Puisi: Membaca Sejarah (Karya Djoko Saryono)

Puisi “Membaca Sejarah” karya Djoko Saryono bercerita tentang seorang anak bangsa yang mempertanyakan warisan sejarah dan ideologi yang ditanamkan ...

Membaca Sejarah

Ibu, ibu, siapa telah menanam semiotika kemegahan sriwijaya,
majapahit, dan tiga setengah abad kolonialisme Belanda
ke dalam rongga dada? Dan kini jadi batu, seperti beton-beton raksasa
di jalan layang dan gedung megapolitan kota Jakarta
yang merampas semua cakrawala
dan menikam pelangi di langit senjakala

Ibu, ibu, siapa telah menanam semiotika pertumbuhan, pemerataan,
kehebatan fundamen ekonomi, dan keberhasilan pembangunan
ke dalam syaraf pikiran? Dan kini jadi mitologi, seperti menhir batu-batu
di sepi perbukitan tua dan tanah-tanah tinggi
yang menyuguhkan aroma keangkeran mitis
dan menaburkan bubuk ekstasi benda-benda pada manusia

Ibu, ibu, siapa telah menanam semiotika stabilitas politik,
massa mengambang, dan undang-undang regulasi partai tak bisa diusik
ke dalam nadi kehidupan? Dan kini jadi monumen, seperti portal baja
di jalan perumahan mewah kota dan halaman departemen negara
yang merintangi kebebasan lalu lalang manusia
dan memasung pluralisme suara di dalam gudang kuasa

Ibu, ibu, betapa berat mengusungnya ke lorong-lorong Indonesia
dan mengkilapkannya jadi cermin kegagahan kita!
dan menyulapnya jadi bukti keberhasilan kita!

Ibu, ibu, jangan jadikan aku Syshipe, jangan jadikan aku Syshipe!
biar, biar, biarkanlah aku jadi Ibnu Batutah si pengembara itu
yang mengarung luas samudra peradaban beribu kalam suci
yang membentangkan luas cakrawala kebudayaan bersari ajaran abadi
untuk kemudian singgah di bandar nabi-nabi yang bersuar cahaya ayat suci
dan bertemu Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Rumi, Qadir Jailani,
Suhrawardi, Hamzah Fansuri, Ar’anirri, Ahmad Dahlan, dan Hasyim As’ari
dan bersilat kata sama Socrates, Plato, Aristoteles, Descartes, Hobbes,
Marx, Foucault, Derrida, Chomsky, Einstein, Hawking, dan Habermas
demi keselamatan kita di padang abadi bikinan ilahi

Ibu, ibu, lepaskan aku dari segenap titipan sejarahmu!

Malang, Desember 1996

Sumber: Arung Diri (2013)

Analisis Puisi:

Tema utama dalam puisi “Membaca Sejarah” karya Djoko Saryono adalah kritik terhadap warisan sejarah dan ideologi yang membelenggu kesadaran bangsa. Puisi ini menyoroti bagaimana berbagai narasi kejayaan masa lalu—seperti kemegahan Sriwijaya dan Majapahit, pembangunan ekonomi, serta stabilitas politik—telah berubah menjadi simbol-simbol beku yang kehilangan makna sejatinya. Tema ini menegaskan keprihatinan terhadap bangsa yang terjebak dalam mitos sejarah, bukan pada semangat pembelajaran dari sejarah itu sendiri.

Puisi ini mengajak pembacanya untuk merenungkan bagaimana “sejarah” kerap diperlakukan sebagai sesuatu yang patut dibanggakan tanpa disertai kesadaran kritis terhadap realitas sosial yang sedang terjadi. Dengan kata lain, Djoko Saryono mengangkat tema kesadaran historis dan pembebasan intelektual dari dogma-dogma masa lalu.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak bangsa yang mempertanyakan warisan sejarah dan ideologi yang ditanamkan oleh “ibu” — simbol dari tanah air, bangsa, atau generasi pendahulu. Sang penyair mengulang seruan “Ibu, ibu,” seolah berdialog penuh kegelisahan terhadap apa yang diwariskan kepadanya: kemegahan kerajaan-kerajaan masa lalu, mitos pembangunan ekonomi, serta sistem politik yang mengekang kebebasan.

Bagian akhir puisi menggambarkan pergulatan batin penyair yang menolak menjadi “Syshipe” (mengacu pada Sisyphus dalam mitologi Yunani, yang dikutuk untuk mendorong batu ke puncak gunung tanpa akhir), simbol dari kerja sia-sia dan penderitaan tanpa makna. Ia lebih memilih menjadi “Ibnu Batutah”, simbol pengembara yang haus akan pengetahuan dan kebenaran. Kisah perjalanan batin ini menandai keinginan penyair untuk membebaskan diri dari sejarah yang menindas menuju pencarian makna sejati kehidupan dan kebudayaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah ajakan untuk bersikap kritis terhadap sejarah dan ideologi bangsa. Djoko Saryono tidak menolak sejarah, tetapi menolak pemujaan terhadap sejarah yang membuat bangsa terkungkung dalam kebanggaan semu. Ia mengkritik bagaimana simbol-simbol kejayaan masa lalu telah “mengeras menjadi batu” — metafora untuk kemacetan berpikir dan hilangnya daya hidup budaya.

Makna tersirat lainnya ialah keinginan untuk menafsirkan ulang sejarah secara reflektif, bukan sekadar menghafalnya sebagai kebanggaan nasional. Melalui tokoh Ibnu Batutah, penyair menyiratkan pentingnya pencarian pengetahuan universal dan kebijaksanaan lintas zaman, agar manusia tidak terjebak dalam glorifikasi masa lalu, melainkan belajar darinya untuk membangun masa depan yang lebih manusiawi dan tercerahkan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini didominasi oleh kegelisahan intelektual dan kritik eksistensial. Pembaca dapat merasakan nada yang resah, penuh tanya, bahkan sedikit getir saat penyair menyoroti simbol-simbol sejarah dan ideologi nasional yang dianggap kehilangan makna. Suasana berubah menjadi kontemplatif dan heroik di bagian akhir, ketika penyair memproklamasikan tekad untuk melepaskan diri dari “titipan sejarah” dan memilih jalan pengembaraan spiritual serta intelektual.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan utama puisi ini adalah jangan menjadi budak sejarah, tetapi pelajarilah dengan kritis. Djoko Saryono mengingatkan bahwa sejarah, kebanggaan, dan ideologi bangsa harus dipahami secara reflektif, bukan dijadikan mitos yang membutakan. Ia menegaskan pentingnya kebebasan berpikir, keberanian intelektual, dan pembebasan dari doktrin-doktrin masa lalu.

Amanat lainnya ialah pentingnya keterbukaan terhadap pengetahuan lintas budaya dan peradaban. Dengan menyebut tokoh-tokoh besar dari Timur dan Barat—dari Rumi hingga Derrida, dari Socrates hingga Habermas—penyair mengajak pembaca untuk tidak fanatik pada satu narasi sejarah, tetapi belajar dari berbagai tradisi pemikiran demi keselamatan manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Imaji

Puisi ini sangat kaya dengan imaji visual dan simbolik. Djoko Saryono menggunakan citraan konkret untuk menggambarkan hal-hal abstrak seperti ideologi, sejarah, dan kesadaran bangsa. Misalnya:
  • “Seperti beton-beton raksasa di jalan layang dan gedung megapolitan kota Jakarta” menghadirkan imaji visual modernitas yang kaku dan menindas, melambangkan kehilangan cakrawala kebebasan.
  • “Menikam pelangi di langit senjakala” adalah imaji visual dan emosional yang kuat, menggambarkan keindahan dan harapan yang terluka oleh pembangunan tanpa jiwa.
  • “Menhir batu-batu di sepi perbukitan tua” menciptakan imaji arkeologis dan mistis, menggambarkan ideologi masa lalu yang menjadi mitos beku.
  • “Portal baja di jalan perumahan mewah kota” menjadi simbol konkret dari pembatas sosial dan politik, menunjukkan ketimpangan dan pembatasan kebebasan.
Imaji-imaji ini membentuk lanskap simbolik yang mencerminkan kebekuan sejarah dan kehampaan spiritual modernitas.

Majas

Djoko Saryono menggunakan berbagai majas (gaya bahasa) untuk memperkuat daya ekspresif puisinya, antara lain:
  • Metafora: “semiotika kemegahan”, “semiotika pertumbuhan”, dan “semiotika stabilitas politik” — menandakan bahwa sejarah dan ideologi dipandang sebagai sistem tanda yang dikonstruksi dan diwariskan secara sosial.
  • Simile (perbandingan): penggunaan kata “seperti” dalam “seperti beton-beton raksasa” atau “seperti menhir batu-batu” menggambarkan perubahan ide menjadi benda mati.
  • Personifikasi: “pelangi di langit senjakala” yang “ditikam” menggambarkan keindahan alam yang seolah menjadi korban keserakahan manusia.
  • Repetisi: pengulangan frasa “Ibu, ibu” menciptakan efek emosional sekaligus retoris, memperkuat kesan dialog spiritual antara anak dan tanah air.
  • Alusi: penyebutan tokoh-tokoh seperti Syshipe (Sisyphus), Ibnu Batutah, Rumi, Plato, hingga Derrida menunjukkan cakrawala intelektual luas yang digunakan penyair untuk menyampaikan gagasan filosofis.
Majas-majas tersebut memperkuat pesan puisi: bahwa sejarah dan ideologi tidak boleh dikeramatkan, tetapi harus dibaca dengan kesadaran kritis dan keberanian menafsir ulang.

Puisi “Membaca Sejarah” karya Djoko Saryono adalah refleksi mendalam tentang hubungan manusia dengan sejarah dan ideologi bangsanya. Dengan nada yang reflektif dan kritis, penyair menggugah kesadaran pembaca untuk tidak terjebak dalam glorifikasi masa lalu, melainkan menempuh jalan pengembaraan intelektual dan spiritual sebagaimana simbol “Ibnu Batutah”.

Melalui penggunaan imaji kuat, majas yang kaya, dan struktur retoris yang berulang, Djoko Saryono menghadirkan karya yang bukan hanya indah secara estetik, tetapi juga bernilai filosofis tinggi. Ia mengingatkan kita bahwa membaca sejarah bukan berarti memuja masa lalu, tetapi menemukan kebijaksanaan untuk membangun masa depan yang lebih manusiawi dan tercerahkan.

Djoko Saryono
Puisi: Membaca Sejarah
Karya: Djoko Saryono

Biodata Djoko Saryono:
  • Prof. Dr. Djoko Saryono lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di kota Madiun.
© Sepenuhnya. All rights reserved.