Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Pandanglah ke Luar Jendela (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi “Pandanglah ke Luar Jendela” karya Slamet Sukirnanto bercerita tentang seseorang yang berdiri di depan jendela, menatap malam, dan ...
Pandanglah ke Luar Jendela

Pandanglah ke luar jendela
Ke dalam malam. Terbawa pengap ke dalam
Angin betapa rendah
Meraba kelam.

Aku berdiri. terjumlah
Cuaca yang menyingkap. Memandang daratan
Lena.

        Bagaikan
Mengeja bumi. Mengeja yang jauh
Menguak tabir.

Sumber: Horison (Desember, 1973)

Analisis Puisi:

Puisi “Pandanglah ke Luar Jendela” karya Slamet Sukirnanto menghadirkan suasana renungan yang tenang sekaligus penuh misteri. Dengan gaya khasnya yang padat dan penuh makna, penyair mengajak pembaca untuk tidak hanya memandang dunia dari permukaan, melainkan menembus tabir yang menyelimuti kenyataan.

Meskipun puisi ini singkat, kekuatan puisinya terletak pada imaji dan simbolisme yang mengandung refleksi eksistensial: tentang manusia, kesadaran, dan upaya memahami dunia yang tampak gelap.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perenungan dan pencarian makna kehidupan melalui pandangan batin. Melalui ajakan sederhana “Pandanglah ke luar jendela”, penyair tidak hanya mengajak pembaca untuk melihat dunia luar secara fisik, tetapi juga menatap “malam” sebagai simbol kekosongan, misteri, dan sisi gelap kehidupan.

Tema ini menggambarkan usaha manusia untuk memahami realitas, menembus batas antara yang tampak dan yang tersembunyi. Dengan memandang ke luar, seseorang justru diajak untuk melihat ke dalam dirinya sendiri — memahami batin yang sering tertutup oleh rutinitas dan kesunyian.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berdiri di depan jendela, menatap malam, dan merenungkan dunia di luar dirinya. Adegan sederhana itu berkembang menjadi pengalaman batin yang dalam. Ketika penyair menulis, “Pandanglah ke luar jendela / Ke dalam malam. Terbawa pengap ke dalam”, kita seolah diajak ikut menghirup suasana hening yang sarat kesadaran. Malam menjadi ruang refleksi, tempat segala hal yang tersembunyi mulai terungkap.

Larik “Aku berdiri. terjumlah / Cuaca yang menyingkap” bisa dimaknai sebagai kesadaran diri bahwa manusia adalah bagian dari semesta—terhitung dalam ritme alam, menjadi bagian dari “cuaca” yang berubah dan menyingkap waktu.

Dan ketika puisi menutup dengan kalimat “Bagaikan / Mengeja bumi. Mengeja yang jauh / Menguak tabir”, pembaca diajak melihat bahwa tindakan “memandang keluar jendela” bukan lagi sekadar aktivitas visual, tetapi perjalanan spiritual. Melalui pengamatan yang sederhana, penyair mencoba memahami rahasia kehidupan, atau “menguak tabir” yang menutupi kebenaran.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan kesadaran eksistensial dan introspeksi diri. Jendela dalam puisi ini bukan hanya batas antara ruang dalam dan luar, tetapi simbol pandangan manusia terhadap dunia. Ketika seseorang menatap ke luar jendela, ia sebenarnya sedang mencoba memahami makna keberadaannya di tengah realitas yang sering gelap dan membingungkan.

“Malam” melambangkan ketidakpastian hidup, kesunyian, dan hal-hal yang tidak mudah dijelaskan. Namun justru dari kegelapan itulah seseorang dapat menemukan pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia.

Selain itu, larik “Mengeja bumi. Mengeja yang jauh” menyiratkan proses pencarian makna secara perlahan dan sabar—seperti anak kecil yang belajar membaca huruf demi huruf. Ini menunjukkan bahwa memahami kehidupan tidak terjadi seketika, melainkan melalui perjalanan panjang penuh perenungan.

Makna tersirat lainnya adalah kesadaran akan keterbatasan manusia. Dengan “menguak tabir”, penyair menyadari bahwa banyak hal di dunia ini yang tak sepenuhnya bisa dimengerti, tetapi tetap layak untuk direnungkan. Puisi ini menjadi simbol usaha memahami misteri semesta melalui kesunyian dan keheningan pribadi.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hening, reflektif, dan penuh keteduhan batin. Puisi dibuka dengan nada sunyi: “Pandanglah ke luar jendela / Ke dalam malam.” Kalimat itu membangun suasana sepi dan kontemplatif, seolah dunia berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi pikiran dan perasaan.

Suasana menjadi semakin tenang dan dalam ketika muncul larik-larik seperti “Aku berdiri. terjumlah / Cuaca yang menyingkap.” Pembaca dapat merasakan atmosfer meditatif, di mana segala sesuatu tampak bergerak lambat, menyatu dengan keheningan alam malam.

Meski hening, suasana puisi ini bukanlah keputusasaan, melainkan ketenangan spiritual—sebuah momen di mana seseorang menyadari keberadaannya di tengah misteri kehidupan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya merenung dan menyadari keberadaan diri di tengah dunia yang luas dan penuh misteri. Slamet Sukirnanto ingin mengajak pembaca untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan melihat dunia dengan mata batin. Dengan memandang ke luar jendela, kita sebenarnya diajak untuk memandang ke dalam hati — untuk menemukan keseimbangan antara dunia luar dan dunia dalam.

Puisi ini juga mengandung pesan bahwa pengetahuan sejati tidak hanya lahir dari logika dan pengamatan kasatmata, tetapi juga dari perenungan dan kesadaran yang mendalam. “Menguak tabir” menjadi simbol keberanian manusia dalam mencari kebenaran di tengah kegelapan dan kesunyian.

Dalam konteks yang lebih luas, amanat puisi ini dapat dimaknai sebagai ajakan untuk berdamai dengan alam dan kehidupan, menyadari bahwa setiap makhluk dan peristiwa memiliki tempatnya masing-masing dalam lingkaran semesta.

Imaji

Puisi ini sarat dengan imaji visual dan imaji perasaan yang memperkuat suasana kontemplatifnya.
  • Imaji visual muncul sejak awal pada larik “Pandanglah ke luar jendela / Ke dalam malam” — pembaca dapat membayangkan sosok yang berdiri di jendela, menatap langit gelap, mungkin dengan cahaya bulan yang samar.
  • Imaji alam juga hadir dalam “Angin betapa rendah / Meraba kelam”, menggambarkan sentuhan lembut udara malam yang menambah kesan tenang sekaligus muram.
  • Imaji perasaan muncul dalam “Aku berdiri. terjumlah / Cuaca yang menyingkap”, menggambarkan kesadaran diri manusia sebagai bagian kecil dari keseluruhan semesta.
Setiap citraan yang digunakan Slamet Sukirnanto menimbulkan rasa hening, sepi, dan sekaligus penuh makna, membuat pembaca larut dalam pengalaman batin tokoh lirik.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Majas personifikasi – “Angin betapa rendah / Meraba kelam” menggambarkan angin seolah memiliki tangan yang dapat menyentuh kegelapan. Ini menambah nuansa lembut dan hidup pada imaji malam.
  • Majas metafora – “Pandanglah ke luar jendela” dan “Menguak tabir” merupakan metafora bagi pencarian makna hidup dan penyingkapan rahasia eksistensi.
  • Majas simbolik – “Jendela” sebagai simbol pandangan batin, “malam” sebagai simbol ketidakpastian atau misteri hidup, dan “tabir” sebagai simbol batas antara pengetahuan manusia dan rahasia alam semesta.
  • Majas repetisi – penggunaan kata “mengeja” yang diulang dua kali dalam larik terakhir menegaskan proses bertahap dalam memahami kehidupan.
Majas-majas ini membuat puisi tampak sederhana namun sarat lapisan makna, seperti meditasi dalam bentuk bahasa.

Puisi “Pandanglah ke Luar Jendela” karya Slamet Sukirnanto adalah karya yang sarat refleksi dan kesadaran spiritual. Dengan bahasa yang lembut dan imaji yang tenang, penyair mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, memandang dunia dengan penuh makna, dan belajar mengenali diri di tengah sunyi malam.

Tema pencarian makna hidup dan refleksi batin menjadi inti dari puisi ini. Melalui simbol “jendela”, “malam”, dan “tabir”, penyair menekankan bahwa kehidupan bukan sekadar apa yang tampak di luar, tetapi juga apa yang dirasakan di dalam.

Puisi ini memberi pelajaran bahwa memandang dunia berarti juga memandang ke dalam diri sendiri — sebab sering kali, kegelapan di luar hanyalah cerminan dari cahaya yang sedang kita cari di dalam hati.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Pandanglah ke Luar Jendela
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.