Analisis Puisi:
Puisi “Selamat Tinggal” karya Aspar Paturusi merupakan sebuah refleksi sederhana namun sarat makna tentang perjalanan waktu, kenangan, dan perpisahan. Melalui bait-bait yang singkat, penyair menyampaikan bagaimana hidup berjalan, bagaimana masa lalu selalu hadir dalam ingatan, namun pada akhirnya manusia dituntut untuk melepaskan dengan sikap ikhlas.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perpisahan dan penerimaan terhadap perjalanan hidup. Aspar Paturusi menegaskan bahwa waktu terus berjalan, dan dengan berlalunya tahun-tahun, seseorang harus mampu berdamai dengan masa lalu.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungkan berlalunya waktu, mengingat kenangan lama, menyimpan rasa sesal, dan akhirnya mengucapkan perpisahan. Perpisahan yang dimaksud bukan hanya pada sosok tertentu, melainkan pada kenangan dan masa lalu yang tak bisa diulang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah ajakan untuk menerima kenyataan hidup. Tidak semua hal bisa dipertahankan, dan manusia harus berani melepaskan. Dengan mengatakan “selamat tinggal,” penyair menyiratkan sikap ikhlas untuk meninggalkan penyesalan, rasa kesal, atau kenangan pahit demi melanjutkan hidup yang lebih tenang.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang tergambar dalam puisi ini adalah hening, reflektif, sekaligus getir. Ada kesan keikhlasan dalam menerima kenyataan, tetapi juga terdapat nuansa kesedihan yang ditinggalkan oleh kenangan dan sesal.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa hidup selalu berjalan maju, dan manusia harus mampu mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu yang tidak lagi bisa diubah. Dengan melepaskan, seseorang dapat menemukan kedamaian dan melangkah lebih ringan ke masa depan.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji temporal yang kuat, terutama pada pengulangan larik “tahun-tahun berlalu” yang membuat pembaca membayangkan perjalanan waktu yang tak terbendung. Imaji emosional juga muncul pada frasa “kubur rasa kesal / juga sesal,” yang menggambarkan usaha manusia untuk menghapus luka batin.
Majas
Beberapa majas yang hadir dalam puisi ini antara lain:
- Repetisi, pada pengulangan larik “tahun-tahun berlalu” di setiap bait, yang menegaskan kesinambungan waktu.
- Metafora, pada frasa “kubur rasa kesal,” yang bukan bermakna harfiah melainkan simbol usaha melupakan atau menghapus emosi negatif.
- Elipsis, pada bait terakhir yang singkat dan padat: “tak ada pilihan: / selamat tinggal,” yang memberi kesan dramatis dan final.
Puisi "Selamat Tinggal" karya Aspar Paturusi memperlihatkan betapa kuatnya ungkapan sederhana dalam merekam perasaan manusia. Dengan bahasa yang ringkas, penyair berhasil menyampaikan pesan universal tentang perjalanan hidup, kesedihan yang harus dilepas, dan keberanian untuk berkata “selamat tinggal.” Puisi ini mengajarkan bahwa melepaskan bukan berarti kalah, melainkan sebuah langkah menuju kedewasaan dan ketenangan batin.
Karya: Aspar Paturusi
Biodata Aspar Paturusi:
- Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
- Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
