Analisis Puisi:
Puisi “Roda” karya Lasinta Ari Nendra Wibawa mengangkat realitas kehidupan dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Roda kendaraan dijadikan simbol perjalanan, kerja keras, dan pengabdian tanpa henti. Lewat puisi ini, penyair berhasil menyuarakan suara benda yang sering dilupakan, tetapi justru memiliki peran besar dalam kehidupan manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pengabdian tanpa pamrih dan nasib yang terlupakan. Roda menjadi representasi bagi mereka yang bekerja keras menopang kehidupan, tetapi jarang mendapat penghargaan.
Puisi ini bercerita tentang roda kendaraan yang terus berputar menjalankan tugasnya. Ia mengikuti ke mana kendaraan bergerak, baik di jalan menikung, lurus, berbatu, panas, becek, atau mulus. Namun, pada akhirnya roda hanya menjadi “kuli” bagi mesin dan kemudi, terus bekerja hingga aus tanpa mendapat penghargaan.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah potret kehidupan manusia kecil yang bekerja keras demi orang lain namun sering terlupakan. Roda melambangkan buruh, pekerja kasar, atau orang-orang yang menopang sistem sosial tetapi jarang dipandang penting. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan posisi mereka dalam kehidupan sehari-hari, yang seperti roda: penting, tetapi kerap diabaikan.
Suasana dalam puisi
Suasana yang tercermin dalam puisi ini adalah lirih, getir, dan penuh kesadaran akan nasib yang harus diterima. Ada nuansa pasrah sekaligus kritik halus terhadap ketidakadilan dalam cara dunia memberi apresiasi.
Amanat / pesan yang disampaikan
Amanat puisi ini adalah menghargai peran kecil yang sering kita anggap sepele. Tanpa roda, kendaraan tak akan berjalan. Begitu juga dalam hidup, tanpa kerja keras orang-orang yang berada “di bawah”, kehidupan tak mungkin bergerak. Pesan lainnya adalah pentingnya memberi apresiasi kepada pengabdian yang sering tidak terlihat.
Imaji
Beberapa imaji yang hadir dalam puisi ini antara lain:
- “roda-roda kendaraan di penjuru negeri” → menghadirkan imaji visual tentang roda yang memenuhi jalanan.
- “entah berbatu panas licin becek ataukah mulus” → menghadirkan imaji jalanan dengan kondisi yang beragam.
- “menjadi aus adalah hal yang harus / kami terima saat melintas arus” → imaji visual sekaligus simbolis tentang roda yang perlahan rusak.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas, antara lain:
- Personifikasi: roda digambarkan bisa berbicara, mengabdi, dan menerima nasib.
- Metafora: roda menjadi lambang bagi buruh atau orang-orang kecil yang bekerja tanpa henti.
- Repetisi: pengulangan kata “kami” menekankan suara kolektif roda yang mewakili banyak orang.
Puisi “Roda” karya Lasinta Ari Nendra Wibawa menyuguhkan renungan sederhana namun dalam tentang makna kerja keras dan pengabdian. Dengan menjadikan roda sebagai simbol, penyair berhasil menyoroti bagaimana sesuatu yang terlihat kecil dan sering terlupakan justru sangat menentukan jalannya kehidupan. Tema pengabdian, makna tersirat tentang penghargaan yang jarang ada, suasana getir, imaji yang konkret, dan majas personifikasi membuat puisi ini kaya tafsir serta menyentuh pembaca.
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa
