Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Musim Gugur (Karya John Dami Mukese)

Puisi “Musim Gugur” karya John Dami Mukese bercerita tentang suasana musim gugur yang melanda alam sekitar, seperti daun ketapang yang gugur dan ...

Musim Gugur

Ketapang depan kamarku kian meranggas
Daun-daunnya gugur menjamak
Langit pun makin kosong
ketika awan gugur dalam gosong

Musim gugur sudah tiba
Mempelam di rimba selatan
Satu-satunya menyatu bumi
Jutaan bayi tak genap usia
Ramai-ramai berganti rahim

Wahai musim gugur!
Kapankah kau berganti semi?
Bumi ini makin merah
oleh darah tak bersalah
akibat dosa tak kenal tobat

Ende, Mei 1982

Sumber: Puisi-Puisi Jelata (Nusa Indah, 1991)

Analisis Puisi:

Puisi “Musim Gugur” karya John Dami Mukese menggambarkan peralihan alam sekaligus refleksi atas penderitaan manusia. Puisi ini menampilkan gabungan antara imaji alam dan kritik sosial yang mendalam.

Tema

Tema puisi ini adalah perubahan alam sebagai cerminan penderitaan manusia. Musim gugur tidak hanya digambarkan secara fisik, tetapi juga simbolik bagi kehilangan, kerusakan, dan ketidakadilan.

Puisi ini bercerita tentang suasana musim gugur yang melanda alam sekitar, seperti daun ketapang yang gugur dan langit yang kosong. Secara tersirat, puisi ini juga menyinggung kehidupan manusia yang penuh penderitaan, termasuk bayi yang tak genap usia dan dosa yang tidak bertobat.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kemunafikan manusia dan ketidakadilan yang terjadi di dunia. Musim gugur dijadikan simbol dari kematian, kerentanan, dan kondisi dunia yang mengalami kerusakan akibat perbuatan manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini suram, melankolis, dan penuh kesedihan. Imaji daun yang gugur, langit yang kosong, dan bumi yang merah oleh darah membangun atmosfer duka dan kekelaman.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat diambil adalah pentingnya kesadaran manusia terhadap penderitaan sesama dan perlunya tobat serta perbaikan moral agar dunia tidak terus “merah” oleh dosa dan ketidakadilan.

Imaji

Beberapa imaji yang menonjol:
  • “Ketapang depan kamarku kian meranggas / Daun-daunnya gugur menjamak” — visualisasi musim gugur yang nyata.
  • “Bumi ini makin merah / oleh darah tak bersalah” — imaji yang kuat menyiratkan penderitaan dan ketidakadilan manusia.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas, antara lain:
  • Personifikasi, ketika musim gugur digambarkan seolah memiliki kehendak untuk berganti semi.
  • Metafora, darah dan musim gugur melambangkan penderitaan manusia dan dosa yang tak bertobat.
Puisi “Musim Gugur” adalah puisi yang menggabungkan keindahan alam dengan refleksi sosial dan moral, menekankan kesadaran manusia terhadap penderitaan dan ketidakadilan di sekitarnya.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Musim Gugur
Karya: John Dami Mukese

Biodata John Dami Mukese:
  • John Dami Mukese lahir pada tanggal 24 Maret 1950 di Menggol, Benteng Jawa, Manggarai Timur, Flores, NTT.
  • John Dami Mukese meninggal dunia pada pukul 02.15 WITA tanggal 26 Oktober 2017 di RSUD Ende.
© Sepenuhnya. All rights reserved.