Buku Tulis
Lembaran kosong
Mulia terisi
Goresan ilmu
Setiap tarian pena
Menetap lama dalam
Mengalahkan lupa
Tertata rapi
Tersusun manis
Siap menjawab setiap misteri
Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)
Analisis Puisi:
Puisi “Buku Tulis” karya Emi Fauziati merupakan salah satu puisi anak yang terdapat dalam antologi Surat dari Samudra terbitan Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2018. Meskipun pendek dan sederhana, puisi ini menyimpan kedalaman makna tentang dunia belajar, pengetahuan, dan perjalanan seseorang dalam menulis serta memahami kehidupan. Dengan bahasa yang lembut dan simbolik, penyair berhasil menghadirkan gambaran indah tentang hubungan antara manusia, pena, dan buku tulis.
Tema
Tema utama dalam puisi INI adalah proses belajar dan pentingnya ilmu pengetahuan. Buku tulis digambarkan sebagai ruang kosong yang kemudian dipenuhi oleh “goresan ilmu”. Dari lembaran yang semula putih dan hampa, perlahan-lahan muncul tulisan yang bermakna—sebuah simbol dari tumbuhnya pengetahuan dalam diri manusia.
Tema ini tidak hanya menyinggung aspek akademis, tetapi juga menyiratkan proses pembentukan diri. Setiap tulisan yang tergores dalam buku tulis mencerminkan perjalanan seseorang dalam menimba ilmu, memahami dunia, dan menuliskan kisah hidupnya sendiri.
Puisi ini bercerita tentang buku tulis yang diibaratkan sebagai tempat menanam ilmu dan kenangan. Pada awalnya, buku tulis hanyalah lembaran kosong. Namun seiring waktu, setiap tarikan pena menjadikannya penuh makna.
Baris-baris seperti:
“Lembaran kosong / Mulia terisi / Goresan ilmu”
menggambarkan proses perubahan dari kekosongan menuju pemahaman, dari ketidaktahuan menjadi pengetahuan.
Kemudian pada bait berikut:
“Setiap tarian pena / Menetap lama dalam / Mengalahkan lupa,”
penyair ingin menunjukkan bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk melawan kelupaan. Apa yang tertulis dalam buku tulis menjadi catatan abadi yang tidak mudah hilang.
Di bagian akhir, puisi menggambarkan buku tulis yang “tertata rapi” dan “siap menjawab setiap misteri”, menandakan bahwa ilmu yang tersimpan di dalamnya akan selalu menjadi bekal untuk menghadapi berbagai persoalan hidup.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah penghargaan terhadap ilmu, proses belajar, dan pentingnya menulis sebagai cara untuk mengabadikan pengetahuan.
Buku tulis bukan sekadar benda mati, tetapi simbol dari proses intelektual dan spiritual manusia. Setiap goresan pena adalah hasil dari usaha, kesungguhan, dan keingintahuan seseorang untuk memahami dunia di sekitarnya.
Selain itu, makna lain yang bisa ditarik ialah nilai ketekunan dan kedisiplinan. Buku tulis yang “tertata rapi” menggambarkan sikap teratur dan penuh tanggung jawab terhadap pembelajaran. Puisi ini seolah mengajak anak-anak (dan pembaca umumnya) untuk mencintai ilmu dan menjaga kebiasaan menulis sebagai bentuk pengingat agar pengetahuan tidak menguap begitu saja.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi “Buku Tulis” terasa tenang, lembut, dan penuh semangat belajar. Tidak ada nada keras atau konflik, melainkan suasana damai yang menggambarkan proses belajar yang tulus.
Kata-kata seperti “lembara kosong”, “tarian pena”, dan “tertata rapi” menghadirkan kesan hening dan fokus—seolah pembaca bisa membayangkan seorang anak sedang menulis di mejanya dengan penuh perhatian. Suasana ini membuat puisi terasa menenangkan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap kegiatan belajar.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat utama dari puisi ini adalah pentingnya belajar dan menulis sebagai bentuk menjaga pengetahuan dan ingatan. Melalui simbol buku tulis, penyair mengajak pembaca untuk menghargai proses belajar, bukan hanya hasilnya.
Pesan moral lain yang tersirat ialah bahwa setiap tulisan yang dibuat dengan kesungguhan akan meninggalkan jejak yang abadi. Ilmu yang ditulis tidak akan hilang, karena tulisan mampu “mengalahkan lupa”.
Dengan demikian, puisi ini mengajarkan anak-anak untuk rajin mencatat, menulis, dan memelihara kebiasaan belajar—karena dari sanalah ilmu dan kenangan hidup akan bertumbuh.
Imaji
Puisi ini memiliki imaji visual dan gerak (kinestetik) yang kuat meski disampaikan dengan kata-kata sederhana. Contohnya:
“Lembaran kosong / Mulia terisi / Goresan ilmu”
Gambaran ini menghadirkan visual buku tulis putih yang perlahan diisi dengan tulisan pena. Imaji gerak muncul pada frasa:
“Setiap tarian pena”
yang membuat pembaca dapat membayangkan pena bergerak lincah di atas kertas, seolah menari dengan irama pikiran penulisnya.
Imaji ini menjadikan puisi terasa hidup dan hangat, menggambarkan keindahan dalam kegiatan menulis dan belajar.
Majas
Emi Fauziati menggunakan beberapa majas dalam puisinya untuk memperindah bahasa dan memperkuat makna:
Majas personifikasi (penginsanan)
“Setiap tarian pena / Menetap lama dalam / Mengalahkan lupa”
Pena seolah hidup dan bisa menari, menggambarkan gerak lembut dalam proses menulis.
Majas metafora
“Lembaran kosong / Mulia terisi”
Lembaran kosong di sini bukan hanya kertas, tetapi juga simbol dari pikiran manusia yang siap menerima ilmu pengetahuan.
Majas hiperbola
“Mengalahkan lupa”
Ungkapan ini memberi penegasan bahwa tulisan memiliki kekuatan luar biasa untuk menjaga ingatan.
Dengan perpaduan majas tersebut, puisi ini terasa indah, sederhana, namun sarat nilai dan daya imajinatif.
Puisi “Buku Tulis” karya Emi Fauziati adalah karya yang sederhana namun penuh makna. Melalui simbol buku tulis, penyair mengangkat tema belajar, menulis, dan kekuatan ilmu pengetahuan.
Puisi ini bercerita tentang perubahan dari kekosongan menuju pengetahuan, dari lupa menuju ingatan yang abadi. Makna tersiratnya adalah ajakan untuk menghargai proses belajar dan menjadikan menulis sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Dengan suasana yang lembut, imaji yang indah, dan majas yang memperkaya nuansa, puisi ini mengajarkan bahwa setiap lembar buku tulis bukan sekadar tempat mencatat pelajaran, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan membangun masa depan.
Puisi “Buku Tulis” bukan hanya puisi untuk anak-anak, tetapi juga pengingat bagi siapa saja bahwa ilmu adalah cahaya, dan tulisan adalah lentera yang membuat cahaya itu tak pernah padam.
Karya: Emi Fauziati
Biodata Emi Fauziati:
- Dra. Hj. Emi Fauziati, lahir pada tanggal 10 Januari 1968 di Brebes.
- Emi adalah penerima penghargaan lomba Karya Tulis Peningkatan IMTAQ Siswa tahun 2007 dan pemenang lomba penulis artikel Anti Hoax yang diselenggarakan oleh PGRI Jawa Tengah tahun 2017.
- Selain itu, ia penulis novel Relung Kehidupan (2018) dan ikut menyumbangkan puisi ke dalam Antologi Puisi Guru (2018).