Analisis Puisi:
Puisi “Doa dalam Kabut” karya Leon Agusta merupakan sebuah renungan yang penuh dengan makna kemanusiaan, spiritualitas, dan harapan di tengah kehancuran dunia. Penyair menggambarkan doa bukan sebagai bentuk pasrah semata, tetapi juga sebagai seruan moral agar manusia kembali pada cinta dan nurani. Melalui bahasa simbolik dan imaji yang kuat, Leon Agusta menghadirkan refleksi atas dunia yang dilingkupi “kabut” — metafora dari kegelapan, kekacauan, dan kehilangan arah kemanusiaan.
Tema
Tema utama puisi “Doa dalam Kabut” adalah harapan dan doa kemanusiaan di tengah kehancuran moral dan sosial. Puisi ini berbicara tentang upaya manusia mencari cahaya kebenaran dan kasih Tuhan di tengah bencana dan kebrutalan dunia.
Leon Agusta mengangkat tema universal: perjuangan antara kegelapan dan terang, antara kebencian dan cinta. Dalam suasana dunia yang “berkabut”, penyair tetap menyelipkan keyakinan bahwa suatu ketika akan ada “yang siuman” — simbol bagi kesadaran dan kebangkitan nurani manusia.
Puisi ini bercerita tentang doa seorang manusia yang menyaksikan kehancuran dunia akibat kegilaan manusia itu sendiri. Ia melihat bencana, kekerasan, dan kehilangan — tetapi tetap berdoa agar Tuhan memberikan keajaiban dan kasih pada mereka yang tersisa.
Bagian awal puisi menggambarkan suasana kehancuran: “Mungkin tak semua mati jadi korban kegilaan” menandakan betapa parahnya situasi dunia. Namun, penyair masih percaya akan adanya kehidupan baru, seperti bayi yang lahir di tengah reruntuhan: “Bagai bayi mencari ibu karena merasa mencium susu.”
Bagian akhir puisi menampilkan doa yang sangat menyentuh — bukan hanya bagi korban, tetapi juga bagi pelaku kekerasan: “Berikan pula pada orang-orang berbedil / Keagungan cinta dalam membaca Manusia.” Di sinilah letak kebesaran hati penyair: ia tidak membenci, tetapi berdoa agar kebencian digantikan oleh kasih dan kesadaran.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah seruan untuk kembali pada kemanusiaan dan cinta kasih di tengah dunia yang kehilangan arah moral. Kabut dalam puisi ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan lambang dari kebingungan, dosa, dan ketertutupan nurani manusia.
Leon Agusta ingin menyampaikan bahwa meskipun dunia telah rusak oleh perang, kebencian, dan kerakusan, harapan tetap ada — seperti “bayi” yang menjadi simbol kelahiran baru. Bayi itu adalah masa depan, generasi baru yang bisa memperbaiki dunia jika dipelihara dengan kasih dan keajaiban dari Tuhan.
Selain itu, penyair juga menyinggung sisi spiritual manusia yang sering terlupakan. Doa dalam puisi ini bukan sekadar permohonan, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk memohonkan keselamatan bagi semua, termasuk mereka yang telah berbuat dosa.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa suram, mencekam, tetapi perlahan berubah menjadi penuh harapan dan kedamaian.
- Pada awalnya, suasana penuh kegelapan dan ketakutan: “Mungkin tak semua mati jadi korban kegilaan.”
- Namun, di akhir, muncul keteduhan dan harapan: “Fajar baru akan bermula dari senyum sang bayi.”
Peralihan suasana ini menunjukkan perjalanan batin dari keputusasaan menuju harapan — perjalanan dari kabut menuju cahaya. Leon Agusta dengan cermat membangun atmosfer spiritual yang menggugah, di mana doa menjadi jembatan antara kehancuran dan harapan baru.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang ingin disampaikan Leon Agusta melalui puisi ini adalah ajakan bagi manusia untuk merenungi kembali nilai-nilai kemanusiaan dan cinta di tengah dunia yang penuh kekerasan.
Pesan moralnya jelas:
- Jangan biarkan manusia kehilangan cahaya hatinya.
- Jangan biarkan dunia menjadi korban dari kegilaan dan kebencian.
- Hanya dengan kasih, pengampunan, dan doa, manusia bisa menyembuhkan luka yang diciptakannya sendiri.
Selain itu, penyair juga ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak hanya hadir di surga, tetapi juga di dalam setiap tindakan cinta dan pengampunan di bumi. Oleh karena itu, manusia harus terus berdoa dan berbuat baik agar kabut kebencian bisa sirna.
Imaji
Puisi ini dipenuhi imaji visual dan emosional yang kuat, membangun suasana spiritual yang pekat dan sekaligus menyentuh nurani:
- “Pohon dan daunan masih akan saling berbisik” → imaji alam yang hidup; seolah alam masih memiliki nurani ketika manusia kehilangan arah.
- “Ada geliat dari tanah merayap ke atas batu / Bagai bayi mencari ibu karena merasa mencium susu” → imaji lembut namun memilukan; menggambarkan kehidupan baru yang lahir di tengah kematian.
- “Fajar baru akan bermula dari senyum sang bayi” → imaji harapan dan kebangkitan.
- “Berilah keajaiban, tumbuhkan susu pada batu / Selimut hangat dari lumut bagi sang bayi” → imaji spiritual yang indah dan simbolik, menggambarkan kasih Tuhan yang bisa menghidupkan bahkan dari benda mati.
Imaji-imaji tersebut memperkuat pesan kemanusiaan dan religiusitas yang menjadi inti puisi.
Majas
Puisi ini menggunakan berbagai majas yang memperkaya keindahan dan makna, antara lain:
Metafora
- “Kabut” sebagai simbol kebingungan, kejahatan, dan hilangnya arah hidup.
- “Bayi mencari ibu” sebagai metafora dari manusia yang mencari kasih dan harapan di tengah dunia yang hancur.
- “Fajar baru” sebagai lambang kebangkitan dan kehidupan baru setelah kegelapan.
Personifikasi
- “Pohon dan daunan masih akan saling berbisik” → alam digambarkan memiliki suara dan nurani, seolah lebih bijak daripada manusia.
Simile (Perumpamaan)
- “Bagai bayi mencari ibu karena merasa mencium susu” memperkuat kesan kasih dan kelembutan dalam situasi tragis.
Repetisi
- Pengulangan larik “Suatu ketika, akan ada yang siuman / Mungkin tak semua mati jadi korban kegilaan” menciptakan efek keyakinan dan doa yang berulang — simbol dari harapan yang tidak pernah padam.
Puisi “Doa dalam Kabut” karya Leon Agusta adalah doa kemanusiaan yang puitis dan menyayat hati. Dengan bahasa yang padat, penuh simbol, dan sarat imaji, penyair menggambarkan dunia yang hancur akibat kebencian dan perang, tetapi masih menyimpan secercah harapan akan kebangkitan.
Tema tentang doa dan kemanusiaan berpadu dengan makna tersirat mengenai kesadaran spiritual manusia yang hilang di tengah kabut zaman. Suasana yang berganti dari suram menjadi hangat menegaskan bahwa harapan tidak pernah benar-benar mati.
Melalui puisi ini, Leon Agusta seakan mengingatkan kita: selama manusia masih mampu berdoa dan mencintai, dunia masih punya harapan untuk sembuh.
Puisi: Doa dalam Kabut
Karya: Leon Agusta
Biodata Leon Agusta:
- Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
- Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
- Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.