Puisi: Jemari dan Cuaca (Karya Pudwianto Arisanto)

Puisi “Jemari dan Cuaca” karya Pudwianto Arisanto mengajak pembaca merasakan interaksi emosional antara diri dan dunia, di mana alam bukan sekadar ...
Jemari dan Cuaca

gerak laju segala badai kuhisap, meniupnya
menara laut dan sungai-sungai pedalaman, lenyap
hati, gurun, akar; kerontang. menguap luka, nyeri
desah tajam mengangga, tidurkan kenikmatan jiwa

orang-orang pulang pelaminan, sembunyi tangan
sedang aroma kebinatangannya; singgah saku-dia
langkahi kota-kota, bukit, pemantang, anak gadisku
; menyetel menyulam jemari dan cuaca, doa-doa-mu

yang mungil genit membentur langgang arungku
menindih muatan hati dari gerbang-gerbang, gua lain
persendian menyalak; bawa jejak lilin, kernyit bodimu
dalam kadar gending malam yang genangi urat darah

Analisis Puisi:

Puisi ini bertema keterhubungan manusia dengan alam dan pengalaman batin yang kompleks. Pudwianto Arisanto menghadirkan alam, cuaca, dan elemen fisik sebagai medium refleksi emosi manusia. Tema ini juga menyinggung konflik internal, kerinduan, dan perjalanan jiwa di tengah realitas yang luas dan terkadang kacau.

Puisi ini bercerita tentang interaksi antara pengalaman manusia dengan alam dan simbol-simbol kehidupan. Narator menelusuri “badai”, “menara laut”, “sungai-sungai pedalaman”, hingga “anak gadisku” sebagai bagian dari perjalanan batin dan perasaan yang mendalam.

Selain itu, ada penggambaran hubungan sosial dan intim, seperti dalam baris “orang-orang pulang pelaminan, sembunyi tangan” dan “menyetel menyulam jemari dan cuaca, doa-doa-mu”, yang menyiratkan pengalaman pribadi, romantika, dan doa sebagai bentuk penyatuan antara diri dan dunia sekitar.

Puisi ini juga menyoroti perasaan kesepian, kerinduan, dan ketegangan batin, yang dimanifestasikan melalui interaksi dengan alam, tubuh, dan kota.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah perjalanan batin manusia yang kompleks, di mana emosi, kenangan, dan doa melebur dengan alam. Pudwianto Arisanto ingin menekankan bahwa pengalaman hidup tidak bisa dipisahkan dari lingkungan dan perasaan yang terus bergerak — seperti badai, angin, dan cuaca.

Selain itu, ada makna tersirat tentang transformasi luka menjadi refleksi dan pengalaman spiritual, di mana nyeri, kenikmatan, dan doa menjadi bagian dari proses pemaknaan diri.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini intens, gelap, dan penuh ketegangan batin. Baris-baris seperti “mengangga, tidurkan kenikmatan jiwa”, “persendian menyalak; bawa jejak lilin”, dan “dalam kadar gending malam yang genangi urat darah” menciptakan atmosfer yang misterius, bergejolak, dan erotis, di mana alam dan tubuh manusia saling bertautan dalam pengalaman puitis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa manusia selalu terhubung dengan alam dan pengalaman emosionalnya, baik itu dalam bentuk penderitaan, cinta, atau doa.

Selain itu, puisi ini menekankan pentingnya kesadaran diri terhadap batin dan tubuh, di mana pengalaman fisik, emosi, dan spiritual bersatu membentuk makna hidup.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual, taktil, dan emosional:
  • “gerak laju segala badai kuhisap, meniupnya” – imaji visual dan kinetik yang menggambarkan kekuatan alam dan emosi.
  • “menara laut dan sungai-sungai pedalaman, lenyap” – imaji lanskap yang luas dan menghilang, menyiratkan kefanaan dan perjalanan batin.
  • “persendian menyalak; bawa jejak lilin” – imaji tubuh dan sensual, menggabungkan fisik dengan pengalaman emosional.
  • “dalam kadar gending malam yang genangi urat darah” – imaji sensorik dan emosional yang menghidupkan suasana malam dengan ketegangan dan gairah.
Imaji ini menciptakan nuansa puitis yang intens dan berlapis, menghubungkan alam, tubuh, dan pengalaman batin manusia.

Majas

Beberapa majas yang terlihat dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “jemari dan cuaca”, menyimbolkan keterhubungan manusia dengan alam dan pengalaman emosional.
  • Personifikasi: “badai kuhisap, meniupnya”, memberi sifat aktif pada alam, seolah ikut berinteraksi dengan narator.
  • Hiperbola: “dalam kadar gending malam yang genangi urat darah” menegaskan intensitas emosi dan pengalaman batin.
  • Simbolisme: Badai, sungai, menara, dan lilin menjadi simbol perjalanan hidup, pengalaman batin, dan kenangan.
Puisi “Jemari dan Cuaca” karya Pudwianto Arisanto adalah refleksi puitis tentang keterhubungan manusia dengan alam, tubuh, dan batin. Dengan bahasa yang intens, imaji yang kuat, dan majas simbolik, penyair menampilkan pengalaman batin yang kompleks: antara kesepian, kerinduan, kenikmatan, dan doa.

Puisi ini mengajak pembaca merasakan interaksi emosional antara diri dan dunia, di mana alam bukan sekadar latar, tetapi bagian dari perjalanan batin yang hidup dan bergerak. Jemari dan cuaca menjadi metafora utama bagi pengalaman fisik, emosional, dan spiritual yang bersatu dalam kesatuan puitis yang mendalam.

Puisi: Jemari dan Cuaca
Puisi: Jemari dan Cuaca
Karya: Pudwianto Arisanto

Catatan:
  • Pudwianto Arisanto adalah penyair kelahiran Pasuruan.
  • Pudwianto Arisanto lahir pada tanggal 25 Juni 1955.
© Sepenuhnya. All rights reserved.