Puisi: Sajak Duka Perempuan Tua (Karya Diah Hadaning)

Puisi "Sajak Duka Perempuan Tua" karya Diah Hadaning menggambarkan perjalanan hidup perempuan tua dengan penuh kedalaman emosional dan simbolik.
Sajak Duka Perempuan Tua

Duka-duka hari ini duka perempuan tua
yang melekat jadi kemelut di sudut-sudut mata keriput
dan menguap bersama sebutir peluh dan sepotong harap
tentang warna yang lain
dari lembar-lembar mimpi perempuan tua
yang berjalan dari kota ke lain kota
mencari bayang remaja yang tak mungkin
kembali dalam rona merah jingga
sementara matahari semakin memijar di langit lepas
memijar di ubun-ubun berkerut keras
namun perempuan tua masih mencoba bicara
tentang masa lalu, nostalgia, dan seguci madu
oi, sambutlah tanganku yang ramping wahai penggemarku
di sini aku kan perankan lakon drama paling cantik
tentang segala kisah anak manusia
cinta kasih maupun durhaka
bibir perempuan tua pucat kehitaman
bagai sesayat buah bergetah dan alum
memekik menghantar nafas tak pernah puas
semenjak satu mahkota pernah bertengger di kepala
sebagai Primadona
tapi siapa mendengarnya
hari ini terlalu banyak bencana
yang menyita segenap rasa
dari pada sepotong drama perempuan tua.

Jakarta, 1978

Analisis Puisi:

Puisi "Sajak Duka Perempuan Tua" karya Diah Hadaning menghadirkan sosok perempuan lansia yang sarat dengan kenangan, kehilangan, dan kesedihan. Melalui bahasa puitis yang kuat, penyair menampilkan pengalaman batin, nostalgia, serta refleksi terhadap perjalanan hidup yang penuh dinamika.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesepian, nostalgia, dan duka perempuan tua. Puisi ini menyoroti perjalanan hidup seorang perempuan yang menghadapi kenyataan masa tua, mengenang masa remaja, dan mengekspresikan kerinduan terhadap pengalaman yang tak bisa kembali.

Puisi ini bercerita tentang perempuan tua yang mengenang masa lalu, menyelami kenangan dan kegagalan, serta berusaha tetap menghadapi hidup meski banyak kehilangan. Sosok ini berjalan dari kota ke kota, mencari bayangan masa muda yang telah hilang, sambil mempertahankan identitasnya sebagai seorang perempuan yang pernah menjadi pusat perhatian atau primadona.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Kerapuhan manusia dalam menghadapi usia tua – puisi ini menampilkan bagaimana waktu dan pengalaman meninggalkan bekas pada fisik dan batin manusia.
  • Keabadian pengalaman dan kenangan – meski fisik menua, ingatan dan perasaan masa muda tetap hidup dalam jiwa perempuan tua.
  • Refleksi sosial dan emosional – kesedihan perempuan tua juga merefleksikan kondisi masyarakat yang sibuk dengan bencana dan hiruk-pikuk, sehingga kisah hidup dan drama pribadi sering tak terdengar.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini menghadirkan suasana melankolis, duka, dan hening penuh kontemplasi. Kata-kata seperti “duka melekat di sudut mata keriput” dan “hari ini terlalu banyak bencana” menciptakan atmosfer sedih, berat, dan penuh refleksi. Suasana ini menekankan rasa kehilangan, kesendirian, dan keterasingan perempuan tua dalam masyarakat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini meliputi:
  • Hargai pengalaman dan kisah hidup orang tua – setiap individu memiliki cerita yang patut didengar dan dihargai.
  • Kehidupan penuh dinamika dan kehilangan – meski banyak kenangan yang hilang atau tidak tersampaikan, pengalaman tersebut tetap membentuk identitas dan nilai manusia.
  • Empati terhadap kesepian dan duka – puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari kesedihan orang tua dan memberi perhatian pada mereka.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji, misalnya:
  • Imaji visual: “mata keriput”, “bibir perempuan tua pucat kehitaman”, “mahkota pernah bertengger di kepala”.
  • Imaji kinestetik: “berjalan dari kota ke lain kota”, “memekik menghantar nafas”.
  • Imaji auditori: meskipun dominan visual, ada kesan suara dari “memekik menghantar nafas” yang menambah dramatisasi.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini:
  • Metafora – “bibir perempuan tua pucat kehitaman bagai sesayat buah bergetah” menekankan kerentanan fisik dan emosional.
  • Personifikasi – duka yang “melekat di sudut mata” seolah memiliki kehendak sendiri.
  • Hiperbola – “hari ini terlalu banyak bencana” menekankan intensitas kesedihan yang dirasakan perempuan tua.
  • Simile / perbandingan – penggunaan kata “bagai” untuk menekankan perbandingan visual atau emosional, seperti pada bibir dan buah.
Puisi "Sajak Duka Perempuan Tua" karya Diah Hadaning menggambarkan perjalanan hidup perempuan tua dengan penuh kedalaman emosional dan simbolik. Melalui duka, kenangan, dan refleksi, pembaca diajak menyelami kehidupan yang tidak hanya fisik tetapi juga batin, serta menghargai pengalaman manusia yang sering luput dari perhatian. Puisi ini menjadi cermin empati, nostalgia, dan kontemplasi terhadap waktu dan kemanusiaan.

Puisi Sajak Duka Perempuan Tua
Puisi: Sajak Duka Perempuan Tua
Karya: Diah Hadaning
© Sepenuhnya. All rights reserved.