Puisi: Nostalgia (Karya Irma Agryanti)

Puisi "Nostalgia" karya Irma Agryanti mengajak pembaca merenung tentang kefanaan, kehilangan, dan nilai memori dalam kehidupan sehari-hari.

Nostalgia

tak ada yang tiba di sini
tahun-tahun mengubah diri dalam kalender

kota dan kartu nama
menanda pertemuan
ingatku pada kecemasan jam

kenangan merumuskan kembali tubuh kita
Di mana setiap orang sembunyi
dari derita dan asam matahari

juga kau, tak ada lagi yang kujumpai
selain jalanan, gedung tua,
kulit kayu yang melumut

2012

Sumber: Requiem Ingatan (2013)

Analisis Puisi:

Puisi "Nostalgia" karya Irma Agryanti adalah karya yang menghadirkan refleksi tentang waktu, memori, dan perubahan yang dialami manusia serta lingkungan sekitarnya. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, puisi ini menekankan kesan kehilangan, kerinduan, dan perenungan terhadap masa lalu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan, waktu, dan perubahan manusia serta lingkungan. Puisi ini menekankan bagaimana pengalaman masa lalu membentuk identitas, tetapi juga meninggalkan rasa kehilangan dan keterasingan dari masa kini.

Puisi ini bercerita tentang perenungan penyair terhadap masa lalu dan kenangan yang telah berubah seiring waktu. Penyair menyoroti:
  • Tahun-tahun yang mengubah diri manusia dan kota, seolah kalender mencatat perubahan yang tak bisa kembali.
  • Pertemuan dan interaksi manusia yang ditandai oleh kota dan kartu nama, namun kini terasa hampa.
  • Kenangan yang tetap hadir, namun orang-orang yang ada di masa lalu kini tersembunyi atau tidak lagi ditemui.
  • Lingkungan sekitar—jalanan, gedung tua, dan kulit kayu yang melumut—menjadi saksi bisu dari perubahan waktu dan memori.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah perasaan keterasingan dan kesepian dalam menghadapi waktu yang terus berjalan. Penyair menyadari bahwa meskipun kenangan membentuk dirinya, pertemuan dan interaksi manusia bersifat sementara, dan lingkungan yang dulu akrab kini berubah atau ditinggalkan. Puisi ini juga menekankan pentingnya menghargai momen dan hubungan sebelum hilang oleh waktu.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini melankolis, sepi, dan reflektif. Ada kesan kehilangan dan keterasingan, di mana penyair menatap kembali masa lalu sambil merasakan perbedaan antara apa yang dulu ada dan apa yang tersisa sekarang. Gedung tua, jalanan, dan kulit kayu yang melumut menciptakan atmosfer nostalgia yang kuat.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji visual dan emosional yang kuat:
  • “Jalanan, gedung tua, kulit kayu yang melumut” menciptakan imaji visual tentang lingkungan yang tua dan berubah seiring waktu.
  • “Kenangan merumuskan kembali tubuh kita” memberikan imaji emosional tentang hubungan manusia dengan memori dan tubuhnya sendiri.
  • “Kota dan kartu nama menanda pertemuan” menghadirkan imaji sosial dan profesional, simbol interaksi manusia yang kini terasa kosong.

Majas

Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini meliputi:
  • Metafora: Kalender sebagai simbol waktu dan perubahan yang tak bisa dikembalikan.
  • Personifikasi: Kenangan digambarkan “merumuskan kembali tubuh kita,” seolah memiliki peran aktif dalam kehidupan manusia.
  • Simbolisme: Gedung tua dan kulit kayu yang melumut menjadi simbol ketahanan waktu dan perubahan lingkungan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan puisi ini adalah pentingnya menghargai kenangan dan momen masa lalu sekaligus menyadari perubahan yang tak terelakkan. Irma Agryanti mengajak pembaca untuk merenung tentang hubungan manusia dengan waktu, lingkungan, dan kenangan yang membentuk identitas diri, meskipun orang-orang dan tempat berubah seiring berjalannya waktu.

Puisi "Nostalgia" karya Irma Agryanti menekankan bagaimana kenangan, waktu, dan perubahan membentuk pengalaman manusia. Dengan imaji gedung tua, jalanan, dan kulit kayu yang melumut, puisi ini menghadirkan suasana reflektif dan melankolis, mengajak pembaca merenung tentang kefanaan, kehilangan, dan nilai memori dalam kehidupan sehari-hari.

Irma Agryanti
Puisi: Nostalgia
Karya: Irma Agryanti

Biodata Irma Agryanti:
  • Irma Agryanti lahir pada tanggal 28 Agustus 1986 di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.