Puisi: Angin Semesta (Karya Djoko Saryono)

Puisi “Angin Semesta” karya Djoko Saryono bercerita tentang perjalanan batin seorang manusia dalam mencari makna hidup dan kebenaran di tengah ...

Angin Semesta (1)

Engkaulah angin semesta
yang singgah di pucuk ombak samudra
yang bergulung-gulung di bola mataku
dan kini menjelma lautan di kampungku
Kau tahu, musim telah khianati waktu
dan aku mengembara dari banjir ke banjir
hingga beku seluruh waktu: di manakah akhir?

Engkaulah angin semesta
tempat tanyaku kau lepaskan seketika
ke dalam sunyi sejati, hening dunia

Angin Semesta (2)

Engkaulah angin semesta,
yang saksikan persalinan almanak tua
Pasti kau tahu, ramadan kini telah tiba
meski banyak lidah teperdaya, terbata
mengeja ayat-ayat abadi Gusti
karena yang tak pasti dipegangi
Pasti kau tahu, kalau tak manusia tak alpa,
maka maafkan segala dosa manusia

Engkaulah angin semesta
yang membopong kasih
dan menaburkan ke hatiku biar bersih.

Angin Semesta (3)

Engkaulah angin semesta
menunjuki jalan lempang sepanjang hutan cinta
akupun menyusuri dengan tak putus rapal doa.
Aneh, berminggu-minggu tak kutemukan ujungnya
dan aku riang terus mengukurinya.
Aneh, jalan itu menikung ke angkasa
makin kujejaki makin meninggi
hingga tak tahu lagi kemana jalan tertinggi
akupun lenyap di ujung jalan yang silau cahaya
astaga! Jalan Cahaya!

Angin Semesta (4)

Engkaulah angin semesta,
membaca tanda demi tanda
yang terbentang di lahan basa
"musim tak bisa kubaca
sebab tak ada titi mangsa"
embusmu di antara pekat perdu tersisa
aku ternganga, tapi temanku berdencing harta.

Angin Semesta (5)

Engkaulah angin semesta,
yang mencatat senja terluka
setelah angin tak bisa dibaca manusia
"musim apakah ini, tandanya selalu mendua?",
semua orang bertanya
tapi jawab dalam kitab tiada

Angin Semesta (6)

Engkaukah angin semesta?
kutahu engkau kolektor jalan dan kaki
yang tersimpan rapi di bilik hati.
Ketika tiba sepi, jalanmu menjulur ke arasi tinggi
dan suara kaki-kakimu makin meninggi tak terperi
bergegas ke waktu abadi, waktu hakiki.

Angin Semesta (7)

Engkaulah angin semesta
yang mengirim kabar tentang kemarau
yang diratapi rekah tanah desa.
Tentu kau tahu, gerimis telah pindah ke mata kita
rinai telah menjelma rajam batu di hati kita
bau basah tanah telah kembali ke jantung semesta.
Lalu apa yang bisa diharap petani kecuali rindu yang silam?
Engkaulah angin semesta
yang mumpuni, menderu mengusir polutan
dan mengajak mendung melawat ke bandar ranggas.

Mataram, 2007

Sumber: Arung Diri (2013)

Analisis Puisi:

Puisi “Angin Semesta” karya Djoko Saryono memiliki tema utama tentang spiritualitas, kesadaran kosmik, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta melalui alam semesta.

Djoko Saryono memanfaatkan angin sebagai simbol yang kompleks — ia bukan sekadar fenomena alam, melainkan perwujudan kekuatan Tuhan, suara waktu, dan saksi perjalanan manusia.

Melalui tujuh bagian puisi (“Angin Semesta 1–7”), penyair memperlihatkan bagaimana manusia berinteraksi dengan alam, waktu, dan dirinya sendiri dalam siklus kehidupan yang tak terelakkan: dari pencarian makna, penyesalan, hingga penyerahan total kepada kehendak Ilahi.

Tema ini juga menyinggung kegelisahan manusia modern yang kehilangan arah spiritual di tengah derasnya perubahan zaman. Angin menjadi lambang pengingat dan penghubung antara manusia yang fana dengan semesta yang abadi.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seorang manusia dalam mencari makna hidup dan kebenaran di tengah perubahan waktu dan rusaknya keseimbangan alam.

Dalam “Angin Semesta (1)”, penyair menggambarkan awal perjalanan: manusia yang bertanya-tanya di tengah bencana dan waktu yang membeku. Baris “aku mengembara dari banjir ke banjir / hingga beku seluruh waktu” melukiskan pencarian spiritual di tengah kehancuran dunia.

Pada bagian berikutnya (“Angin Semesta (2–4)”), angin menjadi saksi kehidupan, pertaubatan, dan pergeseran nilai-nilai manusia. Penyair mengaitkan datangnya bulan Ramadan, ketidakpastian moral manusia, dan kegelisahan karena “musim tak bisa dibaca.” Ini mencerminkan zaman yang kehilangan tanda-tanda keilahian.

Bagian “Angin Semesta (5–7)” menunjukkan perjalanan yang makin spiritual: dari senja yang terluka, musim yang mendua, hingga kesadaran akan kefanaan dan keabadian.

Pada akhirnya, “Angin Semesta (7)” menutup dengan nada elegi dan doa — ketika manusia menyadari bahwa segala kekeringan di dunia hanyalah cerminan dari kekeringan batin sendiri.

Jadi, secara naratif, puisi ini bercerita tentang pencarian eksistensial manusia menuju makna abadi melalui dialog simbolik dengan angin yang mewakili semesta dan Tuhan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam “Angin Semesta” sangat kaya dan berlapis. Djoko Saryono menggunakan angin sebagai simbol Tuhan, alam, dan kesadaran spiritual. Beberapa makna tersirat yang menonjol antara lain:
  1. Angin sebagai simbol kehadiran Tuhan. Dalam setiap bait, angin menjadi saksi dan penggerak kehidupan. Ia tidak terlihat tetapi selalu ada — seperti Tuhan yang hadir dalam setiap napas dan peristiwa dunia.
  2. Manusia dan kehilangan keseimbangan spiritual. Frasa “musim telah khianati waktu” atau “musim tak bisa kubaca sebab tak ada titi mangsa” menyiratkan rusaknya keteraturan kosmos dan hilangnya nilai-nilai ilahi dalam kehidupan modern.
  3. Perjalanan hidup sebagai ziarah spiritual. Dari “banjir ke banjir” hingga “jalan cahaya,” penyair menyiratkan transformasi jiwa dari kegelapan menuju pencerahan. Ini seperti sufisme — perjalanan menuju fana’ (lenyap dalam cahaya Tuhan).
  4. Alam sebagai cermin batin manusia. Saat “gerimis pindah ke mata kita” dan “rinai menjelma rajam batu di hati kita”, Djoko menunjukkan bahwa bencana alam hanyalah refleksi dari kekerasan dan kelalaian manusia sendiri.
Dengan demikian, makna tersirat puisi ini adalah tentang kesadaran bahwa semesta bukan entitas terpisah dari manusia, melainkan cermin dari kondisi spiritualnya.
Ketika manusia rusak, semesta ikut merintih.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini bersifat mistis, reflektif, dan penuh renungan. Pada bagian awal, suasananya kelam dan murung — ada banjir, kebekuan waktu, dan keheningan dunia. Namun seiring perjalanan bait, suasana berubah menjadi hening dan spiritual, terutama ketika angin digambarkan sebagai pembawa kasih dan pembersih hati (“yang membopong kasih dan menaburkan ke hatiku biar bersih”).

Di bagian akhir, suasananya menjadi sublim dan transendental, seperti dalam “akupun lenyap di ujung jalan yang silau cahaya”. Kalimat ini menandakan pengalaman mistik: penyatuan jiwa manusia dengan sumber cahaya (Tuhan).

Suasana keseluruhan puisi ini seperti perjalanan dari kekacauan menuju ketenangan, dari bencana dunia menuju kesadaran surgawi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat dari puisi ini adalah seruan untuk kembali kepada kesadaran spiritual dan menghormati keseimbangan alam semesta. Djoko Saryono mengingatkan bahwa:
  • Manusia tidak bisa lepas dari semesta dan Sang Pencipta. Jika manusia mengabaikan tanda-tanda alam, maka kehancuran spiritual dan ekologis akan terjadi.
  • Kebahagiaan sejati datang dari pembersihan hati dan kedekatan dengan Tuhan. Seperti dalam bait “yang membopong kasih dan menaburkan ke hatiku biar bersih”, penyair menegaskan perlunya penyucian batin.
  • Kesadaran terhadap kefanaan. Hidup hanyalah perjalanan sementara menuju “jalan cahaya.” Maka, manusia perlu menundukkan ego dan menyatu dengan semesta, bukan menguasainya.
Amanat ini mengandung pesan moral, ekologis, sekaligus religius. Djoko Saryono menyampaikan kritik halus terhadap manusia modern yang kehilangan arah spiritual, namun tetap membuka ruang harapan untuk “dibersihkan” oleh angin semesta — kekuatan Ilahi yang menuntun kembali pada kebenaran.

Imaji

Puisi ini sarat dengan imaji alam dan spiritual yang sangat kuat. Imaji-imaji tersebut tidak hanya menggambarkan keindahan visual, tetapi juga menggugah kesadaran batin. Beberapa contoh imaji menonjol:
  • Imaji visual: “pucuk ombak samudra”, “lautan di kampungku”, “jalan lempang sepanjang hutan cinta”, “senja terluka”, “jalan yang silau cahaya” → menghadirkan gambaran indah sekaligus simbolik tentang perjalanan hidup dan alam.
  • Imaji auditori: “bergegas ke waktu abadi”, “angin menderu mengusir polutan” → memberi efek suara yang hidup, menghadirkan suasana gerak dan energi semesta.
  • Imaji perasaan: “gerimis pindah ke mata kita”, “rinai menjelma rajam batu di hati kita” → membangkitkan imaji emosional yang kuat, menunjukkan hubungan erat antara alam dan batin manusia.
Imaji-imaji ini menunjukkan bahwa Djoko Saryono bukan sekadar mendeskripsikan alam, melainkan membangun jembatan spiritual antara manusia dan semesta.

Majas

Djoko Saryono banyak menggunakan majas simbolik, personifikasi, metafora, dan repetisi, yang memperkaya lapisan makna puisinya. Berikut beberapa di antaranya:

Majas Metafora
  • “Engkaulah angin semesta” → metafora untuk Tuhan, ruh alam, atau kesadaran kosmik.
  • “Jalan cahaya” → metafora perjalanan spiritual menuju pencerahan.
Majas Personifikasi
  • “angin yang membopong kasih” dan “angin mencatat senja terluka” → memberikan sifat manusiawi kepada angin, menandakan bahwa semesta juga hidup dan berperasaan.
Majas Simbolik
  • “Banjir”, “kemarau”, “gerimis”, dan “senja” menjadi simbol kondisi moral dan spiritual manusia.
  • “Jalan lempang” dan “hutan cinta” melambangkan jalan menuju Tuhan dan perjalanan iman.
Majas Repetisi
  • Pengulangan kalimat “Engkaulah angin semesta” di setiap bagian menegaskan kekuasaan dan kehadiran abadi sang Angin — simbol Tuhan dan semesta. Repetisi ini menimbulkan efek mantra, menandakan hubungan ritual antara manusia dan alam.
Majas Hiperbola
  • “bergegas ke waktu abadi, waktu hakiki” → memperkuat makna perjalanan menuju keabadian dengan bahasa yang puitis dan agung.
Majas-majas ini menjadikan puisi ini tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga mengandung kedalaman filosofis dan spiritual yang tinggi.

Puisi “Angin Semesta” karya Djoko Saryono adalah karya monumental yang menggambarkan perjalanan spiritual manusia di tengah kerusakan zaman dan kekacauan alam. Djoko Saryono melalui puisi ini menghadirkan renungan bahwa angin bukan hanya hembusan udara, melainkan napas Ilahi yang menyentuh seluruh kehidupan. Dan dalam kesunyian angin itu, manusia dipanggil untuk kembali mengenal dirinya — dan mengenal Tuhannya.

Djoko Saryono
Puisi: Angin Semesta
Karya: Djoko Saryono

Biodata Djoko Saryono:
  • Prof. Dr. Djoko Saryono lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di kota Madiun.
© Sepenuhnya. All rights reserved.