Analisis Puisi:
Puisi "Lanskap Pantai" karya Dorothea Rosa Herliany adalah salah satu contoh bagaimana penyair Indonesia menggunakan lanskap alam sebagai medium untuk menyampaikan perasaan batin, kegelisahan, sekaligus renungan tentang kehidupan. Dorothea yang dikenal dengan gaya puisinya yang lugas namun penuh simbol, dalam puisi ini menghadirkan pantai bukan hanya sebagai ruang fisik, melainkan juga sebagai cermin batin manusia.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kesunyian batin dan renungan eksistensial melalui lanskap pantai. Pantai digambarkan sebagai tempat yang menyimpan banyak simbol kehidupan: ada nelayan, ikan, camar, hingga kerang dan bangkai. Semuanya merepresentasikan siklus hidup yang tak lepas dari kegelisahan dan kesedihan.
Puisi ini bercerita tentang seorang penyair yang merenungi kehidupan melalui lanskap pantai. Ombak, langit, dan camar menjadi perumpamaan tentang batin manusia yang dipenuhi gelisah, sementara kerang, bangkai, dan lumut di pantai menggambarkan sisa-sisa kehidupan yang tak abadi. Puisi ini seperti sebuah kontemplasi: penyair melihat ke pantai, tetapi sebenarnya ia sedang menatap ke dalam dirinya sendiri.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa hidup penuh dengan kesedihan, kehilangan, dan kesunyian yang tak selalu bisa ditembus atau dipahami oleh jiwa manusia. Simbol-simbol pantai merefleksikan betapa hidup adalah serakan peristiwa: ada yang masih bergerak (camar, nelayan, ombak) dan ada yang sudah mati atau tertinggal (bangkai, lumut, kerang). Semua itu menyatukan gambaran tentang kefanaan hidup, serta kesunyian batin manusia yang terus mencari makna.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, gelisah, dan penuh renungan. Kata-kata seperti “surat-surat kesedihan” dan “kesunyian tak tertembus jiwa” menegaskan suasana muram dan getir yang mewarnai puisi. Meskipun pantai biasanya identik dengan keceriaan atau keindahan, dalam puisi ini pantai justru menjadi lanskap kesunyian yang menekan.
Amanat / pesan yang disampaikan
Pesan yang dapat ditarik dari puisi ini adalah bahwa manusia harus menyadari kefanaan hidup dan menerima kenyataan bahwa dalam hidup selalu ada kesunyian, kesedihan, serta sisa-sisa yang ditinggalkan waktu. Pantai menjadi cermin untuk merenung bahwa kehidupan bukan hanya tentang keindahan, melainkan juga tentang kehilangan.
Imaji
Puisi ini sarat dengan imaji visual dan imaji auditif:
- Imaji visual: “nelayan-nelayan di atas sampan dan ikan-ikan di matanya”, “pantai-pantai bertebaran kerang, bangkai-bangkai, dan lumut”, “seekor kerang, cuma sisa …” → melukiskan gambaran nyata yang bisa dilihat.
- Imaji auditif: “gemuruh dan gelisah” → menghadirkan bunyi ombak yang bergemuruh sekaligus kegelisahan batin.
Imaji tersebut membuat puisi ini terasa hidup, meski suasana yang dihadirkan lebih dekat dengan kesedihan.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “di seberang ombak dalam batinmu” → ombak menjadi simbol gelombang perasaan dalam batin.
- Personifikasi: “langit dan camar-camar mengusung surat-surat kesedihan” → langit dan camar digambarkan seolah mampu membawa surat, layaknya manusia.
- Repetisi: pengulangan frasa “kesunyian tak tertembus jiwa” menekankan makna kesepian yang mendalam.
- Simbolisme: kerang, bangkai, lumut, dan ombak digunakan sebagai lambang kehidupan, kematian, dan kefanaan.
Puisi "Lanskap Pantai" karya Dorothea Rosa Herliany menampilkan sebuah tafsir batin yang kuat melalui gambaran pantai. Dengan tema tentang kesunyian dan kesedihan, puisi ini bercerita tentang renungan eksistensial manusia yang melihat kehidupan seperti lanskap pantai penuh serakan dan sisa-sisa. Makna tersiratnya mengajak pembaca untuk memahami bahwa kehidupan selalu menyimpan luka dan kehilangan, sementara imaji serta majas yang digunakan memperkuat suasana melankolis dalam puisi.

Puisi: Lanskap Pantai
Karya: Dorothea Rosa Herliany
Biodata Dorothea Rosa Herliany:
- Dorothea Rosa Herliany lahir pada tanggal 20 Oktober 1963 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ia adalah seorang penulis (puisi, cerita pendek, esai, dan novel) yang produktif.
- Dorothea sudah menulis sejak tahun 1985 dan mengirim tulisannya ke berbagai majalah dan surat kabar, antaranya: Horison, Basis, Kompas, Media Indonesia, Sarinah, Suara Pembaharuan, Mutiara, Citra Yogya, Dewan Sastra (Malaysia), Kalam, Republika, Pelita, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Jawa Pos, dan lain sebagainya.