Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Menarik Selimut (Karya Lasinta Ari Nendra Wibawa)

Puisi "Menarik Selimut" karya Lasinta Ari Nendra Wibawa bercerita tentang tubuh yang mencari kehangatan dengan menarik selimut ketika dingin menusuk.
Menarik Selimut

Ucapkankanlah selamat tinggal
pada hawa yang dicintai bangsa penguin
niscaya tubuh ujungmu sampai pangkal
akan bertemu kehangatan yang diingin
begitulah memaknai tudung pelindung
yang datang saat tubuh mulai limbung
tak mampu menahan gigil gempuran
serangan demi serangan.

Surakarta, 13 Januari 2014

Analisis Puisi:

Puisi berjudul "Menarik Selimut" karya Lasinta Ari Nendra Wibawa menghadirkan gambaran sederhana, tetapi penuh makna tentang kebutuhan manusia akan perlindungan dan kenyamanan. Lewat simbol selimut, penyair menyajikan refleksi tentang bagaimana manusia mencari kehangatan ketika menghadapi dingin, baik secara fisik maupun batin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perlindungan dan kehangatan. Selimut menjadi simbol sederhana yang mewakili usaha manusia untuk melindungi diri dari rasa dingin yang menyerang.

Puisi ini bercerita tentang tubuh yang mencari kehangatan dengan menarik selimut ketika dingin menusuk. Bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi juga menggambarkan keadaan batin manusia yang butuh pelindung saat rapuh.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah setiap manusia membutuhkan tempat berlindung ketika menghadapi kerasnya hidup. Selimut menjadi lambang kenyamanan, kasih sayang, atau ketenangan yang dicari saat diri tak mampu menahan “gigil gempuran” persoalan hidup. Dengan menarik selimut, penyair seakan menunjukkan bahwa manusia tidak bisa selalu menghadapi dingin kehidupan sendirian.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah dingin, rapuh, namun kemudian hangat. Pada awalnya digambarkan hawa dingin yang menusuk hingga membuat tubuh limbung, tetapi kemudian kehangatan hadir lewat “tudung pelindung” yang menenangkan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang bisa ditangkap dari puisi ini adalah bahwa setiap manusia membutuhkan kehangatan, baik berupa perlindungan fisik maupun kasih sayang batin. Jangan meremehkan hal-hal sederhana seperti selimut, karena justru dalam kesederhanaan itu tersimpan makna besar tentang kenyamanan dan rasa aman.

Imaji

Puisi ini memunculkan beberapa imaji yang kuat:
  • Imaji perasaan: “tak mampu menahan gigil gempuran” menggambarkan rasa dingin yang membuat tubuh menggigil.
  • Imaji visual: “ucapkanlah selamat tinggal pada hawa yang dicintai bangsa penguin” membangkitkan gambaran udara dingin yang ekstrem, seolah tubuh berada di kutub.
  • Imaji gerak: “menarik selimut” dihadirkan sebagai tindakan sederhana yang penuh makna.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “tudung pelindung” melambangkan selimut sebagai pelindung tubuh sekaligus perlambang perlindungan batin.
  • Personifikasi: “serangan demi serangan” menghadirkan hawa dingin seakan-akan punya kuasa untuk menyerang tubuh manusia.
  • Hiperbola: “hawa yang dicintai bangsa penguin” melebih-lebihkan dinginnya udara, seolah hanya penguin yang bisa menikmatinya.
Puisi "Menarik Selimut" karya Lasinta Ari Nendra Wibawa bukan hanya menggambarkan tindakan sederhana menarik selimut di tengah dingin, tetapi juga menyimpan makna mendalam tentang kebutuhan manusia akan kehangatan dan perlindungan. Dengan imaji dingin yang menusuk dan hadirnya selimut sebagai penyelamat, puisi ini menegaskan bahwa dalam hidup, hal-hal sederhana sering menjadi penopang utama ketika manusia berada di titik rapuh.

"Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa"
Puisi: Menarik Selimut
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa
© Sepenuhnya. All rights reserved.