Puisi: Kata Eyang (Karya Arih Numboro)

Puisi “Kata Eyang” karya Arih Numboro menyoroti perbedaan cara bermain anak-anak dahulu dan sekarang, sekaligus menekankan nilai kebersamaan, ...

Kata Eyang


Dahulu anak-anak suka gobag sodor dan jelungan
Permainan kelompok yang mengutamakan sportivitas dan kejujuran

Kata Eyang
Dahulu ada permainan bancakan dan betengan
Yang menguji kecepatan, ketangkasan, dan kecerdikan

Kata Eyang
Endhog-endhogan dan cublak-cublak suweng
Permainan yang dipadu dengan lagu-lagu merdu

Kata Eyang
Permainan anak-anak jaman dahulu
Penuh canda tawa ceria
Kebersamaan dan kekompakan
Solidaritas dan sportivitas

Kata Eyang
Bila malam purnama
Mereka berkumpul bersama
Di halaman mereka bercanda bersuka ria

Kata Eyang
Saat ini berbeda
Gadget selalu di tangan
Anak-anak jaman sekarang
Permainan penuh kekerasan
Membunuh dan menghancurkan
Individualis dan egois

Kata Eyang
Aku miris

Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Kata Eyang” karya Arih Numboro merupakan salah satu puisi anak yang sarat dengan nilai nostalgia, pendidikan moral, dan refleksi sosial. Dalam buku Surat dari Samudra, puisi ini menyoroti perbedaan cara bermain anak-anak dahulu dan sekarang, sekaligus menekankan nilai kebersamaan, sportivitas, dan kreativitas yang kini mulai terkikis oleh perkembangan teknologi. Puisi ini menggunakan bahasa sederhana namun efektif untuk menyampaikan pesan moral kepada pembaca muda maupun orang dewasa.

Tema

Tema puisi ini adalah perbandingan permainan anak-anak jaman dahulu dan sekarang serta dampak teknologi terhadap perilaku sosial anak. Arih Numboro menekankan bagaimana anak-anak dahulu bermain dengan kreatif, penuh kebersamaan, dan sportivitas, sementara anak-anak sekarang cenderung individualis dan terpengaruh oleh kekerasan dalam permainan modern.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman dan pandangan seorang eyang atau kakek yang mengingat permainan anak-anak zaman dahulu. Eyang menceritakan permainan tradisional seperti gobag sodor, jelungan, bancakan, betengan, endhog-endhogan, dan cublak-cublak suweng, yang menekankan kebersamaan, kekompakan, serta kesenangan melalui canda tawa dan lagu-lagu merdu.

Di sisi lain, eyang menyoroti perubahan yang terjadi pada anak-anak masa kini: mereka lebih banyak memegang gadget, cenderung bermain permainan penuh kekerasan, dan mengembangkan sikap individualis serta egois. Melalui narasi ini, puisi membandingkan dua generasi dan menyoroti nilai-nilai yang mulai memudar.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa perubahan teknologi dan budaya memengaruhi cara anak-anak bersosialisasi dan bermain. Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa kebersamaan, sportivitas, dan kreativitas dalam permainan tradisional memiliki nilai moral yang tinggi dan perlu dilestarikan.

Selain itu, ada makna tersirat tentang kerinduan generasi tua terhadap masa lalu yang lebih sederhana, harmonis, dan menyenangkan, di mana anak-anak belajar bekerja sama, menghargai teman, dan bermain tanpa kekerasan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi awal terasa hangat, ceria, dan penuh kebersamaan, terutama pada bait-bait yang menceritakan permainan tradisional dengan canda tawa, lagu-lagu merdu, dan kebersamaan anak-anak di malam purnama.

Namun, suasana kemudian berubah menjadi miris dan prihatin ketika eyang menggambarkan perilaku anak-anak modern yang individualis dan terpengaruh oleh permainan kekerasan serta gadget. Pergeseran suasana ini menciptakan kontras yang kuat dan menekankan pesan moral puisi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah bahwa nilai-nilai permainan tradisional—sportivitas, kekompakan, solidaritas, dan kebersamaan—perlu dilestarikan. Selain itu, puisi ini mengingatkan orang tua dan masyarakat untuk mengawasi pengaruh teknologi dan permainan modern agar anak-anak tetap tumbuh dengan karakter yang positif dan berbudaya.

Pesan moral yang disampaikan juga menekankan pentingnya mengenang masa lalu untuk belajar dari nilai-nilai yang baik, bukan sekadar menyesali perubahan zaman.

Imaji

Puisi ini memunculkan imaji visual dan imaji sosial:
  • “Dahulu anak-anak suka gobag sodor dan jelungan” → imaji visual yang membantu pembaca membayangkan anak-anak bermain di halaman dengan penuh semangat.
  • “Bila malam purnama / Mereka berkumpul bersama / Di halaman mereka bercanda bersuka ria” → imaji visual dan sosial yang menekankan kebersamaan dan kegembiraan.
  • “Gadget selalu di tangan / Anak-anak jaman sekarang / Permainan penuh kekerasan” → imaji modern yang menonjolkan individualisme dan pengaruh teknologi.
Imaji-imaji ini memperkuat perbandingan dua generasi dan menyampaikan pesan moral secara emosional.

Majas

Beberapa majas yang dapat ditemukan dalam puisi ini antara lain:
  • Majas repetisi, terlihat pada pengulangan kata “Kata Eyang” di setiap bait. Pengulangan ini memberikan ritme dan menekankan sudut pandang sang eyang.
  • Majas kontras, yaitu perbandingan antara permainan anak-anak jaman dahulu yang ceria, penuh solidaritas, dan permainan modern yang individualis dan kekerasan. Majas ini memperkuat pesan reflektif dan moral.
  • Majas personifikasi ringan, pada penggunaan “Gadget selalu di tangan”, seakan gadget menjadi tokoh yang mengubah perilaku anak-anak.
Puisi “Kata Eyang” karya Arih Numboro adalah puisi anak yang sekaligus menjadi refleksi sosial. Puisi ini mengingatkan kita bahwa nilai-nilai tradisional dalam permainan anak-anak—kebersamaan, sportivitas, dan kreativitas—memiliki peran penting dalam pembentukan karakter.

Puisi ini mengajak anak-anak, orang tua, dan masyarakat untuk mengenang masa lalu dan belajar dari nilai-nilai baik yang ada, sambil tetap menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Dengan imaji yang kuat dan majas yang efektif, puisi ini berhasil menyampaikan pesan moral secara emosional dan menyentuh, membuat pembaca menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai tradisional.

Arih Numboro
Puisi: Kata Eyang
Karya: Arih Numboro

Biodata Arih Numboro:
  • Arih Numboro lahir di sebuah dusun kecil bernama Taman Kulon, Desa Wiroko, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.