Puisi: Orang Bercermin (Karya Afrizal Malna)

Puisi “Orang Bercermin” karya Afrizal Malna bercerita tentang seseorang yang bercermin dan menemukan bukan sekadar wajahnya, melainkan bayangan ...
Orang Bercermin

Telah sampai waktu
musim terhenti pada daun jatuh
Aku berlaut rupa berCermin Cermin

sedalam daging narsisus
wajah terkubur - kaca membilang bilang rupa:
Aku berlaut dalam Cermin-mu!

berpantul pantulan rupa bertajam cahya

tapi rupa tak berkata: lihat!
dalam beling. kaca menyayat-nyayat diri
bahwa Cermin telah pecah di dalam
sebelum kutahu Rupa-mu

aku menyesat
berkutuk bilang rupa!
dirilah hanyut sesesat usia tak bersapa
berbeling beling menyayat rupa-mu —

Aku bercermin. dalam waktu bukan rekaan.

1982

Sumber: Horison (Agustus, 1983)

Analisis Puisi:

Afrizal Malna adalah salah satu penyair Indonesia yang dikenal dengan gaya eksperimental, penuh simbol, dan kerap menantang konvensi bahasa puisi. Puisinya sering menghadirkan potongan imaji yang tajam, seolah-olah pecahan kaca yang menyayat pikiran pembaca. Salah satu puisinya, “Orang Bercermin”, menampilkan renungan eksistensial yang kompleks mengenai identitas, bayangan diri, dan hubungan manusia dengan waktu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian identitas diri dan keterasingan manusia terhadap cermin kehidupannya sendiri. Cermin dalam puisi Afrizal bukan hanya benda fisik, melainkan medium metaforis yang menyingkap wajah manusia, luka, sekaligus keterpecahan batin. Tema lain yang hadir adalah kesendirian eksistensial: manusia yang mencoba memahami dirinya justru berhadapan dengan kepedihan dan keterpecahan identitas.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang bercermin dan menemukan bukan sekadar wajahnya, melainkan bayangan yang menyakitkan, pecah, dan penuh luka. Proses bercermin menjadi perjalanan batin yang mendalam: wajah tidak lagi sekadar pantulan, melainkan cermin yang menyayat diri, menyingkap kerapuhan, dan memperlihatkan kejatuhan usia. Pada akhirnya, tokoh lirik puisi seolah mengakui bahwa cermin yang ia hadapi adalah ruang waktu yang nyata, bukan sekadar rekaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia tidak pernah bisa benar-benar utuh mengenali dirinya sendiri. Cermin hanyalah pantulan, dan pantulan itu sering pecah, menyesatkan, bahkan melukai. Dalam pencarian identitas, manusia berhadapan dengan keterpecahan batin, dengan “beling” yang menyayat-nyayat.

Selain itu, puisi ini juga menyiratkan bahwa hidup adalah perjalanan eksistensial yang penuh kesesatan dan keterasingan. Usia terus berjalan, tetapi manusia bisa merasa terbuang, hanyut, dan tidak pernah benar-benar bertemu dengan "rupa sejati"-nya.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang muncul dalam puisi ini adalah kelam, reflektif, dan penuh ketegangan batin. Ada nuansa getir dan menyesakkan, ketika tokoh lirik tidak menemukan ketenangan dalam cermin, melainkan luka, keterpecahan, dan kesesatan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat ditarik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu berani menghadapi kenyataan tentang dirinya sendiri, meski kenyataan itu pahit dan menyakitkan. Bercermin bukan hanya soal melihat wajah, melainkan menerima keterpecahan, luka, dan kenyataan hidup yang tidak sempurna. Dengan begitu, manusia bisa lebih jujur menghadapi waktu dan keberadaannya.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji yang tajam dan menyentuh indra:
  • Imaji visual: “daun jatuh”, “kaca membilang-bilang rupa”, “cermin telah pecah”, “berbeling-beling menyayat rupa-mu”. Semua menghadirkan bayangan pecahan kaca dan tubuh yang terluka.
  • Imaji perasaan: keterasingan, penyesatan, dan kutukan diri yang hanyut.
  • Imaji waktu: “musim terhenti”, “usia tak bersapa”, yang mempertegas bahwa bercermin juga berarti berhadapan dengan perjalanan usia.

Majas

Afrizal Malna banyak menggunakan majas dalam puisinya, antara lain:
  • Metafora – “Aku berlaut dalam Cermin-mu” sebagai metafora keterhanyutan diri dalam pantulan.
  • Personifikasi – cermin digambarkan bisa “menyayat-nyayat diri” seakan-akan ia hidup dan melukai.
  • Repetisi – pengulangan kata “rupa”, “cermin”, “beling” yang memperkuat suasana obsesif dan pecah.
  • Hiperbola – kesesatan usia yang “tak bersapa” memperlihatkan intensitas penderitaan batin.
  • Simbolisme – cermin menjadi simbol identitas dan kerapuhan manusia; beling adalah simbol luka batin dan keterpecahan jiwa.
Puisi “Orang Bercermin” karya Afrizal Malna adalah potret perenungan yang gelap dan penuh pergulatan eksistensial. Melalui tema identitas yang terpecah, imaji pecahan kaca, suasana kelam, dan majas yang tajam, puisi ini menyingkap kenyataan bahwa bercermin bukan sekadar melihat rupa, melainkan berhadapan dengan luka dan waktu yang tak bisa dielakkan.

Puisi Afrizal Malna
Puisi: Orang Bercermin
Karya: Afrizal Malna

Biodata Afrizal Malna:
  • Afrizal Malna lahir pada tanggal 7 Juni 1957 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.