Puisi: Doa Mohon Kutukan (Karya Emha Ainun Nadjib)

Puisi "Doa Mohon Kutukan" karya Emha Ainun Nadjib bercerita tentang seorang hamba yang memohon kutukan kepada Tuhan sebagai bentuk pengorbanan.

Doa Mohon Kutukan

Dengan sangat kumohon kutukanmu ya Tuhan, jika itu merupakan salah satu syarat agar pemimpin-pemimpinku mulai berpikir untuk mencari kemuliaan hidup, mencari derajat tinggi di hadapanMu, sambil merasa cukup atas kekuasaan dan kekayaan yang telah ditumpuknya.

Dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan, untuk membersihkan kecurangan dari kiri kananku, untuk menghalau dengki dari bumi, untuk menyuling hati manusia dari cemburu yang bodoh dan rasa iri.

Dengan sangat kumohon kutukanMu, ya Tuhan, demi membayar rasa malu atas kegagalan menghentikan tumbangnya pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia, serta atas ketidaksanggupan dan kepengecutan dalam upaya menanam pohon-pohonMu yang baru.

Ambillah hidupku sekarang juga, jika memang itu diperlukan untuk mengongkosi tumbuhnya ketulusan hati, kejernihan jiwa dan keadilan pikiran hamba-hambaMu di dunia.

Hardiklah aku di muka bumi, perhinakan aku di atas tanah panas ini, jadikan duka deritaku ini makanan bagai kegembiraan seluruh sahabat-sahabatku dalam kehidupan, asalkan sesudah kenyang, mereka menjadi lebih dekat denganMu.

Jika untuk mensirnakan segumpal rasa dengki di hati satu orang hambaMu diperlukan tumbal sebatang jari-jari tanganku, maka potonglah. Potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya, seratus berikutnya, dan seribu berikutnya, sehingga lubuk jiwa beribu-ribu hambaMu menjadi terang benderang karena keikhlasan.

Jika untuk menyembuhkan pikiran hambaMu dari kesombongan dibutuhkan kekalahan para hambaMu yang lain, maka kalahkanlah aku, asalkan sesudah kemenangan itu ia menundukkan wajahnya di hadapanMu.

Jika untuk mengusir muatan kedunguan di balik kepandaian hambaMu diperlukan kehancuran pada hambaMu yang lain, maka hancurkan dan permalukan aku, asalkan kemudian Engkau tanamkan kesadaran fakir di hatinya.

Jika syarat untuk mendapatkan kebahagiaan bagi manusia adalah kesengsaraan manusia lainnya, maka sengsarakanlah aku.

Jika jalan mizanMu di langit dan bumi memerlukan kekalahan dan kerendahanku, maka unggulkan mereka, tinggikan derajat mereka di atasku.

Jika syarat untuk memperoleh pencahayaan dariMu adalah penyadaran akan kegelapan, maka gelapkan aku, demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu.

Demi Engkau wahai Tuhan yang aku tiada kecuali karena kemauanMu, aku berikrar dengan sungguh-sungguh bahwa bukan kejayaan dan kemenangan yang kudambakan, bukan keunggulan dan kehebatan yang kulaparkan, serta bukan kebahagiaan dan kekayaan yang kuhauskan.

Demi Engkau wahai Tuhan tambatan hatiku, aku tidak menempuh dunia, aku tidak memburu akhirat, hidupku hanyalah memandangMu sampai kembali hakikat tiadaku.


1994

Sumber: Doa Mohon Kutukan (1995)

Analisis Puisi:

Puisi "Doa Mohon Kutukan" karya Emha Ainun Nadjib adalah salah satu karya yang menyentuh dimensi spiritual dan kemanusiaan sekaligus. Melalui puisi ini, Emha menampilkan sisi paradoks doa—bukan sekadar permohonan berkah, melainkan permintaan kutukan, penderitaan, dan kehancuran diri demi kebaikan orang lain dan kemuliaan di hadapan Tuhan. Puisi ini sarat refleksi, kritik sosial, dan spiritualitas mendalam yang khas dari Emha.

Tema

Puisi ini mengangkat tema pengorbanan diri demi kemuliaan orang lain dan ketulusan doa kepada Tuhan. Ada pergeseran dari doa yang biasanya bersifat meminta kebaikan pribadi menjadi doa yang rela dikutuk, dihancurkan, dan direndahkan demi terwujudnya nilai-nilai luhur bagi orang banyak.

Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang seorang hamba yang memohon kutukan kepada Tuhan sebagai bentuk pengorbanan. Ia rela kehilangan hidup, kehormatan, bahkan kebahagiaannya demi membersihkan hati manusia dari dengki, iri, kecurangan, kesombongan, dan kedunguan. Dalam puisinya, Emha menampilkan sosok “aku” lirik yang berdoa bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk keselamatan dan kejernihan jiwa orang lain, termasuk para pemimpin.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik sosial terhadap keadaan moral manusia, khususnya pemimpin dan masyarakat. Penulis menyoroti adanya ketamakan, dengki, iri, kecurangan, dan kesombongan yang merusak nilai-nilai kemanusiaan. Melalui doa yang paradoksal, penyair menyampaikan bahwa untuk memulihkan nilai-nilai tersebut dibutuhkan pengorbanan, bahkan pengorbanan pribadi.

Selain itu, puisi ini juga mengandung makna spiritual yang mendalam: seorang hamba sejati tidak mengejar kebahagiaan pribadi, melainkan mengikhlaskan diri demi terwujudnya kehendak Tuhan dan kebajikan bagi sesama. Ini adalah puncak dari ketundukan dan keikhlasan seorang manusia di hadapan Sang Pencipta.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah khusyuk, penuh kepasrahan, sekaligus getir. Ada perasaan sedih, perih, dan berat karena “aku” lirik rela menanggung penderitaan demi kebaikan orang lain, namun di saat yang sama terasa juga keteguhan hati, keberanian, dan keikhlasan spiritual. Suasana ini menjadikan puisi terasa sakral dan menggugah hati pembaca.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan utama yang disampaikan puisi ini adalah ketulusan doa dan pengorbanan demi kemaslahatan bersama. Emha mengajarkan bahwa dalam hidup, keikhlasan adalah kunci, dan bahwa seorang hamba sejati tidak hanya memikirkan diri sendiri, melainkan juga keselamatan dan kebaikan orang lain.

Pesan lainnya adalah kritik moral bagi pemimpin dan masyarakat agar kembali mencari kemuliaan hidup, kejernihan jiwa, serta keadilan pikiran di hadapan Tuhan, bukan sekadar kekuasaan dan kekayaan duniawi.

Imaji

Puisi ini juga kuat dalam imaji spiritual dan moral. Beberapa contohnya:
  • “Ambillah hidupku sekarang juga, jika memang itu diperlukan…” → imaji pengorbanan total yang menggetarkan.
  • “Potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya…” → imaji yang menyiratkan pengorbanan yang terus-menerus, bahkan tanpa batas.
  • “Gelapkan aku, demi pesta cahaya di ubun-ubun para hambaMu” → imaji kontras antara gelap dan cahaya yang melambangkan kesadaran dan pencerahan.
Imaji-imaji ini memperkuat kesan bahwa puisi ini adalah doa yang sangat serius, penuh simbol dan rasa spiritual.

Majas

Beberapa majas yang ditemukan dalam puisi ini antara lain:
  • Paradoks: Doa meminta kutukan, yang secara umum berlawanan dengan doa meminta berkah.
  • Hiperbola: “Potonglah sepuluh batangku, kemudian tumbuhkan sepuluh berikutnya, seratus berikutnya, dan seribu berikutnya…” untuk menggambarkan pengorbanan tanpa batas.
  • Metafora: “pohon-pohon nilaiMu di perkebunan dunia” adalah metafora untuk nilai-nilai luhur atau moral yang tumbang di dunia.
  • Simbolisme: “gelap” dan “cahaya” melambangkan kebodohan dan pencerahan, kesombongan dan kerendahan hati.
Puisi "Doa Mohon Kutukan" karya Emha Ainun Nadjib adalah salah satu contoh karya sastra religius yang menyentuh sekaligus mengguncang. Di dalamnya, Emha menghadirkan doa yang tidak biasa: doa pengorbanan total demi kebersihan jiwa manusia dan kemuliaan nilai-nilai Tuhan di bumi. Puisi ini bukan hanya refleksi spiritual, tetapi juga kritik moral yang relevan untuk kondisi masyarakat dan pemimpin masa kini.

Emha Ainun Nadjib
Puisi: Doa Mohon Kutukan
Karya: Emha Ainun Nadjib

Biodata Emha Ainun Nadjib:
  • Muhammad Ainun Nadjib (Emha Ainun Nadjib atau kerap disapa Cak Nun atau Mbah Nun) lahir pada tanggal 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.