Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Merasakan Sesuatu (Karya Hendro Siswanggono)

Puisi "Merasakan Sesuatu" karya Hendro Siswanggono menggambarkan perjalanan batin yang penuh curiga, ketidakpastian, dan kepahitan yang berulang.
Merasakan Sesuatu

Merasakan sesuatu di luar diri
Seorang asing yang was-was dan curiga
Bintang-bintang penerang tak menyuluh apapun
Gambaran realitas samar tak seberapa
Kehidupan berjalan ala kadarnya
Tanpa konsep mengalir apa adanya
Muara yang tak terduga akannya
Tak memahami kepedihan
Merasakan ulangan-ulangan kepahitan
Perjalanan di tanah datar yang tinggi
Mengembara di tepian tanpa tepi
Tak mengenali hal-hal yang tampak
Hal-hal biasa terlihat aneh
Realitas dipahami sebagai pembuangan diri
Tak ada tempat lagi bagi para pemimpi
Hidup dikendalikan oleh sesuatu yang tak ada
Buah dari pohon pengetahuan
Membusuk dalam lemari pajangan

Moscow, 2019

Sumber: Topeng Gerabah Bermata Cumbu (2021)

Analisis Puisi:

Puisi "Merasakan Sesuatu" karya Hendro Siswanggono menghadirkan pengalaman batin yang kompleks dan reflektif tentang eksistensi manusia di dunia yang penuh ketidakpastian. Melalui bahasa yang puitis, penyair menyuguhkan penggambaran perasaan asing, was-was, dan keterasingan yang dialami individu ketika berhadapan dengan realitas yang samar.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah keterasingan manusia dari dunia dan realitasnya, serta pengalaman kesadaran akan ketidakpastian hidup. Puisi ini juga menyinggung tentang pencarian makna di tengah situasi yang tidak jelas, serta perasaan kehilangan arah dalam memahami eksistensi dan pengetahuan.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman subjektif seorang individu yang merasa asing di dunianya sendiri. Penyair menggambarkan perjalanan batin yang penuh curiga, ketidakpastian, dan kepahitan yang berulang. Individu ini melihat kehidupan berjalan tanpa arah, dengan realitas yang samar, dan hal-hal yang biasanya biasa menjadi terasa aneh. Puisi menekankan perasaan manusia yang terjebak antara harapan dan kenyataan yang tidak memuaskan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap kehidupan yang berjalan tanpa konsep atau tujuan yang jelas, serta rasa frustrasi ketika pengetahuan yang dicapai tidak membawa kebahagiaan atau pemahaman. Penyair tampak ingin menyampaikan bahwa realitas kadang memaksa manusia merasakan ketidakberdayaan dan kehilangan tempat bagi para pemimpi. Simbolisasi seperti “buah dari pohon pengetahuan yang membusuk dalam lemari pajangan” memperkuat makna ini, menunjukkan bahwa pengetahuan tanpa pengalaman atau pemahaman sejati hanya menjadi benda mati.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini menghadirkan suasana yang gelap, sunyi, dan penuh kebingungan. Ada nuansa keterasingan dan kesedihan yang kuat, yang membuat pembaca merasakan ketidakpastian serta kekosongan yang dialami oleh tokoh dalam puisi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah pentingnya kesadaran diri dan refleksi dalam menghadapi kehidupan yang tidak selalu jelas. Puisi ini mengingatkan kita bahwa realitas seringkali tidak sesuai harapan, dan pengetahuan atau pengalaman tanpa pemahaman mendalam hanya akan menjadi sia-sia. Di sisi lain, puisi ini juga memberi kesadaran akan keterasingan manusia sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus diterima.

Imaji

Penyair menggunakan imaji visual yang kuat, seperti “bintang-bintang penerang tak menyuluh apapun” dan “buah dari pohon pengetahuan membusuk dalam lemari pajangan”. Imaji ini menggambarkan kesunyian, keterasingan, dan kehampaan yang dirasakan individu dalam puisi, sehingga pembaca dapat merasakan kegelapan dan absurditas dunia yang digambarkan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan penyair dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, seperti “buah dari pohon pengetahuan membusuk dalam lemari pajangan” untuk melambangkan pengetahuan yang tidak bermanfaat.
  • Personifikasi, misalnya “hidup dikendalikan oleh sesuatu yang tak ada”, yang memberikan sifat manusia pada konsep abstrak.
  • Hiperbola, seperti “mengembara di tepian tanpa tepi”, untuk menekankan rasa keterasingan yang ekstrem.
Puisi "Merasakan Sesuatu" adalah karya reflektif yang penuh dengan lapisan makna tentang keterasingan, kepahitan, dan pencarian pemahaman dalam hidup. Hendro Siswanggono berhasil mengekspresikan perasaan eksistensial melalui bahasa yang padat, imaji yang kuat, dan penggunaan majas yang tepat, sehingga pembaca diajak merasakan kegelisahan batin yang sama dengan sang penyair.

Hendro Siswanggono
Puisi: Merasakan Sesuatu
Karya: Hendro Siswanggono

Biodata Hendro Siswanggono:
  • Hendro Siswanggono lahir pada tanggal 19 Oktober 1951 di Sidoarjo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.