Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Pertanyaan Karna pada Arjuna (Karya Lasinta Ari Nendra Wibawa)

Puisi "Pertanyaan Karna pada Arjuna" karya Lasinta Ari Nendra Wibawa bercerita tentang Karna yang melemparkan pertanyaan reflektif kepada Arjuna, ...
Pertanyaan Karna pada Arjuna

Tebak, berapa jumlah pandawa
saat anak panahku atau panahmu
membabat leher lebih dulu

tentu saja,
kembali ke fitrah maknanya.

Surakarta, 12 Januari 2014

Analisis Puisi:

Puisi "Pertanyaan Karna pada Arjuna" karya Lasinta Ari Nendra Wibawa adalah sebuah karya singkat namun sarat makna. Dengan hanya beberapa larik, puisi ini menghadirkan kembali ketegangan abadi antara dua tokoh besar dalam epos Mahabharata: Karna dan Arjuna. Meski singkat, puisi ini mengandung simbolisme, pertanyaan reflektif, dan renungan mendalam tentang perang, nasib, serta makna eksistensi manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pertarungan eksistensial dan pencarian makna di tengah konflik. Pertarungan Karna dan Arjuna bukan sekadar duel fisik, tetapi juga pertemuan dua takdir, dua garis keturunan, serta dua sudut pandang hidup yang berbeda.

Puisi ini bercerita tentang Karna yang melemparkan pertanyaan reflektif kepada Arjuna, seolah menanyakan esensi dari pertarungan yang mereka jalani. Apakah kemenangan dan kekalahan hanya soal siapa yang lebih cepat membabat leher dengan panah? Atau ada sesuatu yang lebih dalam, yakni kembali ke fitrah manusia, ke asal makna kehidupan itu sendiri?

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah perang dan konflik sesungguhnya membawa manusia kembali pada pertanyaan tentang hakikat hidup. Baik Karna maupun Arjuna, meski berbeda posisi, sama-sama berada di lingkaran nasib yang tak bisa mereka elakkan. Pada akhirnya, pertarungan bukan hanya soal jumlah Pandawa atau Kurawa, tetapi tentang memahami arti hidup dan kembali ke fitrah sebagai manusia.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa tegang, reflektif, dan kontemplatif. Ada kesan pertarungan yang membara, namun diselimuti renungan mendalam tentang arti sebenarnya dari peperangan yang mereka jalani.

Amanat / pesan yang disampaikan

Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa dalam setiap konflik, manusia seharusnya tidak hanya memandang pada kemenangan atau kekalahan, tetapi juga merenungkan hakikat kemanusiaannya. Pertarungan terbesar bukanlah melawan orang lain, tetapi memahami makna fitrah dan asal kehidupan itu sendiri.

Imaji

Puisi ini memunculkan imaji kuat, antara lain:
  • “anak panahku atau panahmu membabat leher lebih dulu” – imaji visual yang keras, menggambarkan pertarungan hidup dan mati.
  • “jumlah pandawa” – imaji simbolik tentang keluarga, kebenaran, dan pertarungan abadi.
  • “kembali ke fitrah maknanya” – imaji filosofis yang mengajak pembaca merenungkan hakikat keberadaan.

Majas

Beberapa majas yang hadir dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora – panah dan leher menjadi metafora dari hidup-mati dan pertarungan nasib.
  • Simbolisme – penyebutan Pandawa dan pertarungan Karna-Arjuna sebagai simbol konflik abadi antara kebenaran dan keangkuhan, takdir dan pilihan.
  • Pertanyaan retoris – “Tebak, berapa jumlah pandawa...” bukan sekadar pertanyaan faktual, melainkan pancingan untuk merenung lebih dalam.
Puisi "Pertanyaan Karna pada Arjuna" karya Lasinta Ari Nendra Wibawa adalah karya singkat yang berhasil menggugah pembaca melalui perenungan filosofis tentang peperangan dan hakikat manusia. Pertarungan Karna dan Arjuna dalam Mahabharata dihadirkan bukan hanya sebagai konflik fisik, tetapi juga refleksi tentang hidup, takdir, dan makna fitrah manusia. Dengan bahasa padat dan simbolis, puisi ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap pertarungan, ada pertanyaan yang jauh lebih besar: siapa kita, dan untuk apa kita berjuang.

"Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa"
Puisi: Pertanyaan Karna pada Arjuna
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa
© Sepenuhnya. All rights reserved.