Puisi: Doa Yatim Piatu (Karya Sherly Malinton)

Puisi "Doa Yatim Piatu" karya Sherly Malinton bercerita tentang seorang anak yatim piatu yang sedang berdoa kepada Tuhan. Dalam doanya, ia memohon ...

Doa Yatim Piatu

Tuhan
beri aku Mama

Tuhan
beri aku Papa

Amin ....!

Sumber: Bunga Anggrek untuk Mama (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1981)

Analisis Puisi:

Puisi “Doa Yatim Piatu” karya Sherly Malinton merupakan salah satu karya pendek yang luar biasa kuat dalam makna dan emosi. Hanya dengan beberapa baris sederhana, penyair berhasil menyampaikan jeritan hati seorang anak yatim piatu yang mendambakan kasih sayang orang tua. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatan utama puisi ini, karena di balik kata-kata yang minim tersimpan kepedihan, kerinduan, dan kejujuran batin yang dalam.

Tema

Tema utama puisi Doa Yatim Piatu adalah kerinduan dan kesepian seorang anak tanpa orang tua. Puisi ini menggambarkan kebutuhan paling dasar manusia: cinta dan kehangatan keluarga. Melalui doa yang polos dan singkat, penyair mengangkat tema kemanusiaan universal tentang kehilangan, harapan, dan permohonan tulus kepada Tuhan.

Tema ini juga menyentuh sisi spiritual dan emosional — tentang bagaimana seorang anak yatim piatu menggantungkan harapannya hanya kepada Tuhan, karena hanya Dia tempat berlindung ketika kasih orang tua telah tiada.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yatim piatu yang sedang berdoa kepada Tuhan. Dalam doanya, ia memohon agar Tuhan memberinya seorang “Mama” dan “Papa”. Hanya itu yang dimintanya — bukan harta, bukan kemewahan, melainkan sosok yang bisa memberi kasih sayang, perlindungan, dan rasa aman.

Kisah sederhana ini menggambarkan penderitaan batin seorang anak yang kehilangan cinta orang tua, sekaligus menyingkap sisi kepolosan seorang anak kecil yang hanya tahu satu cara untuk berharap: berdoa. Doa itu menjadi simbol ketulusan dan kepasrahan manusia yang kehilangan sandaran di dunia, namun tetap memiliki keyakinan kepada Tuhan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kerinduan mendalam terhadap kasih sayang yang tidak tergantikan. Sherly Malinton ingin menegaskan bahwa kehilangan orang tua bukan hanya kehilangan secara fisik, tetapi juga kehilangan rasa aman, cinta, dan tempat berbagi.

Puisi ini juga menyiratkan betapa berharganya kehadiran orang tua dalam kehidupan seorang anak. Melalui suara anak yatim piatu yang berdoa, penyair mengajak pembaca merenungi betapa banyak dari kita yang masih memiliki orang tua namun sering lupa bersyukur atas kehadiran mereka.

Selain itu, makna tersirat lainnya adalah kepolosan iman — keyakinan sederhana namun murni bahwa Tuhan adalah tempat satu-satunya untuk memohon cinta dan perlindungan. Doa si anak adalah lambang iman yang polos, tulus, dan tidak menuntut, hanya berharap akan kasih.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa sunyi, haru, dan menyayat hati. Keheningan doa yang diucapkan menciptakan suasana yang mendalam dan menyentuh. Dengan hanya tiga penggalan baris, pembaca seolah mendengar suara seorang anak kecil berdoa di kesepian malam, berharap pada sesuatu yang tak lagi dimilikinya.

Puisi ini menghadirkan keheningan yang penuh makna — bukan kesedihan yang meledak-ledak, melainkan kepedihan yang tenang dan mengendap di hati pembaca.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat dari puisi Doa Yatim Piatu adalah belajarlah untuk menghargai dan menyayangi orang tua selama mereka masih ada. Penyair mengingatkan bahwa kehadiran orang tua merupakan anugerah besar yang sering dianggap biasa, padahal bagi sebagian orang, itu adalah hal yang paling dirindukan.

Puisi ini juga menyampaikan pesan kemanusiaan yang kuat: empati terhadap anak-anak yatim piatu yang hidup tanpa kasih sayang orang tua. Kita diajak untuk menumbuhkan rasa peduli dan membantu mereka dengan kasih.

Selain itu, terdapat pula pesan spiritual: Tuhan adalah tempat berharap bagi siapa pun, terutama bagi mereka yang kehilangan. Doa menjadi bentuk keikhlasan dan pengakuan bahwa cinta sejati dan perlindungan sejati datang dari Tuhan.

Imaji

Walau puisi ini sangat pendek, ia tetap menghadirkan imaji emosional yang kuat. Pembaca bisa membayangkan seorang anak kecil, mungkin duduk sendirian, menengadah dan berdoa lirih kepada Tuhan. Imaji itu sederhana namun menggugah perasaan, karena menghadirkan kontras antara kecilnya tubuh anak dan besarnya rasa kehilangan yang ia tanggung.

Imaji spiritual juga terasa pada kata “Tuhan”, yang menjadi pusat harapan dan penerimaan. Dengan satu kata itu saja, pembaca bisa merasakan hubungan batin yang dalam antara manusia kecil dan kekuatan ilahi.

Majas

Puisi ini memanfaatkan majas repetisi dan apostrof (penyapaan langsung) dengan sangat efektif:
  • Repetisi — pengulangan kata “Tuhan” memperkuat kesan doa yang sungguh-sungguh dan penuh pengharapan. Pengulangan ini menciptakan efek spiritual yang mendalam, seolah si anak memanggil dengan penuh kerinduan dan keyakinan.
  • Apostrof — penyair menggunakan gaya bicara langsung kepada Tuhan, menciptakan kedekatan emosional dan spiritual.
  • Elipsis dan kesenyapan (Amin ....!) — titik-titik panjang setelah kata “Amin” memberikan efek dramatik dan hening, seolah doa itu bergema dalam kesunyian. Majas ini bukan dalam bentuk kata, tetapi dalam bentuk rasa: jeda yang menyiratkan kesedihan, harapan, dan penantian.
Kesederhanaan struktur dan gaya bahasa justru memperkuat kekuatan batin puisi ini. Tidak ada kata berlebih, hanya perasaan yang murni.

Puisi "Doa Yatim Piatu" karya Sherly Malinton merupakan salah satu puisi pendek paling menyentuh tentang kerinduan anak terhadap kasih sayang orang tua. Dalam tiga baris yang ringkas, penyair berhasil menyampaikan kedalaman rasa kehilangan, kepolosan doa, dan kekuatan iman seorang anak kecil.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Doa Yatim Piatu
Karya: Sherly Malinton

Biodata Sherly Malinton:
  • Sylvia Sherly Maria Catharina Malinton lahir pada tanggal 24 Februari 1963 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.