Puisi: Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang” karya Gunoto Saparie menampilkan momen
Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang

masih adakah yang akan kaukatakan
sebelum aku lapor masuk ke dalam
dan menggendong tas ransel hitam
masih adakah yang akan kaubisikkan

melalui pintu detektor aku pun tersekat
tak mampu lagi memilih kata-kata
di sakuku hanya selembar tiket pesawat
di hatiku hanya kau punya nama

masih adakah yang akan kausampaikan
sebelum aku dipanggil terakhir kali
dan petugas bandara gelisah mencari
masih adakah yang akan kautanyakan

ketika namaku disebut aku pun mengembang
tersaruk-saruk menuju tangga pesawat
ketika ponselmu bergetar aku pun tersendat
jantungku, o, ternyata tertinggal kaugenggam

Analisis Puisi:

Puisi “Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang” memiliki tema tentang perpisahan, kerinduan, dan ketegangan emosional saat meninggalkan seseorang yang dicintai. Gunoto Saparie menampilkan momen singkat di bandara sebagai simbol dari pertemuan dan perpisahan yang mengandung emosi mendalam.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang di bandara saat akan melakukan perjalanan, dengan fokus pada interaksi emosional dan batin dengan orang yang dicintai.
  • Penyair membawa tas ransel dan tiket, menunggu panggilan pesawat.
  • Sepanjang proses itu, ia terus memikirkan apakah masih ada kata-kata, bisikan, atau pertanyaan dari orang yang dicintainya sebelum ia berangkat.
  • Saat namanya disebut untuk naik pesawat, penyair merasakan ketegangan, kerinduan, dan keterlambatan emosional, seolah hatinya tertinggal bersama orang yang dicintai.
Puisi ini menyoroti momen perpisahan singkat namun emosional, di mana bandara menjadi latar simbolik dari jarak fisik dan keterpisahan hati.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah ketidakmampuan manusia mengungkapkan semua perasaan dalam momen singkat dan terbatas.
  • Bandara dan proses naik pesawat menjadi simbol batasan waktu dan ruang yang memaksa manusia meninggalkan kesempatan untuk berkomunikasi sepenuhnya.
  • Perasaan yang tertinggal, seperti jantung penyair yang “tertinggal kaugenggam”, menyiratkan bahwa emosi dan kenangan tidak bisa dibawa secara utuh dalam perjalanan fisik.
Puisi ini juga menyiratkan kerentanan manusia menghadapi perpisahan dan kehilangan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini adalah gelisah, haru, dan penuh ketegangan batin.

Kata-kata seperti “tersaruk-saruk menuju tangga pesawat” dan “jantungku, o, ternyata tertinggal kaugenggam” menciptakan atmosfer emosional yang intens.

Kesederhanaan aktivitas sehari-hari seperti memegang tiket atau ponsel justru menjadi momen sarat makna dan kerinduan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang tersirat dari puisi ini adalah bahwa perpisahan, meski singkat, menyimpan kerinduan dan emosi yang sulit terungkap sepenuhnya. Puisi ini mengingatkan pembaca bahwa hubungan emosional manusia seringkali lebih kompleks daripada sekadar interaksi fisik, dan ada bagian hati yang “tertinggal” meski tubuh bergerak meninggalkan tempat.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan emosional:
  • Imaji visual: “menggendong tas ransel hitam”, “melalui pintu detektor”, “tersaruk-saruk menuju tangga pesawat”, yang menggambarkan aktivitas di bandara secara nyata.
  • Imaji emosional/batin: “di hatiku hanya kau punya nama” dan “jantungku, o, ternyata tertinggal kaugenggam”, yang menghadirkan ketegangan, kerinduan, dan perasaan tidak utuh.
Imaji-imaji ini membuat pembaca merasakan baik lingkungan fisik bandara maupun pergolakan batin penyair.

Majas

Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:
  • Repetisi, terlihat pada pengulangan kata “masih adakah yang akan ...”, untuk menekankan kegelisahan dan kerinduan penyair.
  • Metafora, seperti “jantungku tertinggal kaugenggam”, yang melambangkan perasaan yang tertinggal saat fisik bergerak menjauh.
  • Hiperbola, pada penggambaran ketegangan dan keterlambatan emosional saat naik pesawat.
Puisi “Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang” karya Gunoto Saparie menampilkan momen perpisahan yang penuh emosi di bandara, di mana keterbatasan waktu dan ruang membuat penyair merasakan kerinduan yang tertahan. Dengan penggambaran yang sederhana namun sarat makna, penyair menekankan bagaimana perpisahan fisik sering meninggalkan “sisa hati” yang tak bisa dibawa bersama tubuh. Puisi ini mengajak pembaca merasakan ketegangan batin dan refleksi tentang hubungan manusia, jarak, dan emosi yang tidak selalu bisa diungkapkan sepenuhnya.

Foto Gunoto Saparie
Puisi: Di Bandara Halim Perdana Kusuma, Suatu Siang
Karya: Gunoto Saparie

GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia--Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta.  Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.