Puisi: Pensil (Karya Emi Fauziati)

Puisi “Pensil” karya Emi Fauziati mengajarkan bahwa pensil bukan sekadar alat tulis, tetapi sarana untuk menumbuhkan kemandirian, kreativitas, dan ...

Pensil


Ujung runcingmu
Mengalahkan ingatku
Ujung runcingmu
Menuntun jemariku

Satu per satu
Lembar per lembar
Penuh tarianmu

Menyadarkan untuk
Tidak saling tergantung
Pada bunda tersayang

Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi “Pensil” karya Emi Fauziati merupakan puisi anak yang sederhana namun sarat makna. Dalam buku Surat dari Samudra, puisi ini menonjol karena menggunakan benda sehari-hari—pensil—sebagai simbol pengalaman belajar, kreativitas, dan kemandirian anak-anak. Melalui bahasa yang singkat dan ritmis, penyair berhasil menyampaikan hubungan antara alat tulis, tangan anak, dan proses belajar yang mandiri.

Tema

Tema puisi ini adalah belajar, kreativitas, dan kemandirian anak. Pensil menjadi metafora bagi alat yang menuntun anak dalam mengekspresikan diri, menulis, dan membaca, sekaligus mengajarkan anak untuk mulai mandiri dalam belajar tanpa selalu bergantung pada orang tua.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman anak-anak menggunakan pensil untuk menulis dan belajar. Bait awal menekankan peran ujung pensil yang runcing sebagai pengarah jemari, membantu anak menyalurkan ide dan imajinasi mereka ke atas kertas.

Bait kedua menggambarkan lembar demi lembar yang tertulis, seolah menari di bawah arahan pensil, menandakan kreativitas yang berkembang secara bertahap. Puisi ini kemudian menekankan pentingnya kemandirian: anak belajar untuk tidak selalu tergantung pada bunda atau orang tua, tetapi mulai mengambil peran aktif dalam proses belajar dan mengekspresikan diri.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa alat sederhana seperti pensil memiliki peran penting dalam membentuk kemandirian, kreativitas, dan kemampuan berpikir anak. Anak-anak belajar untuk fokus, mengembangkan imajinasi, dan menyadari bahwa mereka mampu melakukan hal-hal sendiri tanpa selalu bergantung pada orang dewasa.

Selain itu, pensil juga menjadi simbol bahwa proses belajar adalah perjalanan yang berkesinambungan, di mana anak-anak membangun kemampuan dan pengalaman langkah demi langkah.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa tenang, fokus, dan reflektif. Aktivitas menulis yang diarahkan pensil memberikan kesan konsentrasi dan ketelitian, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri. Bait-bait yang singkat dan ritmis menimbulkan aliran yang lembut, menekankan proses belajar yang menyenangkan dan penuh rasa ingin tahu.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah bahwa anak-anak perlu belajar mandiri dan menghargai proses kreatif mereka sendiri. Puisi ini mendorong anak untuk:
  • Mengembangkan kemandirian dalam belajar.
  • Menyadari peran penting alat tulis sebagai sarana mengekspresikan ide.
  • Menghargai proses bertahap dalam belajar, dari lembar per lembar.
Pesan ini juga menekankan bahwa pembelajaran bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga proses dan pengalaman yang menyertainya.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji visual dan gerak:
  • “Ujung runcingmu / Menuntun jemariku” → imaji gerak yang menampilkan tangan anak bergerak mengikuti pensil di atas kertas.
  • “Satu per satu / Lembar per lembar / Penuh tarianmu” → imaji visual dan gerak yang menunjukkan aliran tulisan yang lincah dan kreatif.
Imaji ini membantu anak-anak merasakan proses menulis dan belajar secara nyata, sehingga puisi terasa hidup dan dekat dengan pengalaman sehari-hari mereka.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Majas personifikasi, pada pensil yang seolah “menuntun” jemari anak.
  • Majas metafora, di mana pensil menjadi simbol kemandirian, kreativitas, dan proses belajar anak.
  • Majas repetisi, pada pengulangan kata “ujung runcingmu”, yang menekankan peran pensil sebagai alat penting dalam menulis.
Puisi “Pensil” karya Emi Fauziati adalah puisi anak yang sederhana namun penuh makna edukatif. Puisi ini mengajarkan bahwa pensil bukan sekadar alat tulis, tetapi sarana untuk menumbuhkan kemandirian, kreativitas, dan kemampuan mengekspresikan diri anak-anak.

Dengan bahasa yang singkat dan ritmis, imaji yang jelas, dan suasana yang tenang, puisi ini mampu menanamkan nilai positif: menghargai proses belajar, percaya pada kemampuan diri, dan menikmati perjalanan kreatif lembar demi lembar. Puisi ini menunjukkan bahwa pengalaman belajar sehari-hari bisa menjadi sumber inspirasi dan refleksi bagi anak-anak, sekaligus mendorong mereka untuk mulai mandiri sejak dini.

Emi Fauziati
Puisi: Pensil
Karya: Emi Fauziati

Biodata Emi Fauziati:
  • Dra. Hj. Emi Fauziati, lahir pada tanggal 10 Januari 1968 di Brebes.
  • Emi adalah penerima penghargaan lomba Karya Tulis Peningkatan IMTAQ Siswa tahun 2007 dan pemenang lomba penulis artikel Anti Hoax yang diselenggarakan oleh PGRI Jawa Tengah tahun 2017.
  • Selain itu, ia penulis novel Relung Kehidupan (2018) dan ikut menyumbangkan puisi ke dalam Antologi Puisi Guru (2018).
© Sepenuhnya. All rights reserved.