Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Melihat Matamu (Karya Maghfur Saan)

Puisi "Melihat Matamu" karya Maghfur Saan bercerita tentang seorang aku liris yang merenungkan perjalanan cintanya sekaligus perjalanan hidupnya.
Melihat Matamu

melihat matamu, telaga yang dilayari puluhan musim
sederet perahu didayung angsa, mengabarkan tebing pualam
ke mana nyanyian, segala yang pernah tumpah
dalam persinggahan resah dan bibir yang mengunyah risau
kita bukan lagi menjadi penunggu pantai
untuk sebuah jiwa yang tak lagi terjebak
oleh perahu yang tersesat

di gelombang kesekian kau memintal rindu
dalam pusaran angin aku diam menunggu
berpuluh-puluh jalan penantian telah kautebari dupa
selalu dan selalu hutan bakau berbaris mengawasi
untuk seorang pengembara agar mau kembali

sudahlah, hujan tak akan lagi mengejar kita
langit terasa kosong. di depan kita cuma ada satu pelabuhan
tapi kita sama-sama tak punya keberanian untuk membuang sauh
padahal sebentar lagi perahu sang perampok harta karun tiba
merentang jala bersama ribuan pendurhaka
lalu di mana kita akan sembunyi
pada saat jalan pulang sudah habis dicuri?

mungkin tak ada yang perlu dicatat
segalanya bakal jadi pengubur bagi kematian yang tak terduga

Batang, 2003

Analisis Puisi:

Puisi "Melihat Matamu" karya Maghfur Saan adalah salah satu karya yang kaya akan simbol, imaji, dan refleksi perasaan batin manusia. Karya ini menampilkan percampuran antara kerinduan, kegelisahan, dan pergulatan eksistensial dengan memanfaatkan bahasa metaforis yang kuat.

Tema

Puisi ini mengangkat tema tentang cinta, kerinduan, dan keterasingan manusia dalam perjalanan hidup. Melalui simbol perahu, pelabuhan, dan lautan, penyair menggambarkan perjalanan batin yang dipenuhi penantian, kesepian, serta ketidakpastian akan tujuan akhir.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seorang aku liris yang merenungkan perjalanan cintanya sekaligus perjalanan hidupnya. Ia menatap mata seseorang yang ia cintai dan menemukan gambaran perjalanan panjang penuh kerinduan, perpisahan, dan kegelisahan. Namun, meski ada harapan untuk kembali, keduanya seperti terjebak pada situasi yang tidak memberikan jalan pulang. Cinta yang dihadirkan bukan hanya romantis, tetapi juga tragis—antara kerinduan dan kehilangan.

Makna tersirat

Di balik keindahan metafora, puisi ini mengandung makna tersirat tentang keterbatasan manusia dalam menghadapi takdir. Ada kerinduan yang tidak tersampaikan, penantian yang tidak berujung, serta cinta yang tidak selalu menemukan pelabuhan terakhir. Perahu yang tersesat, pelabuhan yang menunggu, hingga ancaman perampok harta karun adalah simbol-simbol yang menggambarkan rapuhnya harapan ketika berhadapan dengan kenyataan hidup.

Suasana dalam puisi

Suasana yang tercipta dalam puisi ini adalah muram, penuh kerinduan, sekaligus mencekam. Pada awalnya suasana terasa lirih dengan gambaran mata yang bagai telaga penuh kenangan. Namun perlahan berubah menjadi suram dan menegangkan, terutama saat muncul ancaman “perampok harta karun” yang melambangkan bahaya atau kehancuran yang tidak bisa dihindari.

Amanat / Pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang bisa ditangkap dari puisi ini adalah bahwa hidup adalah perjalanan yang penuh resiko, ketidakpastian, dan kerinduan. Kita sering kali dihadapkan pada pilihan yang sulit: menunggu atau melangkah, bertahan atau menyerah. Penyair seakan ingin menyampaikan bahwa cinta dan kehidupan selalu bergerak di antara harapan dan ancaman, sehingga kita perlu keberanian untuk menentukan arah meski jalan pulang terasa samar.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan imaji alam:
  • “melihat matamu, telaga yang dilayari puluhan musim” → imaji visual yang menggambarkan kedalaman pengalaman dan kenangan dalam sepasang mata.
  • “di gelombang kesekian kau memintal rindu” → imaji gerak yang menghadirkan suasana kerinduan yang terus berulang.
  • “selalu dan selalu hutan bakau berbaris mengawasi” → imaji alam yang menimbulkan kesan seolah alam pun turut menyaksikan perjalanan manusia.
  • “perahu sang perampok harta karun tiba / merentang jala bersama ribuan pendurhaka” → imaji dramatis yang menimbulkan rasa ancaman dan ketakutan.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora → “melihat matamu, telaga yang dilayari puluhan musim” (mata disamakan dengan telaga penuh perjalanan).
  • Personifikasi → “hutan bakau berbaris mengawasi” (hutan seolah-olah bisa mengawasi).
  • Simbolisme → perahu, pelabuhan, dan laut menjadi simbol perjalanan hidup, penantian, dan tujuan akhir.
  • Hiperbola → “ribuan pendurhaka” memberi kesan ancaman besar yang mungkin melampaui kenyataan.
Puisi "Melihat Matamu" karya Maghfur Saan menampilkan refleksi mendalam tentang cinta, kehidupan, dan keterasingan manusia. Dengan tema perjalanan batin yang penuh kerinduan dan kegelisahan, puisi ini bercerita tentang manusia yang mencari pelabuhan dalam cinta namun berhadapan dengan kenyataan getir. Makna tersirat mengajak kita merenungkan keterbatasan manusia di hadapan takdir, sementara imaji dan majas memperkaya nuansa puisi hingga terasa hidup, muram, dan mencekam.

Puisi: Melihat Matamu
Puisi: Melihat Matamu
Karya: Maghfur Saan

Biodata Maghfur Saan:
  • Maghfur Saan lahir di Batang, pada tanggal 15 Desember 1950.
© Sepenuhnya. All rights reserved.