Akan!
Esok lusa akan kumulai menulis puisi
dengan tinta air samudra yang tak pernah kering
Esok lusa akan kuserap semua gerak
di jagat raya ini dan akan kuungkapkan
dalam sebuah puisi
Esok lusa akan kujelajah bintang-bintang
akan kutuangkan dalam puisi
yang maha pendek terdiri dari tiga suku kata
kata: Ku
a
sa
Esok lusa akan kutelusur ladang-ladang mimpi
relung-relung hati para penyair
kan kuurai dalam puisi
Sumber: Bunga Anggrek untuk Mama (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1981)
Analisis Puisi:
Puisi “Akan!” karya Sherly Malinton merupakan sebuah refleksi tentang tekad, proses kreatif, dan cita-cita seorang penyair dalam memahami kehidupan serta menuangkannya menjadi karya seni. Puisi ini berbentuk sederhana namun sarat makna, memadukan semangat, spiritualitas, dan kesadaran akan kekuatan kata-kata. Dengan gaya puitik yang khas, Sherly Malinton berhasil menghadirkan suasana penuh janji dan harapan akan masa depan yang diisi dengan penciptaan dan perenungan.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah semangat kreatif dan tekad untuk berkarya. Penyair menggambarkan niatnya untuk menulis puisi bukan sekadar sebagai kegiatan estetis, melainkan sebagai upaya memahami semesta dan mengekspresikan makna kehidupan.
Kata “akan” yang diulang di awal setiap bait menegaskan optimisme dan janji diri — sebuah pengakuan bahwa proses penciptaan selalu dimulai dari niat dan harapan.
Puisi ini bercerita tentang tekad seorang penyair yang berjanji untuk mulai menulis dan menafsirkan dunia melalui puisi. Ia membayangkan dirinya akan menggunakan “tinta air samudra yang tak pernah kering” — sebuah simbol kekuatan dan keabadian inspirasi. Penyair ingin menyerap seluruh gerak di jagat raya, menjelajahi bintang-bintang, hingga menelusuri relung hati para penyair lain. Semua pengalaman itu akan dituangkan menjadi puisi yang mencerminkan perasaan, pemikiran, dan spiritualitas manusia.
Bait yang menyebut “puisi yang maha pendek terdiri dari tiga suku kata: Ku-a-sa” menjadi titik puncak puisi ini — menegaskan bahwa hakikat puisi dan kehidupan sejati berpulang pada Kuasa Tuhan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi “Akan!” adalah kesadaran akan kekuatan ilahi dalam proses penciptaan seni dan kehidupan. Penyair menempatkan dirinya bukan sebagai pusat semesta, melainkan sebagai pengamat yang berusaha memahami kebesaran Tuhan melalui bahasa dan imajinasi.
Baris “dengan tinta air samudra yang tak pernah kering” menyiratkan makna bahwa inspirasi sejati tidak akan pernah habis selama manusia mau merenung dan bersyukur. Sementara “akan kujelajah bintang-bintang” menggambarkan pencarian makna yang luas — sebuah perjalanan batin yang tidak berhenti pada keindahan fisik, tetapi menembus dimensi spiritual.
Puisi ini juga mencerminkan perjalanan menuju kedewasaan spiritual dan kreatif, di mana penyair berjanji akan menulis tidak hanya dengan pikiran, tetapi dengan seluruh jiwa.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang muncul dalam puisi ini adalah optimistis, reflektif, dan penuh semangat. Ada nuansa ketenangan dan keyakinan, bahwa sesuatu yang besar akan terjadi “esok lusa” — bukan dalam arti waktu yang konkret, tetapi sebagai simbol kesiapan batin untuk berkarya. Puisi ini menebarkan harapan, keyakinan, dan rasa kagum terhadap alam serta Sang Pencipta.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat diambil dari puisi “Akan!” adalah bahwa setiap manusia harus memiliki tekad dan keyakinan untuk berkarya serta menemukan makna hidupnya sendiri. Penyair mengingatkan bahwa proses menuju pencapaian memerlukan niat, kesabaran, dan kesadaran spiritual. Selain itu, puisi ini juga menyampaikan bahwa segala sesuatu berasal dan berakhir pada Tuhan, sebagaimana tercermin dalam kata “Kuasa”.
Sherly Malinton mengajak pembaca untuk menyadari bahwa menulis — atau berkarya dalam bentuk apa pun — adalah bentuk ibadah dan penghormatan terhadap ciptaan-Nya.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji visual dan kosmis, yang memperluas ruang imajinasi pembaca. Beberapa imaji yang menonjol antara lain:
- “tinta air samudra yang tak pernah kering” – menggambarkan keluasan dan keabadian sumber inspirasi.
- “menjelajah bintang-bintang” – menghadirkan citra visual langit malam yang menjadi lambang pencarian makna.
- “ladang-ladang mimpi” dan “relung-relung hati para penyair” – menciptakan imaji batin yang dalam dan reflektif.
Imaji tersebut memperlihatkan bahwa dunia puisi dalam karya ini bukan sekadar dunia kata-kata, tetapi ruang spiritual di mana penyair bertemu dengan alam dan Tuhannya.
Majas
Sherly Malinton menggunakan berbagai majas (gaya bahasa) untuk memperindah dan memperdalam makna puisinya:
- Majas metafora – pada frasa “tinta air samudra yang tak pernah kering”, yang melambangkan sumber inspirasi abadi.
- Majas personifikasi – “angin tiba membelai taman” (dalam puisi lain, tetapi coraknya sama: di sini “gerak di jagat raya” seolah memiliki jiwa dan makna).
- Majas repetisi – kata “Esok lusa akan…” diulang di awal setiap bait, menciptakan ritme dan penegasan tekad.
- Majas simbolik – “Kuasa” sebagai simbol tertinggi yang merujuk pada Tuhan.
Penggunaan majas tersebut menambah kekayaan makna dan keindahan bunyi, sehingga puisi terasa seperti mantra spiritual sekaligus deklarasi kreatif.
Puisi “Akan!” karya Sherly Malinton adalah refleksi spiritual seorang penyair tentang tekad untuk berkarya dan memahami semesta melalui puisi. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh simbol, Sherly menghadirkan dunia yang dipenuhi janji, doa, dan harapan. Ia menegaskan bahwa menulis puisi bukan hanya tentang kata-kata, tetapi tentang usaha mengenali diri, dunia, dan Tuhan.
Tema tentang semangat berkarya, makna tersirat tentang kesadaran ilahi, imaji kosmis, serta majas repetisi dan metafora menjadikan puisi ini sebagai karya yang merenungkan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan dalam ruang waktu yang terus bergerak.
Melalui puisi ini, Sherly Malinton mengajak pembaca untuk berani bermimpi, berani mencipta, dan berani menyadari bahwa pada akhirnya, segala puisi — bahkan hidup itu sendiri — hanyalah pengakuan atas satu kata paling suci: Kuasa.
Karya: Sherly Malinton
Biodata Sherly Malinton:
- Sylvia Sherly Maria Catharina Malinton lahir pada tanggal 24 Februari 1963 di Jakarta.