Analisis Puisi:
Puisi "Meulaboh Dikepung Lendir" karya Mustiar AR adalah potret getir tentang wajah sosial, politik, dan moral masyarakat di sebuah kota pesisir Aceh, Meulaboh. Penyair menggunakan bahasa lugas sekaligus satir untuk menggambarkan kondisi kota yang terjebak dalam persoalan maksiat, kepalsuan, serta permainan kekuasaan elit.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kritik sosial terhadap degradasi moral dan permainan politik di Meulaboh. Penyair ingin menyoroti bagaimana kota tersebut tidak hanya dikepung secara fisik oleh masalah, tetapi juga oleh “lendir” simbolik yang merepresentasikan kenistaan, maksiat, dan kelicikan elit.
Puisi ini bercerita tentang kondisi Meulaboh yang terpuruk di tengah masalah sosial dan politik. Penyair menggambarkan Meulaboh sebagai kota yang tersengal di emperan dunia—sebuah frasa yang menunjukkan keterpinggiran. Orang-orang hanya mengerling, bahkan menertawakan. Sementara itu, kehidupan sosial penuh dengan lendir, sindiran, nyinyiran, dan maksiat yang tetap berjalan tanpa henti. Para elit digambarkan sibuk utak-atik anggaran, seolah tidak peduli dengan penderitaan rakyat.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kekecewaan mendalam penyair terhadap kondisi sosial dan politik yang jauh dari nilai moral serta keadilan. “Lendir” adalah simbol dari kekotoran moral, praktik kotor, dan kemunafikan. Puisi ini juga menyiratkan kritik bahwa rakyat kecil menjadi korban, sementara para elit hanya sibuk dengan kepentingan diri sendiri.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa satir, getir, sekaligus penuh kemarahan yang tertahan. Ada keputusasaan yang ditampilkan melalui kata tersengal, ada cemooh melalui kata tertawa dan nyinyir, dan ada sinisme yang tajam terhadap para elit yang hanya pandai utak-atik anggaran.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat dari puisi ini adalah seruan untuk membuka mata terhadap kebobrokan sosial dan politik, serta pentingnya membenahi moral masyarakat maupun para elit. Penyair ingin menyampaikan bahwa jika masyarakat dan pemimpinnya terus larut dalam “lendir” maksiat dan korupsi, maka Meulaboh akan semakin terpuruk di “emperan dunia”.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji visual dan perasaan yang kuat:
- Meulaboh tersengal di emperan dunia menghadirkan gambaran sebuah kota yang sesak, tertatih, dan terpinggirkan.
- Orang-orang mengerling sebilah mata, tertawa menghadirkan imaji sosial bahwa penderitaan kota hanya jadi tontonan.
- Meulabohku berlendir, nyinyir menciptakan imaji kotor, jijik, sekaligus getir.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: lendir sebagai simbol maksiat, korupsi, dan kebusukan moral.
- Personifikasi: Meulaboh digambarkan seakan-akan bernyawa, bisa tersengal dan berlendir.
- Sarkasme: kritik tajam terhadap elit yang utak-atik anggaran di tengah penderitaan rakyat.
Puisi "Meulaboh Dikepung Lendir" karya Mustiar AR adalah karya kritik sosial yang tajam, getir, dan satir. Dengan tema degradasi moral dan kebusukan politik, puisi ini bercerita tentang wajah Meulaboh yang terpinggirkan dan dikepung oleh masalah sosial. Makna tersiratnya adalah kekecewaan mendalam terhadap elit yang sibuk mengurus diri sendiri. Imaji dan majas yang digunakan memperkuat kesan satir sekaligus menghadirkan suasana getir. Amanatnya jelas: kota, masyarakat, dan para pemimpin harus membersihkan diri dari “lendir” agar Meulaboh tidak selamanya terpuruk di emperan dunia.
Karya: Mustiar AR