Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Gulungan Remah Sarapan Tuhan (Karya Yehezkiel)

Puisi “Gulungan Remah Sarapan Tuhan” karya Yehezkiel bercerita tentang gulungan tua dari gua Qumran, yang dikenal sebagai tempat ditemukannya ...

Gulungan Remah Sarapan Tuhan

Guratan abadi, dalam kelam gua Qumran.
Akar dunia, lorong waktu, penghubung cinta,
titah bijaksana oleh Sang Khalik Pencipta Dunia.

Gulungan tua, saksi bisu dari lubuk kebenaran.
Kini lirih bersajak ilmu, setiap lantunannya semerbak bijaksana.
Bagaikan angin timur, hantarkan guna hingga pelosok jagat fana.

Gulungan penuh makna, laksana remah sarapan Tuhan,
dipungut nikmat oleh dunia sebagai wujud syukur,
sebagai bukti keberadaan.

Aceh, 20 Oktober 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Gulungan Remah Sarapan Tuhan” karya Yehezkiel merupakan karya yang penuh simbol, spiritualitas, dan refleksi filosofis mengenai asal-usul pengetahuan dan keabadian wahyu. Melalui metafora religius dan imaji mistis, penyair mengajak pembaca merenungkan hubungan antara manusia, ilmu pengetahuan, dan Sang Pencipta. Puisi ini berlapis makna dan menyentuh wilayah teologis serta eksistensial.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hubungan antara manusia dan Tuhan melalui pengetahuan dan wahyu ilahi. Puisi ini mengangkat kesadaran bahwa ilmu, sejarah, dan kebijaksanaan sejati bersumber dari Yang Ilahi — diibaratkan sebagai “remah sarapan Tuhan,” yang memberi kehidupan dan pemahaman bagi dunia.

Puisi ini bercerita tentang gulungan tua dari gua Qumran, yang dikenal sebagai tempat ditemukannya naskah-naskah kuno atau Dead Sea Scrolls — teks suci yang menyimpan ajaran dan hikmah masa lampau. Penyair menggambarkannya sebagai saksi bisu atas kebijaksanaan dan kebenaran yang diturunkan Tuhan kepada umat manusia. “Gulungan penuh makna” ini menjadi simbol dari pengetahuan suci yang menghubungkan dunia fana dengan dimensi ilahi, di mana setiap kata dan maknanya menjadi bukti kehadiran Sang Pencipta.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini mencakup beberapa lapisan refleksi:
  1. Pengetahuan sejati berasal dari Tuhan: Manusia hanya menikmati sebagian kecil dari kebijaksanaan ilahi, diibaratkan sebagai “remah sarapan Tuhan.”
  2. Kesucian teks dan sejarah: “Gulungan tua” melambangkan naskah suci, pengetahuan abadi yang menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini.
  3. Rasa syukur manusia atas wahyu dan ilmu: Dunia disebut “memungut nikmat” dari remah tersebut — menandakan bahwa ilmu adalah anugerah, bukan hasil kesombongan manusia.
  4. Keterbatasan manusia: Ungkapan “remah” juga mengandung kesadaran bahwa manusia hanya mampu memahami sebagian kecil dari kebesaran Tuhan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini sakral, mistis, dan penuh perenungan. Kata-kata seperti “guratan abadi,” “lorong waktu,” dan “lubuk kebenaran” menghadirkan nuansa kuno dan spiritual. Ada kesan tenang sekaligus agung, seperti pembacaan doa di antara sisa-sisa sejarah dan kitab suci.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji religius dan historis:
  1. “Guratan abadi, dalam kelam gua Qumran” menciptakan gambaran visual tentang naskah kuno di tempat sunyi.
  2. “Bagaikan angin timur, hantarkan guna hingga pelosok jagat fana” menghadirkan imaji gerak dan perluasan — menyimbolkan penyebaran hikmah Tuhan ke seluruh dunia.
  3. “Gulungan penuh makna, laksana remah sarapan Tuhan” menciptakan imaji spiritual yang puitis, seolah dunia hanya menerima serpihan dari kebesaran ilahi.

Majas

Beberapa majas yang menonjol antara lain:
  1. Metafora: “Gulungan penuh makna, laksana remah sarapan Tuhan” → membandingkan wahyu atau ilmu dengan remah makanan Tuhan, menandakan kesucian dan keterbatasan pemahaman manusia.
  2. Personifikasi: “Gulungan tua, saksi bisu dari lubuk kebenaran” → memberi sifat manusiawi pada benda mati untuk menegaskan perannya sebagai penjaga sejarah dan pengetahuan.
  3. Hiperbola: “Hantarkan guna hingga pelosok jagat fana” → menggambarkan pengaruh besar dari kebijaksanaan Tuhan yang menjangkau seluruh dunia.
  4. Simbolisme: “Akar dunia” dan “lorong waktu” menjadi simbol keterhubungan antara masa lalu dan masa kini dalam rencana ilahi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  1. Hargai pengetahuan sebagai anugerah ilahi. Segala kebijaksanaan manusia bersumber dari Tuhan, dan kita harus menyikapinya dengan rendah hati.
  2. Sejarah dan wahyu adalah jembatan spiritual. Pengetahuan masa lalu bukan sekadar peninggalan, tetapi cahaya yang menuntun zaman kini.
  3. Manusia harus bersyukur dan bijaksana. Bahkan serpihan kebijaksanaan Tuhan yang kecil sudah cukup untuk menuntun manusia pada kebenaran dan kebaikan.
Puisi “Gulungan Remah Sarapan Tuhan” karya Yehezkiel menampilkan refleksi mendalam tentang hubungan antara Tuhan, ilmu, dan manusia. Melalui simbol “gulungan tua” dan “remah sarapan Tuhan,” penyair mengajak kita untuk memahami bahwa kebijaksanaan sejati tidak lahir dari kesombongan manusia, melainkan merupakan titipan kecil dari kebesaran ilahi.

Dengan imaji religius, suasana mistis, dan majas yang padat makna, puisi ini menjadi pengingat bahwa pengetahuan adalah bentuk ibadah — jembatan antara dunia fana dan keabadian Tuhan.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Gulungan Remah Sarapan Tuhan
Karya: Yehezkiel

Biodata Yehezkiel:
  • Yehezkiel Pernando Sihombing lahir pada tanggal 29 Agustus 2003 di Cikampak. Ia pernah beberapa kali mendapatkan gelar juara saat kompetisi puisi antar sekolah tingkat kecamatan saat menjadi pelajar di SD Swasta Grahadura Leidong Prima Kabupaten Labuhan Batu Utara Provinsi Sumatera Utara. Yehezkiel aktif di kelas Asqa Imagination School (AIS) #61 mulai bulan Agustus 2025. Penulis bisa disapa di Instagram @yehezkiels1h0mb1n9
© Sepenuhnya. All rights reserved.