Penyair
Versi "Surat Cinta Enday Rasidin" (1960)
Penyairlah ia yang percaya pada tenaga kata-kata
Jiwa terkutuk terlempar pada kembara
Yang berdiri di depanku, bicara
Penyairlah ia yang masih percaya pada tenaga kata-kata
Mengangkat tangan pelan-pelan, menabik pada bulan
Yang tersenyum meski suram, sendirian
Penyair
Versi "Jeram" (1970)
Analisis Puisi:
Ajip Rosidi dikenal sebagai penyair yang konsisten menempatkan kata-kata sebagai kekuatan utama dalam hidup dan kesenian. Dalam puisi berjudul "Penyair", yang muncul dalam beberapa versi sepanjang tahun—yakni Pesta (1956), Surat Cinta Enday Rasidin (1960), dan Jeram (1970)—kita bisa melihat perkembangan cara pandang Ajip terhadap peran dan hakikat seorang penyair. Puisi ini bukan sekadar refleksi personal, tetapi juga sebuah renungan universal tentang bagaimana kata-kata menjadi tenaga yang menghidupi manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hakikat dan peran penyair dalam kehidupan manusia. Ajip Rosidi menegaskan bahwa penyair bukan hanya hadir karena kesedihan atau kesepian, tetapi karena kesadaran akan tenaga kata-kata yang mampu memberi kehidupan, menafsirkan duka, merayakan cinta, dan menjaga suara hati manusia.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan dan eksistensi seorang penyair.
- Pada versi Pesta, penyair digambarkan sebagai sosok yang tidak hidup semata karena duka atau sepi, melainkan karena panggilan hidup itu sendiri.
- Pada versi Surat Cinta Enday Rasidin, penyair ditampilkan sebagai orang yang tetap percaya pada kekuatan kata-kata, meski dunia penuh keterasingan.
- Sementara dalam versi Jeram, penyair muncul sebagai figur yang mampu menghidupkan kembali jiwa manusia melalui kata, menyanyikan cinta, duka, dan kerinduan, serta menjaga suara sunyi hati.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa kata-kata memiliki kekuatan spiritual dan eksistensial. Penyair diposisikan sebagai perantara yang bisa menghidupkan, menyingkap makna, dan menjaga nurani manusia. Ajip Rosidi seolah mengatakan bahwa meski penyair sering terasing, karyanya akan selalu relevan, bahkan melampaui zamannya.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa kontemplatif, dalam, dan kadang melankolis. Ada nuansa renungan eksistensial tentang kesunyian, penderitaan, dan cinta, tetapi juga ada keteguhan dalam memercayai kekuatan kata.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Pesan yang ingin disampaikan adalah: penyair memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kekuatan kata-kata sebagai medium kebenaran, cinta, dan nurani manusia. Meski sering terasing atau dianggap tak penting, karya penyair akan menemukan pembacanya, bahkan jauh setelah ia menuliskannya.
Imaji
Puisi ini menampilkan beberapa imaji yang kuat:
- “Mengangkat tangan pelan-pelan, menabik pada bulan” menghadirkan gambaran sederhana tetapi sarat makna: penyair menyapa sesuatu yang jauh dan kesepian, seperti dirinya.
- “Membangkitkan kematian para penyihir / lalu dengan mantra kata-kata / menjelmakan kehidupan manusia” adalah imaji magis yang menekankan kekuatan bahasa.
- “Lagu kunyanyikan kini / akan dimengerti nanti” membangun imaji temporal tentang karya yang melampaui waktu.
Majas
Beberapa majas yang menonjol antara lain:
- Metafora: penyair diibaratkan sebagai “mantra” yang menghidupkan manusia.
- Personifikasi: bulan digambarkan tersenyum meski suram, seolah memiliki perasaan.
- Hiperbola: penyair yang “membangkitkan kematian para penyihir” menekankan kedahsyatan kata-kata.
- Paralelisme: pengulangan frasa seperti “lagu kunyanyikan kini / lagu kusajakkan kini” untuk memperkuat makna.
Puisi "Penyair" karya Ajip Rosidi adalah refleksi tentang hakikat penyair sebagai penjaga kata-kata, suara hati, dan nurani manusia. Melalui setidaknya tiga versi yang ditulis pada waktu berbeda, Ajip menegaskan bahwa penyair bukanlah makhluk pasif yang hidup karena duka, tetapi sosok aktif yang mempercayai tenaga kata-kata sebagai jalan untuk menghidupi manusia. Puisi ini menunjukkan bahwa meski penyair sering berada dalam kesepian, karyanya tetap memiliki daya hidup yang abadi, karena kata-kata mampu menembus waktu dan menyapa generasi mendatang.
Karya: Ajip Rosidi
Biodata Ajip Rosidi:
- Ajip Rosidi lahir pada tanggal 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.
- Ajip Rosidi meninggal dunia pada tanggal 29 Juli 2020 (pada usia 82 tahun) di Magelang, Jawa Tengah.
- Ajip Rosidi adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.