Mencari
di terik matahari kota
adakah kau tahu
aku mencarimu
bila sore menyentuh punggung gereja
kuingat baik-baik bahwa
kau di sampingku
menunduk dan setengah bisu
hai, jangan permainkan ujung rokmu
ada angin bersiut membelah senja ungu
di kali malam yang pekat
adakah kau tahu
aku menantimu
di bawah hamparan mimpiku
dan sepotong doaku
Sumber: Tanah Perjanjian (2005)
Analisis Puisi:
Puisi "Mencari" karya Ajamuddin Tifani menghadirkan suasana puitis yang lembut sekaligus emosional. Melalui larik-larik sederhana namun penuh makna, penyair membawa pembaca pada perjalanan batin tentang kerinduan, penantian, dan pencarian seseorang yang sangat berarti. Puisi ini tidak hanya menghadirkan gambaran fisik dalam bentuk imaji, tetapi juga membuka ruang kontemplasi tentang makna hubungan antar manusia yang sering kali diselimuti misteri dan kerinduan.
Tema
Tema utama dari puisi ini adalah pencarian dan kerinduan akan kehadiran seseorang yang istimewa. Ada nuansa penantian dan pengharapan yang menyelimuti keseluruhan isi puisi.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang terus mencari sosok yang ia rindukan di berbagai waktu dan suasana—di bawah terik matahari kota, di kala senja menyentuh punggung gereja, hingga di malam yang pekat. Pencarian itu bukan hanya fisik, tetapi juga batiniah, sebab ia menyertai dengan doa dan mimpi.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kerinduan tidak hanya berlangsung dalam dunia nyata, tetapi juga dalam batin dan spiritualitas manusia. Sosok yang dicari bisa dimaknai sebagai orang terkasih, namun juga dapat ditafsirkan sebagai simbol dari sesuatu yang lebih dalam—seperti ketenangan, cinta sejati, atau bahkan Tuhan. Dengan demikian, puisi ini menghadirkan lapisan makna yang luas, tergantung perspektif pembaca.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa melankolis, lirih, sekaligus penuh pengharapan. Ada kesendirian yang mendalam, tetapi juga terselip harapan dan keyakinan bahwa pencarian ini tidak sia-sia.
Amanat / pesan yang disampaikan
Pesan yang bisa ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya keteguhan hati dalam mencari sesuatu yang bernilai, baik itu cinta, kedamaian, maupun makna hidup. Pencarian mungkin disertai kesepian dan kerinduan, tetapi selama masih ada doa dan harapan, perjalanan itu tetap bernilai.
Imaji
Imaji dalam puisi ini sangat kuat, misalnya:
- "di terik matahari kota" menghadirkan gambaran panas dan hiruk pikuk kehidupan urban.
- "sore menyentuh punggung gereja" menghadirkan bayangan senja yang indah, religius, sekaligus menenangkan.
- "angin bersiut membelah senja ungu" memberikan sentuhan visual sekaligus auditif yang puitis.
- "di kali malam yang pekat" menghadirkan nuansa gelap dan sunyi.
Imaji ini membuat puisi menjadi hidup dan menyentuh emosi pembaca.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: “sore menyentuh punggung gereja” memberikan sifat manusia pada sore.
- Metafora: “hamparan mimpiku dan sepotong doaku” melambangkan ruang batin penuh harapan.
- Hiperbola: kerinduan yang digambarkan seolah hadir dalam setiap waktu, dari siang, senja, hingga malam, menunjukkan betapa besar intensitas perasaan penyair.
Puisi: Mencari
Karya: Ajamuddin Tifani
Biodata Ajamuddin Tifani:
- Ajamuddin Tifani lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 23 September 1951.
- Ajamuddin Tifani meninggal dunia di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 6 Mei 2002.
