Analisis Puisi:
Dorothea Rosa Herliany dikenal sebagai salah satu penyair perempuan Indonesia yang kuat dalam menghadirkan bahasa yang padat, emosional, sekaligus reflektif. Dalam puisi "Stasiun Kesekian", ia menggambarkan pengalaman manusia dalam menghadapi persimpangan hidup, keterlambatan, dan jarak emosional yang hadir di antara sesama. Seperti banyak karyanya, puisi ini menyimpan kesan personal namun sekaligus universal, seolah setiap pembaca bisa merasakan denyut kegelisahan yang ia tuangkan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterasingan, penantian, dan jarak emosional dalam relasi manusia. Stasiun dijadikan simbol perjalanan hidup yang penuh penundaan, perpisahan, dan luka yang tak mudah diatasi.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di stasiun, di tengah keramaian orang-orang yang bergegas, tetapi justru merasakan kesepian dan kehilangan. Ia menunda percintaan, menyimpan separuh hati, serta mengusung luka-luka sendiri. Sementara itu, sosok lain—yang diduga kekasih atau orang terdekat—hanya larut dalam tidurnya, tanpa menyadari atau memahami perasaan sang aku lirik.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah ketidakselarasan dalam hubungan dan realitas hidup. Kehidupan sering kali menghadirkan momen penantian yang penuh kecemasan, sementara orang lain tampak tenang atau bahkan abai. Puisi ini juga menyiratkan bahwa cinta tidak selalu hadir bersamaan; ada kalanya salah satu pihak menanggung luka seorang diri, sementara yang lain larut dalam ketidakpedulian.
Suasana dalam puisi
Suasana yang dibangun dalam puisi ini adalah cemas, gelisah, dan penuh kesepian. Walau stasiun biasanya ramai dengan hiruk pikuk orang, sang aku lirik justru merasa terasing. Ada rasa sepi di tengah keramaian, serta luka batin yang tidak terlihat oleh orang lain.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini dapat ditafsirkan sebagai pengingat bahwa hidup dan cinta sering menuntut kesabaran, namun juga mengajarkan tentang kesendirian dan penerimaan luka. Puisi ini seolah mengajak pembaca untuk memahami bahwa tidak semua orang bisa berbagi beban, dan terkadang manusia harus siap menghadapi kesepian dalam perjalanan hidupnya.
Imaji
Dorothea Rosa Herliany menghadirkan imaji yang kuat, misalnya:
- “di peron mengucur keringat dan kecemasan” → menghadirkan gambaran fisik dan emosional sekaligus.
- “ribuan orang bergegas” → imaji visual tentang keramaian stasiun.
- “kutunda percintaan. separoh hatiku masih kusimpan.” → imaji emosional tentang pengekangan perasaan.
- “kuusung luka-luka sendiri” → imaji yang menghadirkan rasa pedih yang dibawa tanpa ada yang menolong.
Imaji dalam puisi ini memperkuat suasana sepi di tengah keramaian.
Majas
Beberapa majas yang menonjol antara lain:
- Metafora: “kereta tak juga berangkat” bisa dimaknai bukan hanya tentang kereta yang tertunda, tetapi simbol perjalanan hidup dan percintaan yang tidak berjalan sesuai harapan.
- Personifikasi: “kebekuan rindu membekas di rel yang dingin” → rindu digambarkan seolah bisa membekas secara nyata.

Puisi: Stasiun Kesekian
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Biodata Dorothea Rosa Herliany:
- Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
- Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.