Slarang Field, Kesugihan
Lelaki itu-itu juga melempar kondom basah
Ke sawah.
Mudah-mudahan ini pasangan terakhir,
Bakal menetap di bumi.
Entah dari desa apa berasal,
Adam-Hawa entah bukan,
Berbimbingan ke barat yang mendesak
Ingin dipadamkan.
Sekali lagi
Sore jadi surga yang menjelma di ladang-ladang,
Pencari pasir tidak merasakan
Detak was-was jantungnya.
Limabelas tahun sudah, bersama para santri,
Serayu tua menanti -
Di desanya malam tidak hanya
Dilewati kawat bermil-mil panjang.
Air, mukjizat musim hujan,
Selalu deras nuju muara.
Ini yang dikhawatirkan angin,
Bukit dan awan -
Rimbun anak pisang berakar di tepian
Menghisap semena-mena Cinta yang ditabur
Dengan benar dari pinggir jembatan.
Esoknya, semangka yang terangkat
Dari rumpunnya
Tinggal merahnya bercecer dalam kencing.
1996
Sumber: Horison (September, 2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Slarang Field, Kesugihan" karya Badruddin Emce menghadirkan lanskap pedesaan, perjumpaan manusia, dan tanda-tanda sosial yang penuh simbol. Dengan diksi yang lugas sekaligus metaforis, puisi ini memadukan pengalaman sehari-hari dengan refleksi mendalam tentang kehidupan, cinta, waktu, dan alam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah persinggungan antara kehidupan manusia, cinta, dan alam yang menyimpan rahasia sosial maupun spiritual. Ada pertemuan intim yang bersinggungan dengan religiositas, sejarah, hingga kesadaran ekologis.
Puisi ini bercerita tentang sebuah pengalaman di ladang (Slarang Field, Kesugihan) yang menghadirkan sosok lelaki, pasangan, dan lanskap pedesaan. Ada kesan tentang pertemuan yang intim, refleksi sejarah “limabelas tahun bersama para santri”, serta alam yang terus bergerak: sungai Serayu, bukit, angin, hujan, dan tumbuhan. Semua detail itu meramu sebuah narasi tentang kehidupan di desa yang sederhana, tetapi juga menyimpan problem sosial dan batiniah.
Makna Tersirat
Beberapa makna tersirat dari puisi ini antara lain:
- Kehidupan pedesaan menyimpan paradoks: ada cinta, gairah, dan keintiman yang dijalani, namun juga terikat dengan tradisi dan religiositas (santri, doa, was-was, surga sore).
- Alam sebagai saksi: sungai, bukit, awan, pisang, hingga semangka menjadi metafora perjalanan waktu, keberlangsungan hidup, sekaligus saksi bisu dari peristiwa manusia.
- Kerapuhan hidup: citraan “semangka tinggal merahnya bercecer dalam kencing” mengisyaratkan kefanaan dan kerusakan, seolah kehidupan manusia dan alam saling memengaruhi, tak selalu harmonis.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa campuran antara religius, erotis, sekaligus muram. Ada sisi keintiman yang diungkap secara lugas, namun diiringi dengan bayangan was-was, doa, dan kekhawatiran akan perubahan alam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap:
- Kehidupan tidak bisa dipisahkan dari cinta, hasrat, dan alam yang menjadi ruang hidup manusia.
- Alam adalah saksi dan sekaligus peringatan; ia bisa menjadi ladang subur, tapi juga bisa menunjukkan tanda-tanda kehancuran.
- Setiap manusia perlu menyadari bahwa waktu, sejarah, dan cinta berjalan berdampingan dengan alam, sehingga menjaga keseimbangan menjadi penting.
Imaji
Puisi ini sarat dengan imaji yang kuat:
- Imaji visual: “melempar kondom basah ke sawah”, “semangka tinggal merahnya bercecer”, menghadirkan gambaran nyata dan mengejutkan.
- Imaji alam: sungai Serayu, bukit, angin, hujan, rimbun anak pisang — melukiskan lanskap pedesaan yang penuh detail.
- Imaji religius: para santri, doa, surga sore — menggabungkan pengalaman spiritual dengan kehidupan sehari-hari.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini:
- Metafora: “sore jadi surga yang menjelma di ladang-ladang” menggambarkan momen cinta atau kedamaian yang sakral.
- Personifikasi: “ini yang dikhawatirkan angin, bukit dan awan” memberi sifat manusia pada alam.
- Simbol: semangka yang pecah menjadi simbol kefanaan, cinta yang sementara, atau kehidupan yang tak abadi.
- Ironi: ada kontras antara kesan religius (santri, doa, surga) dengan realitas duniawi (kondom, gairah cinta, kerusakan).
Puisi "Slarang Field, Kesugihan" mengajak pembaca merenungi hubungan manusia dengan alam, cinta, dan spiritualitas. Badruddin Emce memadukan detail pedesaan dengan simbol-simbol universal yang menyentuh sisi sosial dan eksistensial. Ia menampilkan betapa rapuh sekaligus kuatnya kehidupan, di mana cinta, alam, dan doa terus bergulir, meninggalkan jejak yang tak selalu mudah ditafsirkan.
Puisi: Slarang Field, Kesugihan
Karya: Badruddin Emce
Biodata Badruddin Emce:
- Badruddin Emce lahir di Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Juli 1962.