Devan, Api Sekam Spiritual
Sorot nanar memandang cakrawala, menyapu keindahan dan kekacauan. Meski berlinang mengenang silam yang telah hilang, terus mengarah menuju terang, harap cahaya bersemayam bersama harap, tak pernah pupus.
Dikau memilih memahami, yang bergelut dengan pecinta sabda, dan memilih terhina, demi sadarkan pemabuk kitab.
Matamu mampu menilik jiwa, berteriak meski tak berbicara, selalu dihinakan. Dikau adalah Devan, diistimewakan Tuhan, berperang dengan Tuhan, demi hancurkan kemunafikan kaum pemabuk iman.
Aceh, 21 Oktober 2025
Analisis Puisi:
Puisi “Devan, Api Sekam Spiritual” karya Yehezkiel menghadirkan refleksi yang dalam tentang perjalanan spiritual seorang tokoh yang berani melawan kemunafikan atas nama iman. Dengan gaya bahasa penuh simbol dan intensitas emosional yang tinggi, penyair menggambarkan sosok “Devan” sebagai figur spiritual yang tak sekadar mencari Tuhan, tetapi juga berani “berperang dengan Tuhan” demi menegakkan kebenaran sejati. Puisi ini mengandung semangat eksistensial dan spiritual yang kental, seolah menggugat kesalehan palsu yang menguasai dunia rohani.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah perjuangan spiritual dan pemberontakan suci terhadap kemunafikan. Penyair mengangkat konflik batin antara kebenaran sejati dan kepalsuan religius yang dibungkus kesalehan semu. Tokoh Devan digambarkan sebagai sosok yang berani memikul penderitaan demi menjaga kemurnian iman dari mereka yang hanya memabukkan diri dalam dogma.
Puisi ini bercerita tentang sosok Devan, figur spiritual yang menghadapi pergulatan antara iman, kesadaran, dan kejujuran rohani. Ia bukan hanya pencari kebenaran, melainkan juga penantang kemunafikan. Devan digambarkan sebagai manusia yang peka terhadap kebenaran — matanya “menilik jiwa”, jiwanya mampu “berteriak meski tak berbicara”. Namun, perjuangan batinnya tak mudah; ia “dihina”, “berperang dengan Tuhan”, dan “memilih terhina demi sadarkan pemabuk kitab”.
Melalui kisah ini, penyair menampilkan perjalanan spiritual yang paradoksal: untuk menemukan Tuhan, Devan harus terlebih dahulu menentang kemunafikan yang justru memakai nama Tuhan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah pencarian spiritual yang menuntut keberanian untuk menentang arus dogmatis dan kemunafikan. “Api sekam spiritual” yang disebut dalam judul mengandung simbol paradoks: sekam yang tampak tak berguna ternyata menyimpan bara — melambangkan bahwa dalam hati yang sederhana bisa tersimpan nyala kesadaran yang besar.
Yehezkiel menyiratkan bahwa keberagamaan sejati bukanlah soal ritual, melainkan kesadaran batin yang jujur dan tulus. Sosok Devan menjadi simbol bagi mereka yang berani menghadapi kesepian dan penghinaan demi menjaga kebenaran iman dari kebusukan kepura-puraan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa tegang, reflektif, dan heroik. Terdapat nuansa penderitaan yang mendalam—dari larik “meski berlinang mengenang silam yang telah hilang” hingga “selalu dihinakan”—namun di balik kesedihan itu, ada semangat yang tegas dan membara.
Puisi ini seperti perjalanan batin di tengah badai: penuh luka, tetapi juga diterangi harapan spiritual yang kuat, sebagaimana tergambar dalam baris “terus mengarah menuju terang, harap cahaya bersemayam bersama harap”.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan utama yang disampaikan dalam puisi ini adalah keberanian untuk mencari dan membela kebenaran, meski harus menentang arus keagamaan yang munafik. Penyair mengingatkan bahwa kesucian sejati tidak terletak pada simbol-simbol agama atau keangkuhan rohani, melainkan pada kerendahan hati dan kejujuran spiritual.
Devan menjadi perwujudan manusia yang rela dicela demi menegakkan kesadaran — seseorang yang tidak berhenti berpikir kritis bahkan terhadap konsep ketuhanan yang telah diselewengkan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan spiritual yang kuat:
- “Sorot nanar memandang cakrawala” menggambarkan pandangan batin yang luas dan gelisah.
- “Berperang dengan Tuhan” memunculkan imaji konflik eksistensial yang mendalam antara manusia dan Sang Pencipta.
- “Harap cahaya bersemayam bersama harap” menghadirkan gambaran lembut tentang kerinduan manusia akan kedamaian ilahi.
Imaji-imaji ini memperkuat nuansa kontemplatif dan menegaskan perjalanan batin yang kompleks.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Metafora – “Api sekam spiritual” sebagai simbol kesadaran yang tersembunyi dalam kesunyian batin.
- Personifikasi – “Matamu mampu menilik jiwa, berteriak meski tak berbicara,” memberikan sifat manusiawi pada mata sebagai penafsir ruhani.
- Hiperbola – “Berperang dengan Tuhan” adalah ungkapan berlebihan yang menegaskan intensitas batin Devan dalam menghadapi krisis iman.
- Antitesis – antara “keindahan dan kekacauan”, “terhina” dan “diistimewakan Tuhan”, menggambarkan kontras antara dunia fana dan kesadaran spiritual.
Puisi “Devan, Api Sekam Spiritual” karya Yehezkiel merupakan karya yang menggugah tentang pencarian spiritual yang radikal dan berani. Dengan tema besar tentang perjuangan melawan kemunafikan, puisi ini menghadirkan tokoh Devan sebagai simbol manusia tercerahkan yang menolak tunduk pada kesalehan palsu.
Makna tersiratnya mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak selalu lurus dan damai — sering kali dipenuhi pertanyaan, luka, dan perlawanan terhadap kebohongan yang mengatasnamakan iman. Melalui imaji kuat dan majas metaforis, Yehezkiel berhasil menyusun puisi yang tidak hanya religius, tetapi juga eksistensial — menegaskan bahwa spiritualitas sejati adalah api yang menyala di dalam kesunyian nurani.
Karya: Yehezkiel
Biodata Yehezkiel:
- Yehezkiel Pernando Sihombing lahir pada tanggal 29 Agustus 2003 di Cikampak. Ia pernah beberapa kali mendapatkan gelar juara saat kompetisi puisi antar sekolah tingkat kecamatan saat menjadi pelajar di SD Swasta Grahadura Leidong Prima Kabupaten Labuhan Batu Utara Provinsi Sumatera Utara. Yehezkiel aktif di kelas Asqa Imagination School (AIS) #61 mulai bulan Agustus 2025. Penulis bisa disapa di Instagram @yehezkiels1h0mb1n9