Puisi: Linglung Orang Rongsokan (Karya Hamid Jabbar)

Puisi "Linglung Orang Rongsokan" karya Hamid Jabbar menyoroti berbagai aspek kehidupan modern, khususnya dalam konteks urbanisasi, teknologi, dan ...
Linglung Orang Rongsokan

Orang kampung linglung aku
masuk kota bingung aku
rindukan resep bahagia-langsung aku!
Tapi yang langsung aku temukan
barang-barang rongsokan
berharga edan!

Empatpuluhjuta cubit
harga seunit komputer alit!
Empatratusjuta tendang
harga seunit komputer sedang!
Empatmilyarsetengah gila
harga seunit komputer merek lupa!

Tapi komputer bahagia-langsung tak ada
di empatpuluhmilyar toko-serba-ada!

O orang-kampung linglung aku
balik kampung o linglung aku
rindukan resep bahagia-langsung aku!

Tapi jawaban otomat itu terus berlagu:
tak-ketemu tak-ketemu tak-ketemu!

Aku temukan hanya rumah rongsokan:
Ummi dan rindu, puing-puing tak tertahankan!

Dan di entah mana entah darah
yang kubayangkan tumpah
dahulu, bersama kelahiranku!

Tapi di kasur rongsokan itu ada
entah, mungkin peta nasibku,
tapi tetap entahlah, tak kutahu!

Dan yang terbayang kemudian
tubuhku jadi bayi kembali!
tanpa dosa, jauh dari rongsokan!

Tapi terbayang lanjutan bayang
di samping tubuhku yang terngeak
ada yang masih saja tergeletak:
komputer abadi
di dalamnya tersimpan
Al-Qur'an!

Dan kini aku sudah ubanan
bagai barang rongsokan
tersadar menemukan Al-Qur'an
yang lupa kuterjemahkan
ke dalam hidupku
yang semakin teler
dalam komputer teler
yang berantakan
dalam lautan tegangan
medan-elektro-magnetik
arus tak henti berderak-derik
tinggi meninggi lomba cekik-mencekik
tak putus-putus sebelum pupus!

Astaghfirullah ya Allah!

Jakarta, 1987
Revisi: Jakarta, 1994

Analisis Puisi:

Puisi "Linglung Orang Rongsokan" karya Hamid Jabbar adalah karya yang penuh dengan lapisan makna dan menyoroti berbagai aspek kehidupan modern, khususnya dalam konteks urbanisasi, teknologi, dan kehilangan makna spiritual.

Kontras Lingkungan: Puisi ini memulai dengan kontras antara "orang kampung" dan "kota." Ini mencerminkan perasaan kebingungan dan ketidakpastian yang mungkin dialami oleh individu yang beralih dari lingkungan pedesaan ke perkotaan. Hal ini juga mencerminkan perubahan sosial dan budaya yang kompleks ketika orang-orang beradaptasi dengan kehidupan urban.

Kemajuan Teknologi: Puisi ini menciptakan gambaran tentang kecanggihan teknologi dengan menyebutkan harga komputer. Penggunaan harga yang fantastis mencerminkan bagaimana teknologi modern dapat menjadi "barang-barang rongsokan" bagi orang yang tidak mampu atau merasa ketinggalan zaman. Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi simbol ketidaksetaraan ekonomi.

Ketidakbahagiaan dalam Kemewahan: Meskipun harga komputer sangat tinggi, penyair merasa bahwa mereka tidak dapat menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya melalui barang-barang tersebut. Ini mencerminkan pengamatan bahwa materi dan kekayaan tidak selalu membawa kebahagiaan yang hakiki.

Pencarian Spiritualitas: Puisi ini menciptakan perasaan bahwa penyair merindukan makna dan spiritualitas dalam hidupnya. Pencarian ini tercermin dalam frasa "rindukan resep bahagia-langsung aku!" dan menunjukkan bahwa kemewahan materi tidak selalu dapat mengisi kekosongan spiritual.

Perubahan dan Kehilangan Identitas: Puisi ini mencerminkan perasaan kehilangan identitas dan kebingungan penyair dalam menghadapi perubahan besar dalam hidupnya. Perubahan ini dapat memengaruhi pandangan mereka terhadap diri sendiri dan dunia.

Kesadaran Spiritual: Puisi ini mencapai puncaknya ketika penyair menemukan Al-Qur'an yang telah lupa mereka terjemahkan ke dalam hidup mereka. Ini merupakan momen kesadaran spiritual dan menciptakan harapan akan pemulihan makna dan hubungan dengan agama.

Puisi "Linglung Orang Rongsokan" adalah karya yang mempertanyakan makna kehidupan dalam era teknologi dan urbanisasi. Melalui kontras, perasaan kehilangan, dan pencarian spiritualitas, puisi ini menggambarkan perjalanan emosional penyair dan kompleksitas kehidupan modern.

Puisi: Linglung Orang Rongsokan
Puisi: Linglung Orang Rongsokan
Karya: Hamid Jabbar

Biodata Hamid Jabbar:
  • Hamid Jabbar (nama lengkap Abdul Hamid bin Zainal Abidin bin Abdul Jabbar) lahir 27 Juli 1949, di Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatra Barat.
  • Hamid Jabbar meninggal dunia pada tanggal 29 Mei 2004.
© Sepenuhnya. All rights reserved.