Analisis Puisi:
Puisi “Album Tua” karya Sugiarta Sriwibawa menghadirkan perenungan mendalam tentang waktu, kenangan, dan kefanaan manusia. Lewat pilihan kata yang puitis dan simbolik, penyair mengajak pembaca menelusuri ingatan masa lalu yang perlahan memudar, namun tetap membekas dalam ruang batin seseorang.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kenangan dan perjalanan hidup. Penyair menyoroti bagaimana masa lalu tersimpan dalam “album tua” — metafora dari ingatan yang mulai lapuk namun sarat makna. Puisi ini juga menggambarkan refleksi tentang ketuaan dan waktu yang tak bisa dielakkan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang masa lalunya melalui bayangan dan fragmen peristiwa yang tersisa dalam ingatan. “Tanganmu terlalu tipis mengais reruntuk kenangan” melukiskan seseorang yang berusaha menggali kembali kenangan lama, tetapi waktu telah membuat semuanya rapuh. Dalam baris-baris selanjutnya, penyair menyinggung tentang perjalanan hidup yang telah menua dan tak lagi sekuat dahulu. Album tua di sini bukan hanya benda fisik, tetapi juga simbol dari kehidupan yang pernah penuh warna dan kini tinggal sisa-sisa kisahnya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kesadaran manusia terhadap kefanaan hidup. Segala yang indah — kenangan, cinta, bahkan kejayaan — akan memudar seiring berjalannya waktu. Namun, kenangan itu tetap memiliki nilai yang tak ternilai karena menjadi bagian dari perjalanan seseorang. “Nadimu kering, mengeras urat kayu meranggas” menggambarkan ketuaan, kehilangan vitalitas, dan sisa daya hidup yang menurun, tetapi masih ada keindahan yang samar seperti “anggrek ungu yang terpencil di rimba hayatmu”. Ungkapan ini bisa ditafsirkan sebagai simbol harapan atau keindahan batin yang tetap hidup di tengah kefanaan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini melankolis dan reflektif. Pembaca seolah diajak menelusuri lembaran lama dalam kehidupan seseorang — ada kesedihan, keheningan, dan rasa pasrah yang lembut. Diksi seperti “reruntuk kenangan”, “lebu sejarah”, dan “gerimis renyai” memperkuat suasana nostalgia yang redup namun indah.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat dari puisi ini adalah agar manusia menghargai perjalanan hidupnya, karena setiap kenangan — betapapun perih atau rapuh — merupakan bagian penting dari diri. Penyair juga seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, dan yang bisa kita lakukan hanyalah berdamai dengan masa lalu, bukan melawannya.
Imaji
Imaji dalam puisi ini sangat kuat dan simbolik, terutama pada aspek visual dan perasaan. “Tanganmu terlalu tipis mengais reruntuk kenangan” menimbulkan gambaran nyata tentang seseorang yang berusaha menggali sisa kenangan dari masa lalu. “Pohon-pohon sedekap” dan “anggrek ungu yang terpencil di rimba hayatmu” menghadirkan suasana visual yang tenang, namun sarat makna filosofis tentang kesepian dan ketahanan. Imaji alam digunakan sebagai cerminan batin manusia.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: “pohon-pohon sedekap” dan “benalu yang justru mengerling” memberikan sifat manusia pada benda mati untuk memperkuat suasana puitis.
- Metafora: “Album tua” sebagai simbol kenangan lama atau masa lalu yang telah usang.
- Simile dan hiperbola halus: “Nadimu kering, mengeras urat kayu meranggas” menyimbolkan ketuaan dan kehilangan semangat hidup dengan perbandingan alam.
Puisi “Album Tua” karya Sugiarta Sriwibawa merupakan karya yang menggugah perenungan tentang perjalanan waktu dan kenangan manusia. Melalui bahasa yang lembut namun tajam secara emosional, penyair menghadirkan harmoni antara alam dan batin manusia. Album tua bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan cermin kehidupan yang telah dilalui dengan segala suka dan dukanya — sebuah renungan sunyi yang menandai kedewasaan dan penerimaan akan kehidupan itu sendiri.