terus hidup sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap ketidakadilan.
Imaji
Beberapa imaji yang muncul dalam puisi ini:
- Imaji visual: “Bayangan meurendam dewi, berenang di wajahmu,” menghadirkan gambaran simbolik tentang harapan, legenda, dan identitas yang hidup dalam masyarakat.
- Imaji simbolik: “Kaula meurisi dan laut yang membuncah, memuntahkan legenda,” menggambarkan kekuatan budaya yang tetap bertahan meski menghadapi dominasi pihak lain.
Majas
Beberapa majas yang dapat dikenali dalam puisi ini:
- Metafora: Laut dan legenda dijadikan simbol kehidupan masyarakat dan kekayaan budaya.
- Personifikasi: Bayangan dewi dan legenda seolah memiliki kehidupan dan kekuatan, menambah nuansa mistis dan heroik.
- Hiperbola: “Memuntahkan legenda” memberikan kesan dramatis tentang perlawanan budaya terhadap penindasan.
Puisi "Kuala Meurisi" karya Hasbi Burman merupakan refleksi mendalam tentang kehidupan masyarakat yang menghadapi tekanan sosial, ekonomi, dan budaya. Dengan tema penindasan, identitas, dan harga diri, puisi ini bercerita tentang realitas sejarah dan perjuangan mempertahankan budaya. Suasana getir dan heroik, imaji visual dan simbolik, serta penggunaan metafora dan personifikasi menjadikan puisi ini sarat makna dan relevan sebagai renungan tentang pentingnya menjaga identitas dan harga diri dalam kondisi apa pun.
Puisi: Kuala Meurisi
Karya: Hasbi Burman
Biodata Hasbi Burman:
- Hasbi Burman (Presiden Rex) lahir pada tanggal 9 Agustus 1955 di Lhok Buya, Aceh Barat.