Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Langit Hari Ini (Karya Mustafa Ismail)

Puisi "Langit Hari Ini" karya Mustafa Ismail adalah sebuah renungan mendalam tentang kehidupan, penderitaan, dan harapan yang tak pernah padam.
Langit Hari Ini

Kabut belum lepas juga dari matamu, meskipun langit
adalah langit hari ini - jagad yang kita cita-citakan
bertahun-tahun
seluruh air mata sudah habis, apalagi yang bisa kita
tumpahkan
melukiskan langit yang itu-itu juga, jagad biasa
yang telah membuat tubuh kita terbakar bertahun-tahun

Hidup hanya indah dalam cita-cita, katamu, sekarang
marilah kita mencoba bercita-cita lagi sambil membuang
jauh-jauh masa silam, ya, menghapus habis seluruh bercak-bercak
darah di dinding, karena - pada saatnya - hidup itu
mesti ada akhir tetapi air mata, air mata itu, tak mungkin
kering hanya dalam semusim

Apalagi matahari, masih tetap matahari itu lagi,
panas dan membakar
kita adalah pepohonan yang gerah menanti hujan.

Jakarta, 4 Agustus 2000

Analisis Puisi:

Puisi "Langit Hari Ini" karya Mustafa Ismail adalah sebuah renungan mendalam tentang kehidupan, penderitaan, dan harapan yang tak pernah padam. Dengan bahasa puitis yang sarat simbol, penyair menggambarkan pergulatan batin manusia menghadapi realitas yang penuh luka, sembari tetap berusaha merawat cita-cita.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penderitaan hidup dan perjuangan menjaga harapan. Penyair menyoroti bagaimana hidup penuh air mata, luka, dan rasa terbakar oleh kenyataan, namun tetap ada ruang bagi manusia untuk kembali bercita-cita dan menantikan hujan pembaruan.

Puisi ini bercerita tentang sebuah perjalanan batin manusia yang bergulat dengan masa lalu yang kelam, penuh darah dan air mata, namun tetap berusaha menatap masa depan. Ada keinginan untuk menghapus jejak luka, meski kesedihan tak bisa benar-benar hilang. Kehidupan diibaratkan seperti langit yang tak berubah, matahari yang terus membakar, dan manusia yang hanya bisa menunggu hujan sebagai pertanda kelegaan.

Makna tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah hidup sering kali menghadirkan penderitaan berulang, namun manusia tidak boleh berhenti bermimpi dan berharap. Walaupun masa lalu penuh luka dan air mata, harapan menjadi kekuatan untuk terus bertahan. Matahari yang panas melambangkan kerasnya kehidupan, sementara pepohonan yang menanti hujan adalah simbol manusia yang mendamba kesejukan, kedamaian, dan pembaruan.

Suasana dalam puisi

Suasana yang tergambar dalam puisi ini adalah melankolis, getir, dan penuh kerinduan akan perubahan. Ada rasa lelah akibat penderitaan yang panjang, tetapi juga terselip optimisme bahwa suatu saat kehidupan akan menghadirkan keindahan yang diidamkan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Pesan yang disampaikan penyair adalah bahwa meski hidup penuh luka dan air mata, manusia harus tetap menjaga cita-cita dan harapan. Kita tidak bisa menghapus seluruh kesedihan hanya dalam waktu singkat, namun dengan keberanian menatap masa depan, hidup tetap memiliki arti.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji yang kuat:
  • Imaji visual: “kabut belum lepas juga dari matamu” melukiskan pandangan mata yang muram dan lelah.
  • Imaji emosional: “seluruh air mata sudah habis” menghadirkan perasaan duka yang mendalam.
  • Imaji alam: “matahari masih tetap matahari itu lagi, panas dan membakar” memberi gambaran tentang kerasnya kehidupan.
  • Imaji simbolik: “kita adalah pepohonan yang gerah menanti hujan” menyiratkan manusia yang menunggu kelegaan dan pembaruan hidup.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora – “kabut belum lepas dari matamu” melambangkan kesedihan yang masih membekas.
  • Repetisi – pengulangan frasa seperti “air mata” dan “matahari” menegaskan suasana getir yang berulang.
  • Personifikasi – “kabut belum lepas dari matamu” seakan menghadirkan kabut sebagai sesuatu yang hidup dan melekat pada manusia.
  • Simbolik – “pepohonan yang gerah menanti hujan” melambangkan manusia yang mendambakan harapan setelah penderitaan panjang.
Puisi "Langit Hari Ini" karya Mustafa Ismail adalah refleksi puitis tentang penderitaan, luka masa lalu, dan usaha menjaga harapan dalam hidup. Dengan imaji kabut, air mata, matahari, dan hujan, penyair menghadirkan simbol-simbol kuat tentang perjuangan manusia menghadapi kenyataan yang keras. Meski penuh kesedihan, puisi ini tetap menyalakan api optimisme: bahwa di balik luka panjang, manusia harus berani bercita-cita lagi.

Mustafa Ismail
Puisi: Langit Hari Ini
Karya: Mustafa Ismail

Biodata Mustafa Ismail:
  • Mustafa Ismail lahir pada tanggal 25 Agustus 1971 di Aceh.
© Sepenuhnya. All rights reserved.