Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Kuala Meurisi (Karya Hasbi Burman)

Puisi "Kuala Meurisi" karya Hasbi Burman bercerita tentang realitas sosial dan sejarah masyarakat Meurisi, yang digambarkan melalui simbol-simbol ...
Kuala Meurisi

Bayangan meurendam dewi
Berenang di wajahmu
Di udik mengayuh harapan
Di udik juga menemui sesuatu
Yang dikejar orang - orang sekarang
Kehidupan yang terjajah dengan bahasa

Kaula meurisi dan laut yang membuncah
Memuntahkan legenda
Karena ada yang menukarkan dengan beras
Harga diri yang diinjak
Oleh orang-orang lain
Di seputarnya gentayangan.

Banda Aceh, 3 Januari 2006

Analisis Puisi:

Puisi "Kuala Meurisi" karya Hasbi Burman menghadirkan karya yang sarat dengan refleksi sosial dan sejarah, mengangkat persoalan kehidupan, identitas, dan harga diri masyarakat yang terdampak kolonialisme atau penindasan. Melalui bahasa yang simbolik dan imajinatif, puisi ini menyampaikan pengalaman kolektif sekaligus menggugah kesadaran pembaca terhadap nilai budaya dan kedaulatan diri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penindasan, identitas, dan harga diri masyarakat. Puisi ini menyinggung bagaimana kehidupan masyarakat bisa terjajah oleh kekuatan luar yang menekan, sekaligus memperlihatkan perjuangan mempertahankan martabat dan warisan budaya.

Puisi ini bercerita tentang realitas sosial dan sejarah masyarakat Meurisi, yang digambarkan melalui simbol-simbol alam dan kehidupan sehari-hari. Sang penyair menyoroti bagaimana masyarakat terperangkap dalam dinamika penjajahan ekonomi dan budaya—dengan “harga diri yang diinjak” demi kebutuhan material, seperti beras, serta bagaimana legenda dan budaya tetap hidup sebagai bentuk perlawanan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kegelisahan terhadap kemerosotan nilai budaya dan harga diri masyarakat akibat tekanan eksternal. Selain itu, puisi ini menekankan pentingnya mempertahankan identitas, kebanggaan, dan warisan budaya meski menghadapi perubahan atau dominasi pihak lain.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini penuh dengan kesedihan, kepedihan, dan perlawanan yang tersembunyi. Ada rasa getir terhadap kondisi masyarakat yang dijajah, sekaligus nuansa heroik dan simbolik dalam upaya mempertahankan legenda dan harga diri mereka.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan puisi ini adalah pentingnya mempertahankan harga diri, identitas, dan warisan budaya meski berada dalam tekanan atau penjajahan. Pembaca diajak merenungkan bagaimana sejarah dan identitas kolektif bisa terus hidup sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap ketidakadilan.

Imaji

Beberapa imaji yang muncul dalam puisi ini:
  • Imaji visual: “Bayangan meurendam dewi, berenang di wajahmu,” menghadirkan gambaran simbolik tentang harapan, legenda, dan identitas yang hidup dalam masyarakat.
  • Imaji simbolik: “Kaula meurisi dan laut yang membuncah, memuntahkan legenda,” menggambarkan kekuatan budaya yang tetap bertahan meski menghadapi dominasi pihak lain.

Majas

Beberapa majas yang dapat dikenali dalam puisi ini:
  • Metafora: Laut dan legenda dijadikan simbol kehidupan masyarakat dan kekayaan budaya.
  • Personifikasi: Bayangan dewi dan legenda seolah memiliki kehidupan dan kekuatan, menambah nuansa mistis dan heroik.
  • Hiperbola: “Memuntahkan legenda” memberikan kesan dramatis tentang perlawanan budaya terhadap penindasan.
Puisi "Kuala Meurisi" karya Hasbi Burman merupakan refleksi mendalam tentang kehidupan masyarakat yang menghadapi tekanan sosial, ekonomi, dan budaya. Dengan tema penindasan, identitas, dan harga diri, puisi ini bercerita tentang realitas sejarah dan perjuangan mempertahankan budaya. Suasana getir dan heroik, imaji visual dan simbolik, serta penggunaan metafora dan personifikasi menjadikan puisi ini sarat makna dan relevan sebagai renungan tentang pentingnya menjaga identitas dan harga diri dalam kondisi apa pun.

Hasbi Burman
Puisi: Kuala Meurisi
Karya: Hasbi Burman

Biodata Hasbi Burman:
  • Hasbi Burman (Presiden Rex) lahir pada tanggal 9 Agustus 1955 di Lhok Buya, Aceh Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.