Sumber: Buli-Buli Lima Kaki (2010)
Analisis Puisi:
Puisi "Tulisan pada Nisan" karya Nirwan Dewanto adalah salah satu puisi yang sarat dengan refleksi eksistensial, kematian, dan pergulatan manusia dengan nasib. Puisi ini memperlihatkan pertemuan antara individu dengan takdir yang tak terelakkan, sembari memunculkan bayangan luka sejarah dan kemanusiaan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kematian dan kepasrahan manusia terhadap takdir. Penyair menghubungkan pengalaman personal dengan realitas sosial—seperti tragedi di Gaza—sehingga kematian dipandang tidak hanya sebagai pengalaman pribadi, tetapi juga sebagai bagian dari penderitaan kolektif umat manusia.
Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh lirik yang berbicara dari perspektif kematian, seolah-olah ia sedang berbaring di nisan dan mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan. Ia memakai pakaian putih yang biasanya diasosiasikan dengan kematian, membawa bercak darah, lalu menyinggung tragedi Gaza sebagai simbol luka kemanusiaan. Akhirnya, ia menegaskan bahwa dirinya sudah menjadi bagian dari bumi, menandai keterikatan abadi dengan tanah sebagai rumah terakhir manusia.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kematian adalah kepastian yang meleburkan manusia dengan bumi, namun sekaligus mengandung refleksi tentang penderitaan dunia yang masih berlangsung. Penyair menyelipkan ironi, bahwa meski orang mati berpisah dari cahaya dan kehidupan, mereka tetap membawa kenangan tentang kekerasan, luka, dan sejarah. Ada pula pesan tentang keikhlasan menerima kefanaan, meskipun hidup diwarnai tragedi.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang muncul adalah sunyi, muram, dan kontemplatif. Kematian dihadirkan bukan hanya sebagai akhir perjalanan, tetapi juga sebagai ruang refleksi. Ada nada getir sekaligus pasrah, namun tetap menyisakan luka sejarah yang belum selesai.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan puisi ini adalah bahwa manusia harus menyadari kefanaannya. Hidup, betapa pun keras dan penuh luka, akan bermuara pada kematian. Namun, kematian bukan hanya akhir, melainkan juga penyatuan kembali dengan bumi, tempat asal dan tujuan manusia. Selain itu, puisi ini mengingatkan kita pada penderitaan kemanusiaan global (seperti Gaza), yang tak boleh dilupakan.
Imaji
Puisi ini menghadirkan sejumlah imaji kuat:
- Imaji visual: “Kukenakan pakaian panjang putih” menggambarkan pakaian kematian atau kafan.
- Imaji darah: “Masih ada bercak darah kubawa” memberi gambaran konkret tentang luka fisik dan penderitaan.
- Imaji alam: “Namaku telanjur terpahat di batu gamping ini” melukiskan nisan sebagai penanda abadi.
- Imaji bumi: “Ia bumi, bukan? Aku belajar mencintainya” menghadirkan simbol kepasrahan dan keterikatan dengan tanah.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini:
- Personifikasi – “Supaya ia leluasa menodaiku” menggambarkan bumi seakan memiliki kehendak.
- Metafora – “Kukenakan pakaian panjang putih” sebagai lambang kematian dan kefanaan.
- Ironi – meskipun kematian sudah dipastikan, tokoh lirik masih membawa “bercak darah” dari dunia hidup.
- Repetisi – pengulangan gagasan tentang kematian dan bumi untuk menegaskan pesan pasrah.
Puisi "Tulisan pada Nisan" karya Nirwan Dewanto adalah refleksi mendalam tentang kematian, kepasrahan, dan keterikatan manusia dengan bumi. Dengan tema kefanaan dan penderitaan, puisi ini bercerita tentang seseorang yang telah meninggalkan kehidupan, namun masih membawa jejak luka dunia. Makna tersiratnya mengajarkan tentang penerimaan akan takdir, sembari menyentil kenyataan pahit sejarah yang penuh darah. Suasana muram dan kontemplatif diperkuat dengan imaji visual yang kuat serta penggunaan majas metafora dan personifikasi. Pada akhirnya, puisi ini menyampaikan bahwa kematian adalah kepastian, tetapi dalam kepastian itu terselip kenangan, luka, sekaligus keabadian dalam bumi.
Profil Nirwan Dewanto:
- Nirwan Dewanto lahir pada tanggal 28 September 1961 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
