Analisis Puisi:
Puisi “Doa Orang-Orang Sederhana” karya Diah Hadaning merupakan karya yang kuat secara sosial dan spiritual. Melalui bahasa yang lugas dan ironi yang tajam, penyair menghadirkan suara kaum kecil — mereka yang hidup sederhana, penuh kejujuran, tetapi kerap menjadi korban dari sistem sosial dan kemajuan zaman yang tak berpihak. Puisi ini menggambarkan doa yang polos, jujur, dan menyayat hati dari rakyat kecil yang tetap berserah kepada Tuhan meski dunia di sekitar mereka kian rumit dan timpang.
Tema
Tema utama puisi ini adalah doa dan penderitaan sosial orang-orang kecil di tengah kemajuan zaman. Diah Hadaning mengangkat persoalan sosial — ketimpangan antara rakyat sederhana dan kaum elit — dengan nada doa yang tulus. Tema ini menyentuh dimensi spiritual sekaligus humanistik, memperlihatkan bagaimana masyarakat bawah tetap berharap pada keadilan Ilahi ketika keadilan manusia tak lagi berpihak.
Puisi ini bercerita tentang doa dan keluh kesah orang-orang sederhana kepada Tuhan, yang memohon perlindungan dari keserakahan, keangkuhan, dan ketidakadilan dunia modern. Mereka mengakui keterbatasannya — tidak mengerti istilah besar seperti teknologi, seminar, atau nuklir — namun tetap punya kejujuran dalam doa.
Bagian awal menggambarkan bagaimana orang kecil merasa terasing dari dunia modern:
“Tuhan mohon maaf / kami tak bisa jelaskan apa itu teknologi, seminar, dan nuklir.”
Sementara bagian berikutnya memuat kegelisahan sosial mereka yang dijadikan korban kebijakan:
“Kami bukan barang komoditi / kami telah kenyang sakit hati / menjadi tumbal selama ini.”
Lalu di akhir, penyair menggunakan nada satir untuk menggambarkan kehidupan yang kacau:
“Di mana-mana yang dilihat kadal-kadal / hidup mereka jadi kidal.”
Kiasan tersebut menunjukkan bagaimana hidup rakyat kecil selalu dalam posisi sulit dan serba terbalik — akibat sistem yang tidak adil.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik sosial terhadap ketimpangan antara kaum berkuasa dan rakyat jelata. Diah Hadaning ingin menunjukkan bahwa kemajuan teknologi, seminar kebijakan, dan pembicaraan besar tentang “pembangunan” sering kali tidak menyentuh kehidupan nyata orang-orang kecil. Mereka tidak mengerti bahasa teknokratis, tetapi merasakan langsung akibatnya: penderitaan, pengorbanan, dan ketidakadilan.
Puisi ini juga menyiratkan ironi kemajuan modern — bahwa di tengah gempita teknologi dan politik, masih banyak manusia yang hanya bisa berharap kepada Tuhan karena tidak punya kuasa dalam kehidupan sosial. Doa mereka menjadi satu-satunya ruang kejujuran di tengah kepalsuan dunia yang kian elitis.
Selain itu, penyair ingin menyampaikan bahwa orang-orang sederhana memiliki kebijaksanaan tersendiri. Walau tak berpendidikan tinggi, mereka memahami hidup dari pengalaman pahit dan memiliki nurani yang bersih. Doa mereka tulus, tanpa basa-basi, tanpa teori, tetapi sarat makna kemanusiaan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini adalah lirih, getir, namun penuh keikhlasan. Ada perasaan sedih dan pasrah yang terasa dalam setiap lariknya, terutama ketika mereka mengakui ketidaktahuan mereka di hadapan Tuhan. Namun di balik kegetiran itu, ada ketenangan batin yang lembut — kesadaran bahwa Tuhan adalah tempat berpulang terakhir bagi orang kecil yang selalu tersisih oleh sistem dunia.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang ingin disampaikan Diah Hadaning melalui puisi ini adalah pentingnya kejujuran, kerendahan hati, dan kesadaran sosial di tengah arus kemajuan zaman. Penyair mengingatkan bahwa tidak semua orang merasakan manfaat dari “kemajuan teknologi” dan “pembangunan” yang diagungkan. Ada banyak orang sederhana yang hidup dalam kesulitan, dan doa mereka — meski polos — justru paling murni di hadapan Tuhan.
Amanat lainnya adalah kritik terhadap elit kekuasaan agar memiliki eling nurani atau kesadaran hati. Dalam bait:
“Berilah eling nurani para petinggi / kami bukan barang komoditi.”
penyair menegaskan perlunya empati dan keadilan sosial. Dunia yang adil bukan ditentukan oleh seminar atau teori ekonomi, tetapi oleh hati nurani dan kesadaran kemanusiaan.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji sosial dan spiritual yang menggambarkan kesenjangan antara kehidupan rakyat kecil dan dunia elit:
Imaji visual:
- “di kota keratin ada seminar” menghadirkan bayangan kota besar tempat para petinggi berdiskusi di ruangan mewah.
- “di mana-mana yang dilihat kadal-kadal” memberi citra lingkungan kering dan liar, simbol dari dunia yang dikuasai oleh kelicikan.
Imaji pendengaran:
- “dengarlah doa kami” menciptakan kesan lirih — seolah suara kecil yang meminta didengar di tengah kebisingan dunia.
Imaji rasa (emosional):
- “kami telah kenyang sakit hati” menciptakan sensasi pedih dan kelelahan batin akibat ketidakadilan.
Imaji-imaji ini menghidupkan perasaan getir sekaligus kasih dalam puisi, memperkuat pesan sosial yang disampaikan dengan bahasa sederhana namun menyentuh.
Majas
Diah Hadaning menggunakan sejumlah majas (gaya bahasa) yang memperkuat kekuatan ekspresif puisi ini:
- Apostrof (seruan kepada Tuhan): “Tuhan Yang Maha Segalanya, dengarlah doa kami” — bentuk permohonan langsung yang memperkuat kesan doa tulus dari rakyat kecil.
- Ironi: “kami tak bisa jelaskan apa itu teknologi, seminar, dan nuklir” — menyoroti absurditas dunia modern yang mengagungkan istilah besar, padahal rakyat kecil bahkan tidak tahu apa maknanya.
- Metafora: “kami bukan barang komoditi” — menggambarkan manusia yang dijadikan objek ekonomi dan politik tanpa nilai kemanusiaan.
- Repetisi: Pengulangan frasa “Tuhan mohon maaf” menegaskan kerendahan hati dan kesadaran spiritual rakyat kecil.
- Satire: “di mana-mana yang dilihat kadal-kadal / hidup mereka jadi kidal” — menyindir keadaan sosial yang penuh kelicikan dan ketidakadilan.
Majas-majas tersebut menjadikan puisi terasa hidup dan tajam, memadukan kelembutan doa dengan sindiran sosial yang menusuk.
Puisi “Doa Orang-Orang Sederhana” karya Diah Hadaning adalah sebuah renungan sosial dan spiritual yang menggugah. Dengan gaya bahasa yang jujur dan apa adanya, penyair menyoroti nasib rakyat kecil yang tetap berdoa dalam ketulusan meski hidup dalam ketidakadilan.
Melalui tema kemanusiaan dan spiritualitas sosial, puisi ini menunjukkan bahwa orang-orang sederhana memiliki kedekatan batin dengan Tuhan yang mungkin tidak dimiliki mereka yang berkuasa. Di balik keluguan mereka, tersimpan kebijaksanaan yang dalam — bahwa hidup sejati bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kesadaran, cinta, dan doa yang tulus.
Puisi ini menjadi suara nurani bagi yang tertindas, serta pengingat bagi semua yang berkuasa agar kembali mendengar suara-suara kecil — doa-doa orang sederhana yang mungkin paling didengar oleh Tuhan.

Puisi: Doa Orang-orang Sederhana
Karya: Diah Hadaning