Mungkin
Mungkin.
Saat mentari masih berteriak, namun senja menarik paksa, menjemput pulang bertemu Mama, dalam mahligai asa yang sampai kini dipanjatkan, entah memuai ke mana, mungkin tersangkut di antara awan atau taburan bintang.
Mungkin.
Tinta masih kasmaran dengan pena yang meliuk indah, namun logika tak lagi estetika untuk menelan banyak majas, hingga gelora metafora yang datang bagai bencana kini tinggal ombak kecil terakhir.
Mungkin.
Saat lilin lama padam, ayat suci mana yang akan menjadi lilin baru? Antara kumandang indah adzan atau dentang megah lonceng gereja? Mungkin. Kebenaran tidak nyata, terbatas, hanya imaji para dewa. Akhirnya, kita hanyalah seonggok tanah.
Mungkin.
Aceh, 21 Oktober 2025
Analisis Puisi:
Puisi “Mungkin” memiliki tema tentang pencarian makna dan kebenaran hidup di tengah ketidakpastian. Yehezkiel mengajak pembaca merenung tentang kefanaan manusia, pertentangan batin antara iman dan rasionalitas, serta kesadaran bahwa segala hal yang dianggap agung — baik cinta, karya, maupun kebenaran — mungkin hanyalah ilusi yang sementara.
Tema ini juga mengandung dimensi eksistensial, di mana manusia berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan besar tentang Tuhan, keyakinan, dan arti keberadaan dirinya di dunia yang serba fana.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang merenungi perjalanan hidup dan kepercayaannya, mencoba memahami arah doa, cinta, dan kebenaran dalam kehidupan yang tidak pasti.
- Pada bait pertama, penyair menggambarkan mentari dan senja sebagai simbol kehidupan dan kefanaan, lalu menyinggung kerinduan akan sosok “Mama” — mungkin melambangkan rumah, kasih, atau surga tempat kembali.
- Di bait kedua, penyair berbicara tentang tinta dan pena, simbol ekspresi dan kreativitas yang kini kehilangan makna. Puisi yang dulu bermakna kini menjadi ombak kecil — tanda bahwa idealisme dan semangat menulis telah memudar di hadapan logika yang kaku.
- Bait terakhir menghadirkan renungan spiritual: lilin lama padam, lalu muncul pertanyaan tentang ayat suci mana yang akan menjadi lilin baru. Di sini, penyair menggambarkan kebimbangan iman: antara Islam dan Kristen, antara azan dan lonceng gereja, antara keyakinan dan keraguan.
Akhirnya, penyair menyimpulkan dengan kesadaran paling sederhana — bahwa manusia hanyalah “seonggok tanah.”
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah penerimaan terhadap keterbatasan manusia dalam memahami kebenaran mutlak. Yehezkiel tampak menggugat pandangan absolut tentang kebenaran agama, logika, bahkan seni. Ia menyadari bahwa semua pencarian — baik spiritual maupun intelektual — pada akhirnya membawa manusia pada kesadaran bahwa dirinya kecil, fana, dan tak mampu menjangkau hakikat sejati kehidupan.
Kata “mungkin” yang diulang di setiap bait menegaskan sikap ragu sekaligus pasrah: keraguan pada dunia yang serba relatif, dan kepasrahan terhadap misteri yang tak dapat dijelaskan.
Puisi ini menyiratkan bahwa keraguan adalah bagian dari iman, dan bahwa mencari kebenaran adalah proses tanpa ujung — sebab pada akhirnya, manusia akan kembali menjadi tanah, menyatu dengan sunyi dan keabadian.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi “Mungkin” terasa melankolis, kontemplatif, dan sedikit getir. Ada nuansa kehilangan dan kelelahan spiritual yang kuat: dari cahaya mentari yang ditarik senja, dari pena yang kehilangan gairah, hingga lilin yang padam. Namun di balik kesedihan itu tersimpan ketenangan dan penerimaan — semacam keheningan batin setelah pergulatan panjang antara keyakinan dan keraguan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat ditarik dari puisi ini adalah manusia harus menyadari keterbatasannya dan tidak terjebak pada klaim kebenaran yang mutlak. Segala sesuatu dalam hidup — termasuk agama, cinta, dan karya seni — bersifat sementara dan ditafsirkan secara berbeda oleh setiap manusia.
Yehezkiel seolah ingin mengatakan bahwa kebenaran sejati mungkin tidak berada di luar, tetapi di dalam kesadaran yang menerima segala kemungkinan. Dan di balik semua pencarian, kita tetap akan kembali ke asal — menjadi tanah, menjadi bagian dari keabadian yang diam.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji visual dan auditif yang menciptakan suasana reflektif dan simbolik:
- “Mentari masih berteriak, namun senja menarik paksa” menghadirkan imaji visual tentang peralihan waktu yang keras, seolah menggambarkan perebutan antara hidup dan mati.
- “Tinta masih kasmaran dengan pena” memberi imaji romantis dan metaforis — hubungan antara pencipta dan karyanya.
- “Lilin lama padam” dan “dentang megah lonceng gereja” menciptakan imaji religius yang kuat, menggambarkan perubahan iman dan kebimbangan spiritual.
- “Taburan bintang”, “gelora metafora”, dan “ombak kecil terakhir” memperkaya lapisan citraan dengan nuansa visual dan emosional yang dalam.
Majas
Yehezkiel menggunakan berbagai majas untuk memperkuat daya puitis dan kedalaman makna puisinya, antara lain:
- Personifikasi – “Mentari masih berteriak”, “senja menarik paksa” memberi sifat manusia pada unsur alam, mencerminkan pergulatan antara kehidupan dan kefanaan.
- Metafora – “Tinta kasmaran dengan pena” melambangkan hubungan antara ide dan ekspresi, antara penulis dan karya.
- Simbolisme – “Lilin lama padam” menjadi simbol padamnya iman atau semangat hidup; “ayat suci” dan “lonceng gereja” melambangkan pencarian kebenaran spiritual.
- Repetisi – Pengulangan kata “Mungkin” di setiap awal bait menjadi mantra yang menciptakan efek reflektif dan memperkuat tema keraguan.
- Hiperbola – “Gelora metafora yang datang bagai bencana” memberi kesan ledakan emosional yang berlebihan untuk menegaskan kehilangan makna dalam seni dan kehidupan.
Puisi “Mungkin” karya Yehezkiel adalah refleksi mendalam tentang keterbatasan manusia dalam memahami kehidupan dan kebenaran. Dengan diksi yang sederhana namun sarat simbol, penyair membangun suasana yang melankolis dan penuh renungan. Kata “mungkin” menjadi pusat gravitasi puisi ini — sebuah kata yang menampung keraguan, pasrah, dan kebijaksanaan.
Lewat perjalanan antara cahaya dan gelap, pena dan logika, azan dan lonceng, Yehezkiel mengajak pembaca untuk menatap hidup tanpa kesombongan spiritual. Sebab pada akhirnya, sebagaimana baris terakhirnya yang jujur dan tenang:
“Kita hanyalah seonggok tanah.”
Karya: Yehezkiel
Biodata Yehezkiel:
- Yehezkiel Pernando Sihombing lahir pada tanggal 29 Agustus 2003 di Cikampak. Ia pernah beberapa kali mendapatkan gelar juara saat kompetisi puisi antar sekolah tingkat kecamatan saat menjadi pelajar di SD Swasta Grahadura Leidong Prima Kabupaten Labuhan Batu Utara Provinsi Sumatera Utara. Yehezkiel aktif di kelas Asqa Imagination School (AIS) #61 mulai bulan Agustus 2025. Penulis bisa disapa di Instagram @yehezkiels1h0mb1n9