Analisis Puisi:
Tema utama dari puisi “Senja” adalah refleksi perasaan manusia terhadap waktu, kerinduan, dan kenangan masa lalu. Senja dijadikan sebagai simbol antara pertemuan dan perpisahan, juga antara ingatan dan kenyataan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memandang senja sebagai cermin dari perjalanan batin dan hubungan personalnya dengan sosok lain. Ada percampuran antara suasana alam (senja, daun kering, angin, bulan, bebunga) dengan perasaan manusia yang penuh kenangan. Penyair menampilkan senja sebagai ruang dialog, tempat kegelisahan, kerinduan, dan penyesalan bertemu.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah pesan bahwa waktu terus berjalan, tetapi manusia sering terikat pada kenangan dan rasa kehilangan. Senja melambangkan masa transisi—antara terang dan gelap—sebagaimana manusia yang kerap berada dalam persimpangan antara harapan dan penyesalan. Selain itu, puisi ini mengajarkan bahwa keangkuhan manusia sebaiknya ditekan, digantikan dengan kerendahan hati dan kenangan indah yang pernah ada.
Suasana dalam puisi
Suasana yang tergambar dalam puisi ini adalah melankolis, reflektif, dan syahdu. Senja yang biasanya membawa keindahan di sini dipadukan dengan rasa kerinduan dan keheningan, menciptakan atmosfer yang penuh perasaan mendalam.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat dari puisi ini adalah menghargai waktu dan masa lalu sebagai bagian dari kehidupan, serta belajar menekan ego dan keangkuhan demi merawat hubungan serta kenangan indah. Penyair seolah mengingatkan bahwa kesadaran akan waktu seharusnya menjadikan kita lebih rendah hati dan menghargai kebersamaan.
Imaji
Puisi “Senja” kaya dengan imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji visual: “kelelawar bersilangan antara kau dan waktu”, “daun kering yang luruh dalam senjamu”, “bulan dan kita masih wangi bebunga di bukit rasa.” Imaji ini menghadirkan gambaran alam yang nyata di hadapan pembaca.
- Imaji perasaan: adanya rasa rindu, kerinduan pada masa lalu, dan perasaan melankolis yang lekat dalam tiap larik.
Majas
Hasbi Burman menggunakan beberapa majas dalam puisinya:
- Personifikasi: “kupaku waktu agar musim tak mengirim iklim”, waktu diperlakukan seolah-olah bisa dipaku dan dihentikan.
- Metafora: senja sebagai simbol perjalanan hidup, transisi, dan perasaan manusia.
- Hiperbola: “membekukan lincah angin”, sebuah gambaran yang dilebih-lebihkan untuk menegaskan suasana hening.
- Simbolisme: “daun kering” sebagai lambang usia dan kefanaan, “bulan” serta “bebunga” sebagai lambang keromantisan masa lalu.
Puisi “Senja” karya Hasbi Burman bukan hanya sekadar lukisan alam senja, tetapi juga cerminan perjalanan batin manusia yang penuh dengan kenangan, penyesalan, dan refleksi diri. Dengan tema waktu dan kenangan, puisi ini mengajak pembaca untuk merenung bahwa hidup adalah rangkaian pertemuan dan perpisahan, terang dan gelap, kerendahan hati dan keangkuhan. Imaji yang indah dan majas yang kuat menjadikan puisi ini bernuansa melankolis sekaligus penuh makna.
Puisi: Senja
Karya: Hasbi Burman
Biodata Hasbi Burman:
- Hasbi Burman (Presiden Rex) lahir pada tanggal 9 Agustus 1955 di Lhok Buya, Aceh Barat.