Sumber: Buku Puisi (1973)
Analisis Puisi:
Puisi "Sonet buat Ika" karya Hartojo Andangdjaja merupakan salah satu sajak yang menyimpan lapisan perasaan sekaligus refleksi perjalanan hidup. Melalui bentuk soneta, penyair mengisahkan percakapan batin tentang masa lalu, kenangan, dan jarak emosional yang tercipta antara “aku” lirik dengan sosok “engkau” yang hadir dalam puisi.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kerinduan yang berhadapan dengan keterasingan. Penyair menampilkan benturan antara kenangan masa kecil yang manis dengan kenyataan kini yang telah berubah, sehingga hubungan yang dulunya akrab menjadi terasa jauh.
Puisi ini bercerita tentang seorang “aku” lirik yang merasa dihantui oleh sosok masa lalu (“engkau”) yang seolah mengikuti dari bukit ke bukit. Dulu, mereka pernah berbagi kenangan di rumah dan kebun—bermain, berlari, menangkap nyanyian, serta mengejar mimpi. Namun, kini sosok itu dianggap asing. Sang “aku” meminta “engkau” untuk pulang, sebab ada panggilan lain—baik dari alam (puncak biru yang memanggil) maupun dari kehidupan nyata (ibu dan kekasih yang menunggu).
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah tentang perjalanan waktu yang mengubah kedekatan menjadi jarak. Kenangan indah masa lalu tidak selalu bisa dihidupkan kembali dalam realitas sekarang. Ada juga pesan mengenai keterasingan dalam nostalgia: meski kenangan hadir begitu jelas, orang yang terlibat dalam kenangan itu tidak lagi sama. Puisi ini bisa pula dimaknai sebagai refleksi peralihan dari masa muda yang penuh mimpi menuju kedewasaan yang menuntut tanggung jawab baru.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, penuh kerinduan namun juga mengandung jarak emosional. Ada kesan rindu yang hangat pada masa lalu, tetapi sekaligus dingin karena kenyataan menunjukkan bahwa hubungan itu tidak bisa lagi dihidupkan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah bahwa manusia tidak dapat terus hidup dalam bayang-bayang kenangan. Masa lalu memang indah, namun setiap orang memiliki jalan dan panggilannya masing-masing di masa kini. Ada saatnya untuk melepaskan dan kembali pada realitas, pada orang-orang yang menunggu, serta pada tanggung jawab kehidupan.
Imaji
Hartojo menggunakan imaji yang kuat untuk menggambarkan suasana batin:
- Imaji visual: “dari puncak ini tinggal nampak gugusan alit, rumah yang dulu berkilau, kebun yang dulu menghijau” — menghadirkan lanskap kampung halaman yang mulai memudar.
- Imaji gerak: “dua anak berlarian di kebun rumah” — membangkitkan kenangan masa kecil yang hidup dan penuh energi.
- Imaji auditif: “bila canang bertalu” — bunyi tradisional yang seakan menjadi penanda panggilan kehidupan nyata.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: “biru puncak memanggil daku” — puncak digambarkan seolah-olah memiliki kemampuan untuk memanggil.
- Metafora: “memburu mimpi putih di pagi merah” — mimpi putih dimaknai sebagai harapan atau cita-cita yang dikejar di tengah gejolak kehidupan (pagi merah).
- Repetisi: kata “Pulanglah” diulang sebagai penegasan ajakan untuk kembali pada realitas.
Puisi "Sonet buat Ika" menghadirkan perenungan tentang kerinduan, keterasingan, dan perjalanan hidup. Melalui tema kerinduan yang berubah menjadi jarak, sajak ini bercerita tentang pergeseran hubungan manusia akibat waktu. Makna tersirat yang muncul adalah perlunya menerima perubahan dan melepaskan masa lalu, dengan suasana melankolis namun penuh pesan kehidupan. Imaji dan majas yang digunakan memperkaya pengalaman pembaca, membuat puisi ini tidak hanya menyentuh sisi emosional, tetapi juga menghadirkan gambaran yang indah sekaligus mengharukan.
Puisi: Sonet buat Ika
Karya: Hartojo Andangdjaja
Biodata Hartojo Andangdjaja:
- Edjaan Tempo Doeloe: Hartojo Andangdjaja.
- Ejaan yang Disempurnakan: Hartoyo Andangjaya.
- Hartojo Andangdjaja lahir pada tanggal 4 Juli 1930 di Solo, Jawa Tengah.
- Hartojo Andangdjaja meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 1990 (pada umur 60 tahun) di Solo, Jawa Tengah.
- Hartojo Andangdjaja adalah salah satu Sastrawan Angkatan '66.