Sumber: Gema Tanah Air (1959)
Analisis Puisi:
Puisi “Dilarang Memetik Bunga” karya Mahatmanto merupakan refleksi halus tentang cinta, kepemilikan, dan keikhlasan. Melalui simbol sederhana berupa bunga dan papan larangan, penyair menyingkap perasaan manusia yang kerap diliputi cemburu, tetapi akhirnya belajar untuk merelakan. Dengan gaya bahasa yang lembut dan penuh makna, Mahatmanto mengubah tema sehari-hari menjadi renungan mendalam tentang hati dan kebebasan.
Tema
Puisi ini memiliki tema tentang cemburu dan keikhlasan dalam cinta. Mahatmanto menyoroti bagaimana rasa sayang sering kali berubah menjadi keinginan untuk memiliki secara mutlak, yang pada akhirnya menimbulkan rasa jemu dan penderitaan. Namun, di ujung puisi, penyair menampilkan titik balik: keikhlasan menerima bahwa segala yang indah tidak harus dimiliki sepenuhnya.
Tema ini juga dapat diperluas menjadi renungan tentang sikap manusia terhadap kepemilikan dan keterikatan, baik terhadap seseorang maupun sesuatu yang ia anggap berharga.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa cemburu ketika melihat orang lain memetik bunga yang ia sukai. Karena perasaan itu, ia menulis papan bertuliskan “Dilarang memetik bunga!” sebagai bentuk pelindungan atas bunga tersebut — yang secara simbolis menggambarkan seseorang atau sesuatu yang sangat ia cintai.
Namun, seiring waktu, rasa cemburu itu justru membuatnya lelah. Bukan karena bunganya layu, tetapi karena jiwanya sendiri menjadi sempit oleh rasa memiliki. Pada akhirnya, ia menyadari bahwa bunga — seperti cinta dan kehidupan — seharusnya dibiarkan tumbuh dan dinikmati bersama, bukan dikekang oleh rasa takut kehilangan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah tentang pembebasan diri dari rasa cemburu dan keinginan untuk memiliki secara berlebihan. Penyair menyiratkan bahwa kecantikan, kasih, dan cinta sejati bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki secara mutlak. Ia harus dijalani dengan keikhlasan dan kesadaran bahwa segala hal di dunia ini fana.
Baris “Biarlah! Biarlah dipetik setangkai / akan kembang setangkai yang lain pula” menunjukkan transformasi batin sang aku lirik — dari rasa cemburu menuju penerimaan dan kebijaksanaan. Ia belajar bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya; selalu akan ada keindahan lain yang tumbuh menggantikannya.
Selain itu, makna tersirat lainnya adalah kritik terhadap sifat manusia yang ingin mengontrol sesuatu yang ia cintai. Penyair mengingatkan bahwa cinta sejati justru memberi kebebasan, bukan larangan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini berubah secara dinamis — dari rasa cemburu dan kepemilikan menuju ketenangan dan penerimaan. Di awal, nuansa emosional terasa tegang dan posesif: “Aku menaruh cemburu kepada tiap orang lalu.” Namun di bagian akhir, suasana berubah menjadi tenang dan penuh kelegaan: “Biarlah! Biarlah dipetik setangkai...”
Perubahan suasana ini menunjukkan proses emosional yang manusiawi — perjalanan dari rasa takut kehilangan menuju kedewasaan hati untuk melepaskan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat puisi ini adalah keindahan tidak selalu untuk dimiliki, dan cinta sejati menuntut keikhlasan. Mahatmanto ingin menyampaikan bahwa rasa cemburu dan kepemilikan yang berlebihan hanya akan membawa penderitaan. Sebaliknya, ketika seseorang mampu menerima bahwa setiap keindahan memiliki masanya sendiri, maka ia akan menemukan kedamaian batin.
Pesan lain yang juga tersirat adalah tentang pentingnya memahami perubahan dan keterhubungan hidup. Bunga yang dipetik akan digantikan oleh bunga lain — sebuah simbol bahwa kehidupan selalu berputar, dan kehilangan bukanlah akhir dari keindahan.
Imaji
Puisi ini mengandung imaji visual dan emosional yang kuat:
- “Kalau dipetiknya sekuntum mawar yang merah mengharum” — menggambarkan keindahan dan daya tarik yang menimbulkan rasa cemburu.
- “Kutulis di atas papan sederhana tetapi nyata” — menghadirkan imaji tindakan manusia yang mencoba membatasi sesuatu yang ia cintai.
- “Bunga yang sekarang mulai layu” — menjadi simbol waktu, kefanaan, dan pergeseran perasaan.
- “Biarlah dipetik setangkai / akan kembang setangkai yang lain pula” — memberi imaji pertumbuhan dan harapan baru setelah kehilangan.
Imaji-imaji ini membuat puisi terasa hidup, sekaligus memperkuat perjalanan batin si aku lirik dari cemburu menuju ikhlas.
Majas
Beberapa majas yang digunakan Mahatmanto dalam puisi ini antara lain:
- Metafora – “bunga” menjadi lambang cinta, kekasih, atau sesuatu yang berharga dalam hidup.
- Personifikasi – bunga digambarkan seolah memiliki perasaan dan hubungan emosional dengan manusia.
- Hiperbola – “Aku menaruh cemburu kepada tiap orang lalu” menggambarkan perasaan yang sangat intens.
- Repetisi – pengulangan kata “Biarlah! Biarlah” menegaskan perubahan emosi dari keterikatan menuju keikhlasan.
- Ironi – papan bertuliskan “Dilarang memetik bunga” justru menunjukkan ketidakmampuan sang aku lirik melepaskan apa yang ia cintai.
Puisi “Dilarang Memetik Bunga” karya Mahatmanto bukan hanya tentang bunga, tetapi tentang rasa manusia yang ingin memiliki keindahan dan belajar untuk melepaskannya. Melalui simbol sederhana, penyair menggambarkan perjalanan batin seseorang dari rasa cemburu menuju penerimaan. Dengan tema tentang keikhlasan, makna tersirat yang filosofis, suasana yang lembut, serta imaji dan majas yang kuat, puisi ini mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah tentang melarang atau mengekang, melainkan tentang membiarkan keindahan tumbuh sebagaimana mestinya. Sebab pada akhirnya, seperti kata penyair, “akan kembang setangkai yang lain pula” — selalu ada keindahan baru setelah kita belajar melepaskan.
Karya: Mahatmanto
Biodata Mahatmanto:
- Mahatmanto (nama sebenarnya adalah R. Suradal Abdul Manan) lahir di Kulur, Adikarta, Yogyakarta, pada tanggal 13 Agustus 1924.
- Dalam dunia sastra, Mahatmanto menggunakan cukup banyak nama samaran, beberapa di antaranya adalah Abu Chalis, Murbaningrt, Murbaningsih, Murbaningrad, Moerbaningsih, SA Murbaningrad, Suradal, Sang Agung, dan Sri Armajati Murbaningsih.
