Orang Hilang Ada Orang Pecah
Ada orang hilang. Tapi ada orang pecah juga. Presiden yang telah membunuh demokrasi, jatuh. Tangan dan lehernya mengeluarkan gergaji. Tapi dewan perwakilan rakyat harus dibuat lagi. Seperti membuat matahari dari daun pisang. Ada orang hilang, kata Tita. Tanah telah memuntahkan tubuhnya kembali. Sepatu tentara berjatuhan dari mulutnya. Ada orang hilang. Gedung parlamen berbau mayat, dapurnya juga berbau mayat. Presiden harus dibuat lagi. Kabinet harus dibuat lagi. Tapi ada orang hilang, kata Tita. Matanya ditutup politik yang terbuat dari gergaji. Tanah muntah. Tak bisa lagi menumbuhkan tanaman. Ada orang pecah. Tanaman muntah. Tak bisa lagi berbuah. Hutan membakar dirinya sendiri, seperti apa di jari-jemari tanganku. Bangunan juga telah membakar dirinya sendiri. Ada orang dibakar, terbakar. Ada orang diperkosa. Ada negeri diperkosa juga. Tanah diperkosa. Tita, ada orang hilang, seperti aku menculik diriku sendiri semalam. Parlemen harus dibuat. Mahasiswa menyerahkan badannya di depan tombol diktaktor. Tapi berbisik-bisik … ada orang hilang. Tema-tema pecah, seperti bayangan negeri ini. Tapi berteriak juga: ada orang hilang! Mayat yang gosong. Kepercayaan yang telah menyimpan mayat. Ada bahasa yang mengancam lehermu. Kepercayaan yang pecah. Ah, apa kabar amerika? Tanah yang pecah juga oleh kekerasan bahasa politik. Anak-anak tak bisa minum susu, tak bisa sekolah. Buku-buku mahal. Padi tak berbuah lagi. Ada gunung meletus. Rakyat harus dibuat. Demo harus dibuat. Ada tempat penyiksaan. Tulang-tulang digali dari lehermu. Pintu parlemen digergaji. Tita, ada orang hilang. Tapi ada orang pecah juga, seperti bayangan negeri ini. Ada matahari, lembut, terbuat dari daun pisang. Kemari. Dengar. Ini negeri untukmu. Jangan begitu memandangku. Aku mayat. Mayat politik. Yang pernah diculik. Di siksa. Jangan menguburku seperti itu, seperti mengubur negeri ini. Jangan. Kemari. Dengar. Ini tanganku. Masih hangat. Seperti pembalut politik yang telah menutup matamu. Kemari. Mari. Masih ada seratus tahun lagi di sini, ini, di tanah ini.
1998
Sumber: Horison (September, 2000)
Analisis Puisi:
Afrizal Malna dikenal sebagai penyair yang kerap menghadirkan realitas sosial-politik Indonesia dalam bentuk simbol-simbol yang mengejutkan dan puitis. Salah satu puisinya, “Orang Hilang Ada Orang Pecah”, merupakan representasi kuat dari tragedi kemanusiaan, kekerasan politik, dan kehancuran moral yang menimpa masyarakat. Melalui diksi yang lugas namun metaforis, Afrizal Malna mengajak pembaca untuk menyelami luka kolektif bangsa.
Tema
Tema utama puisi ini adalah tragedi kemanusiaan dan kehancuran demokrasi akibat kekerasan politik. Afrizal Malna menyoroti fenomena orang hilang, penindasan, dan kematian harapan rakyat, yang dihadirkan secara simbolis dalam fragmen-fragmen visual dan verbal yang mengejutkan.
Puisi ini bercerita tentang negeri yang dilanda kekacauan moral dan politik. Ada orang hilang, ada orang pecah, tanah yang memuntahkan tubuh, hutan membakar dirinya sendiri, dan gedung parlemen berbau mayat. Semua ini menggambarkan situasi di mana kekuasaan, lembaga negara, dan sistem demokrasi telah hancur sehingga rakyat menjadi korban. Penyair juga menyinggung figur “Tita” sebagai saksi yang mengulang-ulang “ada orang hilang”, menegaskan ingatan kolektif atas kekerasan yang sistematis.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik tajam terhadap penguasa dan sistem politik yang menindas rakyat. “Presiden harus dibuat lagi” dan “parlemen harus dibuat lagi” menjadi sindiran terhadap kekuasaan yang terus-menerus direkayasa untuk menutupi luka sosial. “Tanah yang muntah” dan “hutan membakar dirinya sendiri” melambangkan alam yang turut rusak akibat keserakahan dan kekerasan. Di balik itu, ada pesan mendalam tentang kehilangan kemanusiaan, hilangnya kepercayaan, dan kehancuran identitas bangsa akibat politik yang kejam.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini mencekam, gelap, penuh kemarahan, dan getir. Imaji tentang mayat, gedung parlemen berbau mayat, dan tanah yang memuntahkan tubuh menimbulkan nuansa traumatis. Pada saat yang sama, puisi ini juga menghadirkan rasa frustrasi dan keputusasaan, seperti jeritan korban yang tidak kunjung didengar.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa bangsa ini tidak akan pernah sembuh jika terus mengabaikan korban kekerasan, orang hilang, dan pelanggaran kemanusiaan. Puisi ini mengingatkan bahwa demokrasi yang sejati tidak dapat ditegakkan di atas penindasan, kebohongan, dan rekayasa kekuasaan. Afrizal Malna seakan berkata: jangan kubur korban seperti mengubur negeri ini. Ada seratus tahun lagi perjuangan untuk memulihkan martabat kemanusiaan.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji visual, auditori, dan perasaan yang sangat kuat:
- Imaji visual: “sepatu tentara berjatuhan dari mulutnya”, “gedung parlemen berbau mayat”, “hutan membakar dirinya sendiri”, “tanah memuntahkan tubuh”.
- Imaji auditori: “berbisik-bisik… ada orang hilang” memberikan efek suara yang menghantui.
- Imaji perasaan: rasa kehilangan, ketercekikan, dan trauma kolektif tergambar dari pengulangan “ada orang hilang”.
Imaji-imaji ini membuat pembaca seakan menyaksikan sendiri kehancuran negeri dan penderitaan rakyat.
Majas
Beberapa majas yang digunakan Afrizal Malna dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “Presiden harus dibuat lagi” menggambarkan rekayasa kekuasaan yang tak henti-henti.
- Personifikasi: “tanah memuntahkan tubuhnya kembali”, “hutan membakar dirinya sendiri” memberi sifat manusia pada alam untuk menunjukkan kemarahan dan kehancuran.
- Hiperbola: “gedung parlemen berbau mayat” untuk menggambarkan betapa busuknya moral dan politik.
- Simbolisme: “matahari terbuat dari daun pisang” melambangkan harapan palsu atau simbol kekuasaan yang rapuh.
Puisi “Orang Hilang Ada Orang Pecah” karya Afrizal Malna adalah potret getir bangsa yang diguncang tragedi kemanusiaan dan kekerasan politik. Dengan tema tentang orang hilang, imaji yang kuat, serta penggunaan majas yang tajam, puisi ini menjadi suara perlawanan dan pengingat agar sejarah kelam tidak dihapus. Afrizal Malna mengajak pembaca untuk tidak menutup mata atas penderitaan, agar kita tidak lagi menjadi “mayat politik” yang diam dalam penindasan.
Puisi: Orang Hilang Ada Orang Pecah
Karya: Afrizal Malna
Biodata Afrizal Malna:
- Afrizal Malna lahir pada tanggal 7 Juni 1957 di Jakarta.
