Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Menyeberang (Karya Sutan Takdir Alisjahbana)

Puisi "Menyeberang" karya Sutan Takdir Alisjahbana merangkum tema perjalanan, pertanyaan hidup, dan perjuangan individu dalam menghadapi tantangan ...
Menyeberang

Sama-sama kami berjalan,
Bersenda gurau tiada ingat.
Di depan tersenyum samsu harapan
Dan bahagia semata angin mengiring.

Siapa menyangka nikmat demikian
Sekedar teruntuk hanya sekejap?
Siapa nyana siapa menduga
Di balik kelok perceraian menanti?

Apakah sebabnya, wahai tuhannku,
Aniku terhenti hingga di sana?
Apakah artinya pandu mulia
Disuruh beta menyeberang sendiri?

Putus parau suara menghimbau,
Lelah terkulai tangan melambai.
Rusak hati remuk sanubari
Tepian dinda menjauh juga.

Kabur segala pandangan mata,
Menjauh rasa dunia semesta.
Hampa kosong rasanya jiwa,
Serba salah serasa diraba.

Wahai pandu pemimpin mulia
Jangan beta Engkau tinggalkan,
Tiada kemudi tiada pendayung,
Terkatung-katung tiada pedoman.

8 Mei 1935

Sumber: Tebaran Mega (1935)

Analisis Puisi:

Puisi "Menyeberang" karya Sutan Takdir Alisjahbana merangkum tema perjalanan, pertanyaan hidup, dan perjuangan individu dalam menghadapi tantangan yang tidak terduga. Dengan penggunaan bahasa yang sederhana namun puitis, penyair berhasil menciptakan gambaran yang mengesankan tentang perjalanan hidup yang penuh misteri.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah perjalanan hidup dan pertanyaan yang muncul dalam prosesnya. Penyair merenungkan tentang arti perjalanan hidup, pertemuan, dan perpisahan yang tak terduga. Pertanyaan tentang tujuan, takdir, dan keberanian individu dalam menghadapi perubahan juga tersirat dalam puisi ini.

Struktur

Puisi ini terdiri dari enam bait dengan pola empat baris per bait. Struktur puisi yang sederhana memberikan kesan refleksi yang mendalam terhadap perjalanan hidup.

Gaya Bahasa

  1. Imaji: Penyair menggunakan gambaran perjalanan dan pertemuan untuk menggambarkan kompleksitas hidup. Gambaran seperti "bahagia semata angin mengiring" menciptakan suasana perjalanan yang penuh dengan kegembiraan dan harapan.
  2. Pertanyaan Retoris: Penyair menggunakan pertanyaan-pertanyaan retoris untuk mengeksplorasi tema ketidakpastian dan tantangan dalam hidup. Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna dan tujuan dari perjalanan hidup.

Makna dan Simbolisme

  1. Perjalanan Hidup: Puisi ini mencerminkan perjalanan hidup sebagai proses yang penuh dengan pertemuan, perpisahan, dan tantangan. Subjek puisi merenungkan tentang arti perjalanan hidup dan menghadapi ketidakpastian dengan keberanian.
  2. Pertanyaan Hidup: Pertanyaan-pertanyaan dalam puisi ini menggambarkan kebingungan dan kekhawatiran subjek tentang arah dan tujuan hidupnya. Hal ini mencerminkan perjuangan individu dalam mencari makna hidupnya.
Puisi "Menyeberang" karya Sutan Takdir Alisjahbana merupakan refleksi tentang perjalanan hidup, pertemuan, perpisahan, dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam prosesnya. Dengan menggunakan bahasa yang sederhana namun puitis, penyair berhasil menggambarkan kompleksitas dan misteri dari perjalanan hidup serta perjuangan individu dalam menghadapinya.

Puisi: Menyeberang
Puisi: Menyeberang
Karya: Sutan Takdir Alisjahbana

Biodata Sutan Takdir Alisjahbana:
  • Sutan Takdir Alisjahbana lahir pada tanggal 11 Februari 1908 di Natal, Mandailing Natal, Sumatra Utara.
  • Sutan Takdir Alisjahbana meninggal dunia pada tanggal 17 Juli 1994.
  • Sutan Takdir Alisjahbana adalah salah satu sastrawan Angkatan Pujangga Baru.
© Sepenuhnya. All rights reserved.