Puisi: Mencari Bahagia (Karya Djoko Saryono)

Puisi “Mencari Bahagia” karya Djoko Saryono bercerita tentang seorang pencari kebijaksanaan yang berusaha menemukan makna bahagia di tengah dunia ...

Mencari Bahagia

dengan bening doa kudaras kitab demi kitab tua
karena dunia dilimbur cemas dan kalap senantiasa
dengan merdu zikir kucerna arif pikir demi pikir ternama
karena manusia ditenung tamak dan loba tanpa jeda
dan kucari-cari Ki Ageng Suryamentaram sang Pangeran Jawa
pemilik kitab kearifan kehidupan bersari kenikmatan baka
yang menawarkan racikan kawruh jiwa bagi semua manusia
yang memberikan adonan  pangawikan pribadi bagi jiwa dahaga
siapa duga bisa menenangkan manusia, mendamaikan dunia

"tapi, jangan kau buru bahagia semata, ia mulur mungkret adanya
selami palung jiwa, bakal kau temukan  sangkan paraning manusia
berhulu Gusti sumber segala ada, asal segenap keadaan jiwa
niscaya kau dan dunia bertawaf mengitari hidayah Sang Mahacinta",

kudengar Pangeran Jawa berbagi jalan terang menuju negeri suka cita
aku ternganga, kenapa dunia tiba di simpang jalan tak bertanda
dan manusia mengambil arah menjauhi jalan Pangeran Jawa

Malang, 2012

Sumber: Arung Diri (2013)
Catatan:
  • Kawruh jiwa = pengetahuan jiwa.
  • Pangawikan pribadi = rahasia diri pribadi.
  • Mulur mungkret = memuai mengerut.
  • Sangkan paraning = hakikat datang dan pergi.

Analisis Puisi:

Puisi “Mencari Bahagia” karya Djoko Saryono adalah karya yang penuh dengan refleksi spiritual dan kebijaksanaan hidup. Dengan gaya bahasa puitis dan simbolik, penyair mengajak pembaca untuk meninjau ulang makna sejati kebahagiaan yang tidak bersumber dari dunia luar, melainkan dari kedalaman batin manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian kebahagiaan sejati melalui pengetahuan jiwa dan kedekatan spiritual. Djoko Saryono tidak memaknai bahagia sebagai kesenangan duniawi, melainkan sebagai keseimbangan batin yang lahir dari kesadaran terhadap “sangkan paraning dumadi” — hakikat datang dan perginya manusia di dunia.

Tema ini menyinggung hubungan antara manusia dengan Tuhan, serta pencarian makna hidup yang hakiki di tengah dunia yang penuh keserakahan dan kekacauan.

Puisi ini bercerita tentang seorang pencari kebijaksanaan yang berusaha menemukan makna bahagia di tengah dunia yang “dilimbur cemas dan kalap senantiasa”. Sang penyair mencoba menenangkan dirinya dengan doa, zikir, dan pembacaan kitab-kitab tua — simbol dari pencarian spiritual dan intelektual.

Dalam prosesnya, ia bertemu secara simbolis dengan Ki Ageng Suryamentaram, seorang filsuf Jawa yang dikenal dengan ajaran kawruh jiwa (pengetahuan jiwa) dan pangawikan pribadi (pemahaman rahasia diri). Tokoh ini hadir sebagai penuntun batin yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak dapat dikejar secara langsung, sebab ia “mulur mungkret” — bisa mengembang dan mengerut, berubah-ubah sesuai kondisi jiwa.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kebahagiaan tidak berada di luar diri manusia, tetapi di dalam kesadaran spiritual dan keikhlasan hati. Dunia yang dipenuhi “cemas dan kalap” menggambarkan kondisi manusia modern yang kehilangan arah karena terjebak pada ambisi dan keserakahan.

Melalui ajaran Ki Ageng Suryamentaram, penyair menegaskan bahwa bahagia hanya bisa ditemukan melalui penyelaman ke “palung jiwa”, yakni perenungan mendalam terhadap asal-usul dan tujuan hidup (sangkan paraning manusia). Ketika seseorang menyadari bahwa segala sesuatu bersumber dari Gusti — Tuhan — maka ia akan mencapai kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki.

Selain itu, puisi ini juga menyindir masyarakat modern yang “mengambil arah menjauhi jalan Pangeran Jawa”, artinya meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal dan spiritualitas demi mengejar materi serta kenikmatan sesaat.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini adalah kontemplatif dan religius. Ada nuansa ketenangan dan pencarian makna, bercampur dengan nada kesedihan dan keprihatinan terhadap kondisi dunia yang kacau.

Pembuka puisi yang berbunyi “dengan bening doa kudaras kitab demi kitab tua” menciptakan kesan hening dan suci, seolah pembaca diajak memasuki ruang batin seorang pengelana spiritual yang sedang berdoa dan bermeditasi. Namun di balik ketenangan itu, terdapat juga keresahan terhadap dunia yang “ditenung tamak dan loba tanpa jeda”, menunjukkan konflik antara kebijaksanaan dan keserakahan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah ajakan untuk mencari kebahagiaan melalui pemahaman diri dan kedekatan dengan Tuhan, bukan melalui harta, jabatan, atau kesenangan duniawi.

Djoko Saryono melalui dialog simbolis dengan “Pangeran Jawa” ingin menegaskan bahwa bahagia adalah keadaan jiwa yang seimbang dan berserah, bukan sesuatu yang bisa dikejar atau dimiliki.

Pesan penting lainnya adalah perlunya kembali kepada ajaran kebijaksanaan Nusantara, seperti falsafah Ki Ageng Suryamentaram, yang menekankan keseimbangan antara akal, rasa, dan spiritualitas. Dunia akan lebih damai bila manusia memahami “kawruh jiwa” dan menapaki jalan hidayah Sang Mahacinta.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji spiritual dan intelektual yang kuat. Misalnya:
  • “dengan bening doa kudaras kitab demi kitab tua” menghadirkan imaji visual dan spiritual tentang seseorang yang membaca kitab suci dengan hati jernih.
  • “dunia dilimbur cemas dan kalap senantiasa” menampilkan imaji global tentang dunia yang kacau, penuh keresahan.
  • “selami palung jiwa, bakal kau temukan sangkan paraning manusia” menghadirkan imaji metaforis tentang kedalaman batin sebagai lautan tempat manusia menemukan jati dirinya.
Imaji-imaji ini membentuk lanskap puisi yang tenang namun dalam, menuntun pembaca untuk merenung.

Majas

Djoko Saryono menggunakan beragam majas dalam puisinya, di antaranya:
  • Metafora, seperti pada frasa “palung jiwa” yang bermakna kedalaman batin.
  • Personifikasi, seperti “dunia dilimbur cemas dan kalap senantiasa”, yang menggambarkan dunia seolah memiliki emosi.
  • Simbolisme, misalnya sosok Ki Ageng Suryamentaram sebagai simbol kearifan lokal dan ajaran kebijaksanaan jiwa.
Majas-majas tersebut memperkaya dimensi makna puisi sekaligus menciptakan irama yang lembut dan meditatif.

Puisi “Mencari Bahagia” karya Djoko Saryono adalah puisi yang menggugah kesadaran spiritual dan moral pembacanya. Melalui bahasa yang sarat simbol, penyair mengajak manusia kembali mengenal dirinya, mengolah batin, dan menemukan keseimbangan hidup.

Bahagia, bagi Djoko Saryono, bukanlah sesuatu yang dicari di luar, melainkan ditemukan ketika jiwa manusia kembali berputar mengitari “hidayah Sang Mahacinta” — Tuhan sebagai sumber segala ketenangan dan kasih.

Puisi ini menjadi pengingat bahwa dalam hiruk pikuk dunia modern, pengetahuan jiwa (kawruh jiwa) dan pemahaman pribadi (pangawikan pribadi) tetap menjadi jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan sejati.

Djoko Saryono
Puisi: Mencari Bahagia
Karya: Djoko Saryono

Biodata Djoko Saryono:
  • Prof. Dr. Djoko Saryono lahir pada tanggal 27 Maret 1962 di kota Madiun.
© Sepenuhnya. All rights reserved.